Gagasan

Pelajaran dari Penjajahan Bukan Hilangnya Persatuan, Tapi Kanker yang Menyerupai Daging


Ilustrasi: Wikimedia Commons

Ketidakkompakan bangsa Indonesia menjadi mantra ampuh para guru Sejarah di kelas untuk menjelaskan alasan bangsa Indonesia bisa terjerumus dalam penjajahan. Pernyataan para guru Sejarah tak ada salahnya, namun bagi kacamata saya hal itu kurang lengkap.


Ada faktor dominan yang tetap relevan sampai kapan pun sebagai alasan sebuah kaum dapat terjajah. Adalah kanker di tubuh kaum itu sendiri. Kanker ini menyerupai daging yang kaum itu sendiri lambat menyadarinya, atau bahkan tak teridentifikasi sama sekali.


Adalah para pengkhianat, sebuah sel kanker yang sebetulnya berasal dari daging namun memilih untuk melawan daging itu sendiri. Para pengkhianat ini berasal dari darah yang sama, berpakaian dengan cara yang sama, bahkan bicara dengan bahasa-bahasa yang sama, namun niatnya bagaikan serigala yang mencoba menerkam mangsa.


Mereka kerap ditemui pada bangsa-bangsa terjajah. Faktor ekonomi dan kuasa tentu menjadi pendorong lahirnya tindakan mereka. Melacurkan diri bagi penjajahan adalah kehormatan bagi mereka.


Jepang menjadi satu dari sekian aktor yang memanfaatkan mereka. Kita semua tahu persis bahwa Indonesia pernah mengalami deraan penjajahan dari Negeri Matahari Terbit itu. Usai Belanda menyerah tanpa syarat, Kekaisaran Jepang mengambil alih kekuasaan di wilayah yang kita kenal saat ini sebagai Indonesia.


Di Indramayu, Jawa Barat, Jepang yang pada awalnya datang dengan "iklan" untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan itu menggunakan oknum kiai untuk mematahkan segala gerakan perlawanan rakyat Indramayu. Eddie Soekardi, mantan tentara Republik Indonesia dalam sebuah wawancara di Bandung, 7 September 2005, menggambarkan Jepang sebagai aktor yang licik.


Eddie mengatakan, mula-mula mereka dianggap pahlawan oleh pribumi karena bisa mengusir Belanda. Lambat laun mendekati para kiai dan mengangkat para tokoh republik sebagai juru bicara program-program pemerintah Jepang, dari Romusha (Kerja paksa), wajib militer, Momy Kyoosyuto (serah padi). 


"Rakyat tertipu dengan kebaikan Jepang, namun lambat laun tersadarkan oleh rasa senasib sebagai manusia terjajah, adanya penindasan, kelaparan, pemerkosaan (budak seks), dan kekerasan yang tak kunjung henti. Hal ini berdampak pada perlawanan rakyat. Termasuk di Indramayu yang menentang pengumpulan padi secara paksa oleh pihak Jepang," kata Eddie dalam Protes Sosial Petani Indramayu Masa Pendudukan Jepang (1942-1945) oleh Wahyu Iryana.


Praktik ini dibuktikan pada Maret 1944. Di mana saat itu terjadi protes petani di Desa Kaplongan, Karangampel karena permasalahan wajib serah padi kepada Jepang. Wahyu Iryana mengisahkan, tentara Jepang yang bermarkas di Cirebon ketika mendengar kabar tersebut langsung datang dengan satu kompi truk melalui Desa Kedungbunder, ditambah satu truk polisi bersenjata lengkap menuju Desa Kaplongan.


Diceritakan bahwa Desa Kaplongan sudah memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi. Semalaman tidak ada yang tidur, kaum perempuan dan anak-anak mereka diungsikan ke tempat yang lebih aman. Pemuda-pemuda digerakkan untuk menggali jalan satu-satunya yang menghubungkan Desa Kaplongan dengan Karangampel dan Desa Kedokanbunder. Semua pohon besar mereka tebang dan dibentangkan di tengah jalan sebagai perintang.


Mereka beramai-ramai pergi ke rumah Kiai Sulaiman di Desa Srengseng [terletak di selatan Desa Kaplongan, termasuk Wilayah Kecamatan Kerangkeng]. Kiai Sulaiman dianggap masyarakat sebagai orang sakti, untuk meminta doa serta jimat kekebalan. 


Pendek kata mereka sudah bertekad bulat untuk berjihad fisabilillah melawan orang yang dianggap mereka kafir (Jepang) yang mau merampas harta milik masyarakat Desa Kaplongan. Malahan iman mereka pun hendak dirampas pula, karena mereka disuruh bersujud ke arah kiblat yang berlawanan dengan arah kiblat umat Islam.


Pagi-pagi buta dari jauh terdengar suara deru truk yang kian lama kian mendekati Desa

Kaplongan. Masyarakat Desa Kaplongan segera bersiap dengan segala macam

senjata yang ada seperti bambu runcing, golok, tombak dan keris, yang masing-masing sudah diberi jampi oleh Kiai Sulaiman.


Hingga pada suatu titik suara truk tidak terdengar lagi, tanda truk itu telah berhenti dan pasukan musuh telah turun dari truk, karena tidak bisa melalui jalan yang digali. Mereka bersiap-siap sambil menyerukan takbir tiga kali, menantikan segala kemungkinan yang terjadi.


Saat itu suasana begitu sepi, namun kesunyian itu dipecahkan oleh suara letusan senapan mesin yang tak kunjung berhenti yang memuntahkan pelurunya. Rakyat Desa Kaplongan sendiri menyadari hal itu. Tak lama pertempuran yang tidak seimbang segera terjadi, banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak.



Kemudian di bulan selanjutnya, 3 April 1944 Camat Karangampel, Majanidasastra mendatangi Desa Kaplongan untuk untuk merampas padi milik Haji Aksan yang tidak mau mengindahkan perintah pamong desanya. Berhubung Haji Aksan tetap saja menolak perintah menyerahkan padinya, Camat Karangampel memerintahkan polisi untuk menangkapnya.


Haji Aksan diambil dari rumahnya oleh polisi untuk selanjutnya dibawa ke Balai desa di mana Majanidasastra sudah menunggu. Akan tetapi rakyat Desa Kaplongan yang melihat pemimpinnya ditangkap, dengan spontan berteriak-teriak, ”jangan tangkap dia, dia orang baik, dia tidak bersalah.”


Mendengar teriakan rakyat, polisi yang membawa Haji Aksan segera melepaskan tembakan peringatan. Akan hal itu membuat rakyat menjadi gelap mata, rakyat Desa Kaplongan pun pergi berbondong-bondong ke balai desa. 


Suasana di balai desa menjadi panik seketika. Dalam suasana yang gawat seperti itu, Majanidasastra masih sempat menghamburkan kata-kata menghasut yang makin menambah meluapnya amarah masyarakat Desa Kaplongan. Rakyat langsung berhambur memenuhi balai desa, polisi mengeluarkan pistolnya, susana menjadi ricuh. 


Manakala rakyat tahu bahwa peluru yang ada di polisi sudah habis, semua langsung menyerbu. Polisi menjadi panik karena keadaan begitu benar-benar membahayakan. Aparat polisi segera melarikan diri dari balai desa. Pak Camat sangat ketakutan, setelah tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat dalam menghadapi kemarahan rakyat Desa Kaplongan, Majanidasastra pun hendak lari menuju warung Pak Dasman, yang letaknya tidak jauh dari balai desa. Tiba-tiba sepotong batu bata tepat mengenai kepala Pak Camat. Pak Camat langsung pingsan. Untung saja rakyat masih menghargai H. Aksan agar jangan sampai membunuh dan mengeroyok Camat, sebab kalau tidak nyawa Pak Camat tidak akan tertolong.



Aparat Polisi yang melarikan diri, tetap tidak bisa melepaskan diri dari kepungan rakyat banyak, dihujani lemparan batu sehingga terjatuh dan pingsan. Rakyat sudah merasa aman ketika pak Haji Aksan sudah terlepas dari cengkeraman polisi, sehingga tidak jadi dibawa ke pendopo Indramayu.


Para korban yang kebanyakan polisi dibiarkan berguling di tanah, rakyat Desa Kaplongan segera bubar. Kemudian sore harinya, para korban pelemparan batu oleh masa Desa Kaplongan akhirnya dibawa ke Karangampel. Dari pihak polisi hanya tiga orang luka-luka sedangkan dari pihak rakyat Desa Kaplongan ada empat orang yang meninggal akibat ditembak aparat. Mereka adalah: 1. Abu Hasan, 2. Tobur, 3. Abdul Kadir, 4. Khozin.


Pertempuran berlangsung kurang lebih dua jam, sebuah truk Jepang dihancurkan rakyat. Tentara Jepang mengundurkan diri ke Karangampel, dengan tujuan menghindari bentrok fisik yang kedua kalinya sehingga korban tidak banyak berjatuhan. Untuk membuat keadaan aman kembali Jepang mendatangkan Kiai Abbas dari Pesantren Buntet Cirebon dan Kiai Idris dari Karangampel dengan maksud meminta perundingan dengan rakyat.


Rombongan Kiai dikawal oleh tentara Jepang dan aparat polisi dengan membawa bendera putih, sebagai tanda meminta berdamai dan berunding. Rakyat Desa Kaplongan menerima kedua tokoh kiai itu dengan rasa curiga, namun atas rasa takzim rakyat Desa Kaplongan menaruh hormat kepada para tokoh kiai yang dibawa Jepang tersebut. Kemudian semuanya berkumpul di balai desa.


Awal Jebakan Maut


Kiai Abbas menjelaskan, bala tentara Nippon meminta berunding dan perundingan itu akan dilaksanakan di Karangampel (Kecamatan Kaplongan). Rakyat Desa Kaplongan bersedia mengirim wakilnya untuk berunding di Karangampel, akan tetapi rakyat Desa Kaplongan mengajukan syarat, bahwa selama para pemimpin mereka melakukan perundingan di Karangampel, kedua tokoh ulama yang dibawa Jepang harus ditinggal di Kaplongan sebagai sandera. 


Akan tetapi persoalan tidak selesai sampai itu saja, karena para tentara Jepang mengirim

intelijennya ke Desa Kaplongan untuk menyelidiki siapa saja para pelaku pemberontakan. Sederetan nama-nama tokoh penting di Desa Kaplongan telah masuk daftar hitam tentara Jepang. Setelah keadaan tenang satu demi satu para pemimpin pemberontakan ditangkap tanpa sepengetahuan rakyat Desa Kaplongan. Mula-mula Kiai Sidik ditangkap, kemu-

dian menyusul:


1. H. Ali

2. H. Aksan

3. H. Abdul Gani

4. H. Maksum

5. H. Hanan

6. H. Nurjaman

7. H. Zakaria

8. Sutawijaja

9. Ki Pinah

10. Ki Karsa.


Para pemimpin pemberontakan dibawa ke Karangampel untuk kemudian dilanjutkan ke Pendopo

Indramayu. Kemudian tiba giliran Kiai Sulaiman yang telah lanjut usia ditangkap pula oleh Jepang dan beliau dibawa ke Residen Cirebon. Sebagian di eksekusi mati, sebagian lagi dibebaskan kembali.


Cuplikan sejarah di atas memberikan kita peta yang menunjukkan bahwa dalam bentangan sejarah pihak-pihak “OPRESOR” kerap menggunakan tokoh-tokoh di masyarakat untuk melancarkan agendanya. Para tokoh ini tak mau ambil pusing dengan keberpihakannya, mereka hanya peduli akan kesenangan dan perutnya.


About Yopi Makdori

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.