Kritik

Lamar Kerja Malah Dijebak untuk Setorkan Duit

Ilustrasi: Pemandangan dari Kapal Menuju Merak

Seorang kawan mengeluhkan pengalamannya saat menghadiri wawancara kerja di salah satu perusahaan asuransi ternama. Ia berkisah secara singkat di media sosial pribadinya ihwal oknum di perusahaan tersebut yang seakan "memaksa" dia untuk mendaftarkan diri dalam asuransinya. Padahal ia sudah diingatkan bahwa tahapan seleksi masih belum selesai.

Alhasil ia pun curiga, saat saya konfirmasi ia mengatakan tak jadi mengambil pekerjaan itu. Alasannya masuk akal, dari pada mengambil risiko untuk daftar asuransi sementara ia belum tentu lolos, masih mending mengundurkan diri dari seleksi tersebut. Pilihan yang tepat saya bilang dalam hati.

Di negeri ini bagi sebagian besar orang cari kerja memang susah. Lain halnya bagi mereka yang telah memiliki skill mumpuni dan banyak dibutuhkan serta mereka yang memiliki privilege, mencari kerja bak mengendarai mobil di jalan tol saat week day, lancar jaya.

Saya secara pribadi pernah merasakan pergulatan ini. Setiap malam menyisir Instagram demi mencari posisi yang cocok untuk memulai pembelajaran hidup yang baru.

Suatu ketika diundang dalam sebuah tes di sebuah perusahaan yang saya seumur hidup baru mendengarnya. Posisi yang ditawarkan sebagai admin. Tak jelas admin untuk apa.

Merasa hal itu sebagai peluang, tak butuh pikir panjang saya niatkan tes ke lokasi yang dijelaskan dalam undangannya. Saya awalnya heran bagaimana bisa lokasi tes perusahaan ada di dalam perumahan.

Dalam hati sudah curiga, mana ada perusahaan berada dalam sebuah perumahan. Tapi di jalan saya tepis pikiran kecurigaan itu.

Benar saja, sampai di lokasi tes yang merupakan rumah di ujung gang perumahan paling belakang sehingga terkesan menyembunyikan diri. Entah perusahaan macam apa yang menjadikan rumah di pojok perumahan sebagai tempat untuk menjalankan usahanya.

Saat di perjalanan saya kira rumahnya bakal sepi, tapi sebaliknya ratusan orang terlihat memadati lokasi itu. Sebagian besar dari mereka muda-mudi yang mengenakan pakaian cukup rapi khas pelamar kerja, yakni atasan putih dan bawahan hitam.

Di sana mereka berdesakkan untuk mengambil formulir pendaftaran yang disediakan oleh petugas jaga. Kecurigaan saya makin terasa atas berbagai kejanggalan ini.

Tapi karena sudah kepalang basah karena telah jauh-jauh tiba di sana, saya pun ikut mengisi formulir yang disediakan. Tak perlu waktu lama, saya telah mengisi formulir secara serampangan. Saya pikir tak ada gunanya menyerahkan data pribadi bagi mereka.

Formulir pun saya berikan ke petugas dan tiba-tiba si petugas bilang, "Biaya pendaftarannya 150 ribu." Akhirnya kecurigaan pun terjawab juga, saya pura-pura tak paham dan menanyakan untuk apa biaya tersebut.

Petugas jaga yang berpenampilan cukup rapi dan gaya rambut yang klimis dengan nada judes bilang kalau itu formulir pendaftaran yayasan. Alhasil saya dibuat heran, saya pun tanyakan, bukankah para peserta datang karena undangan interview bukan diminta daftar yayasan.

Tak mau kalah, petugas pun menjelaskan bahwa memang akan ada tes dan wawancara, namun mesti mendaftar dulu. Akhirnya saya naik pitam dengan nada yang cukup tinggi saya tanya mereka siapa yang mengirimkan pesan undangan tes dan wawancara ke HP jadul alias jaman dulu saya. Mereka kebingungan dan tak lama menjawab bahwa itu staf yang kebetulan sedang tidak berada di situ.

Saya pun tunjukkan layar HP ke mereka dengan mempertegas bahwa di dalam pesan SMS tak menyebut akan ditarik biaya untuk tes. Saya juga bilang bahwa selama saya interview di tempat lain tak ada yang pernah menarik biaya buat tes kerja.

Namanya orang "goblok", bukannya merasa bersalah mereka malah ngotot bahwa hal itu praktik yang biasa bagi orang mencari kerja. Memang saya akui, berhubung daerah itu merupakan kawasan industri maka praktik semacam ini lazim ditemui di sana.

Keyakinan saya semakin diperkukuh saat menyaksikan tak ada satupun para calon peserta yang hadir turut memprotes. Luar biasa, saya bilang dalam hati. Ini pukulan telak bagi nalar waras saya, ucap lagi dalam hati.

Bagaimana tidak, saat itu posisi yang ada memang diperuntukkan bagi lulusan D3 atau S1, bukan untuk anak SMA atau SMK. Otomatis mereka yang hadir di sana, yang jumlahnya mencapai ratusan orang itu sudah pasti tamatan D3 ataupun S1.

Namun lulusan perguruan tinggi diperlakukan seperti itu justru diam membeku. Tak ada satupun yang memprotes. Justru banyak diantara mereka yang malah menuruti petugas untuk membayarkan sejumlah uang tersebut. Luar biasa memang hasil cetakan perguruan tinggi di Indonesia.

Terendus Penipuan

Bukan tanpa alasan saya merasa gusar di hadapan para petugas tersebut. Saya dari awal datang ke lokasi yang katanya tempat tes sudah mengendus bau anyir penipuan. Pasalnya dalam undangan ataupun lamaran yang diumumkan sama sekali tak menyebutkan bahwa itu sebuah yayasan.

Mestinya jika memang tak berniat mengecoh, pihak yayasan secara jelas menyebutkan bahwa lamaran ditujukan ke yayasan yang telah bekerja sama dengan perusahaan dimaksud. Itu malah tidak, seakan-akan kita langsung melamar ke perusahaan yang dituju.

Begitu pun saat undangan tes dan wawancara, tak ada sama sekali peringatan yang menyebutkan bahwa tes dan wawancara itu dilakukan oleh yayasan. Kurang ajar bukan?

Mengapa informasi kecil seperti itu penting? Karena guna menunjukkan bahwa mereka atau pihak yayasan mewakili perusahaan untuk meng-hiring pekerja. Hal ini juga penting supaya mereka yang tak berminat melamar melalui yayasan bisa segera mundur dan tak perlu menghabiskan waktu, energi, dan dana pada hal yang tak diminati.

Itu jika pihak yayasan tak berniat mengecoh para calon peserta seleksi. Dengan tidak memberitahukan seperti itu, maka jelas mereka berniat menipu.

Pihak yayasan juga sengaja tak mengumumkan lowongan pekerjaan via daring ataupun selebaran yang memuat alamat email mereka. Lantaran bagi mereka yang teliti alamat email yang tak sesuai dengan nama perusahaan (apalagi pakai Gmail) sudah barang tentu urung melamarnya.

Maka untuk mengelabui hal ini, yayasan membuka stand pada acara "Job Fair". Nah ini yang mesti dipertanyakan, kok bisa panitia meloloskan yayasan dalam acara job fair. Artinya yayasan tak melakukan aksinya sendiri, tapi dibantu melalui acara job fair fiktif.

Lanjut cerita, karena perdebatan saya dengan petugas menemui titik buntu, maka saya minta untuk dipertemukan dengan pimpinan mereka. Bos mereka memperkenankan dan dimintalah saya masuk menuju ruangannya.

Tanpa ba bi bu saya langsung utarakan maksud keinginan menemui dia. Di sana saya bilang bukan dengan cara kaya gini anda mengundang para peserta. Saya tidak tahu apakah anda benar-benar bekerja sama dengan perusahaan dimaksud, tapi paling tidak anda jelaskan bahwa itu yayasan dan dipungut biaya tes.

Tak ada rasa sopan atau hormat saya tunjukkan ke dia. Supaya dia paham bahwa anda tak layak mendapatkan itu dari saya.

Dia menimpali bahwa itu hal yang wajar. Dan saya langsung bilang, kalau hal yang wajar anda bayangkan kalau anak anda diperlakukan seperti itu, dia diam. Dan terakhir saya tanya dengan angkuh, siapa nama anda? Dia jawab… dan saya segera meninggalkan tempat itu.

Sementara di luar masih banyak anak-anak yang mengisi form registrasi. Sungguh menyedihkan pendidikan kita, ucap saya dalam hati. 
 

About Yopi Makdori

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.