Tampilkan postingan dengan label Grenthink Views. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Grenthink Views. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Desember 2022

Mendandani Ganja Bak Malaikat

 


Ilustrasi: Pixabay.com

 

 

Semasa SMA kami memperhatikan sejumlah forum di internet yang sudah dalam kader “overdosis” untuk mendandani “ganja” sebagai obat dari segala penyakit.  Mantra itu ternyata bukan hanya dipakai tukang obat pinggir jalan, tapi juga anak muda yang belaga ilmiah.

 

Sebuah studi yang terbit dalam American Journal of Health Promotion mengungkap, mereka yang kelewat proganja memiliki pandangan berlebihan terhadap manfaat medis tanaman haram tersebut.

 

Studi yang bertajuk “Cannabis Enthusiasts’ Knowledge of Medical Treatment Effectiveness and Increased Risks From Cannabis Use” itu, berangkat dari survei terhadap pengunjung Ann Arbor Hash Bash, yakni sebuah festival ganja tahunan di Amerika Serikat.

 

Studi yang dilakukan para peneliti dari University of Buffalo, AS tersebut meminta sekitar 500 pengunjung acara untuk menjawab kuis yang menguji wawasan mereka tentang ganja. Isi pertanyaan berkutat mengenai dari mana mendapatkan informasi manfaat ganja, serta penyakit apa saja yang bisa disembuhkan ganja.

 

Hasilnya mayoritas responden percaya bahwa ganja dapat menyembuhkan epilepsi, depresi, bahkan sampai beberapa jenis kanker. Namun anggapan para proganja ini ditentang National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine (NASEM) AS. NASEM menyebut pandangan itu belum teruji secara ilmiah.

 

Mendandani ganja sebagai substansi yang penuh dengan manfaat juga ramai ditulis media Tanah Air. Arahnya beraroma semangat untuk membumikan ganja guna penggunaan medis. Layaknya cara kerja propaganda, mereka selalu menjinjing citra “penderitaan” guna memantik empati di tengah khalayak.

 

Kita masih ingat betul bagaimana perjuangan  Santi Warastuti, seorang ibu asal Yogyakarta yang sempat menuntut Mahkamah Konstitusi (MK) mengizinkan penggunaan ganja demi keperluan medis. Upaya itu ditempuh lewat gugatan formal ke MK untuk menghapus pasal larangan penggunaan narkotika golongan I. Ketentuan itu termaktub dalam pasal 6 ayat (1) dan pasal 8 ayat (1) UU Narkotika.

 

Santi begitu ambisius membongkar ketentuan dalam UU Narkotika tersebut demi pengobatan anaknya. Putri Santi bernama Pika, menderita cerebral palsy, kelainan yang menyebabkan gangguan pada otot, gerak, dan koordinasi tubuh. Penggunaan terapi ganja disebut dapat meredakan gejala kelainan yang dialami Pika.

 

Namun perjuangan Santi dipatahkan oleh putusan MK yang kukuh untuk tidak mengizinkan penggunaan narkotika golongan-1, termasuk ganja, meski untuk alasan medis.

 

Narasi khasiat ganja untuk pengobatan pasien cerebral palsy terlacak dari studi para ilmuwan di Wolfson Medical Center, Israel pada 2017 silam. Mereka mengklaim bahwa ganja medis secara signifikan memperbaiki kondisi anak-anak yang menderita kelumpuhan otak atau cerebral palsy.

 

Mereka menekankan bahwa berdasarkan “temuan sementara” pengobatan dengan minyak ganja mengurangi gejala gangguan dan meningkatkan keterampilan motorik anak-anak penderita cerebral palsy. Di samping pula meningkatkan kualitas tidur, buang air besar, dan suasana hati mereka secara umum.

 

Studi yang melibatkan 40 anak itu dilakukan bersama perusahaan ganja medis Tikun Olam selama tiga tahun.  Namun para peneliti menekankan, minyak ganja tidak diharapkan untuk menggantikan obat lain yang dikonsumsi anak-anak tersebut. Salah seorang peneliti di sana, Lihi Bar-Lev, menjelaskan bahwa pengobatan ganja tidak bisa digunakan sebagai satu-satunya pengobatan.

 

Salah seorang profesor Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sempat merespons mengenai isu legalisasi ganja medis ini. Prof. Dr. dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD, KHOM, yang juga Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi-Onkologi (Kanker) dari Pengurus Besar IDI pada Juni lalu, pernah menyatakan bahwa belum ada bukti obat ganja lebih baik ketimbang obat yang ada saat ini.

 

Termasuk untuk pengobatan nyeri kanker dan epilepsi. Namun, menurut  Prof. Zubairi ganja medis bisa menjadi pilihan atau alternatif, tapi bukan yang terbaik. Sebab, hingga detik ini belum ada penyakit yang ampuh ditangkal ganja.

 

Ketimbang menuntut legalisasi ganja medis, Prof. Zubairi meminta Santi untuk bertemu dengan para ahli agar bisa menimbang berbagai opsi pengobatan. Terlebih lagi, menurut Prof. Zubairi penggunaan ganja bagi penderita cerebral palsy manfaatnya masih rendah.

 

Sebagai rakyat awam, saat itu kami memang merasa sedikit janggal melihat seorang ibu memperjuangkan legalisasi ganja medis. Mengingat temuan ilmiah manfaat ganja bagi pasien cerebral palsy masih belum kukuh.

 

Dalam benak kami, ketika banyak opsi pengobatan lain, mengapa yang dituntut malah legalisasi ganja medis. Jika pun pengobatan itu terkendala pada “keuangan,” mengapa yang dituntut bukan hal yang memiliki manfaat lebih luas. Misalnya kesehatan gratis bagi seluruh rakyat. Atau tidak perlu muluk-muluk, mengapa tidak menuntut pengobatan penuh secara cuma-cuma untuk Pika.

 

Kemasan cerita menyentuh dari seorang ibu yang mempunyai anak dengan cerebral palsy, tentu membangkitkan empati publik. Ketika ibu itu mengalasi perjuangannya untuk melegalisasi ganja medis dengan penderitaan anaknya, maka sedikit banyak berhasil mengubah “citra” ganja. Ganja belakangan lebih diasosiasikan sebagai obat ketimbang zat haram.

 

Padahal jika ditimbang secara adil, ganja juga tidak sedikit mengandung mudarat. Seorang Ahli Saraf dari Stanford University School of Medicine mengungkap bahwa pengguna ganja berpotensi empat kali lipat untuk mengalami depresi berat secara kronis.

 

Profesor Neurobiologi dan Oftalmologi, Andrew Huberman mengatakan bahwa ganja dapat meningkatkan kejadian depresi pada individu yang tidak mengalami depresi sebelum mereka mulai mengonsumsi zat haram tersebut.

 

Andrew Huberman menjelaskan bahwa ada data yang menunjukkan kecemasan pengguna ganja kronis dapat meningkat dari waktu ke waktu jika mereka melanjutkan kebiasaannya. Kecemasan juga bisa terjadi saat pengguna tengah dalam kondisi mabuk karena efek ganja.

 

Hal ini terjadi lantaran reseptor CB1 pada tubuh manusia, yang berperan mengikat THC (bahan aktif dalam ganja yang membuat mabuk) ketika masuk ke dalam tubuh mengalami keausan. Seiring waktu, ada lebih sedikit reseptor yang tersedia dan pensinyalan yang berada di hilir reseptor tersebut menjadi semakin tidak kuat atau melemah.

 

Sehingga membuat seseorang membutuhkan lebih banyak “ganja” untuk berada dalam tahap seperti kali pertama menghisap ganja. Dan pola ini bakal meningkat secara terus menerus.

 

Promosi akan khasiat ganja kami rasa sudah dalam tahapan overdosis. Sejumlah pihak seakan menanggalkan Sains demi mendorong legalisasi ganja medis.

 

Kami sepakat bahwa diskursus mengenai ganja harus diletakan pada meja saintis, bukan publik. Sebab merekalah yang mampu dan mempunyai timbangan untuk membedah masalah ini.

 

Jika dilempar ke tengah publik, maka yang muncul narasi-narasi propagandis. Seperti diungkap Anthony Pratkanis dalam The Age of Propaganda, propaganda mengacaukan pesan utama untuk menyebarkan informasi tanpa dipahami orang.

 

Propaganda tidak seperti persuasi yang bermaksud agar targetnya memiliki kesempatan yang adil untuk menilai. Sebaliknya, ini beroperasi dengan membuat individu lengah dan memengaruhi mereka tanpa sepengetahuannya.

 

Untuk melakukan ini, propagandis mempresentasikan ide mereka dalam kemasan yang menarik secara visual, mengalihkan target dari fokus pada apa yang sebenarnya disampaikan. Hal ini dilakukan dengan penggunaan bahasa yang positif dan penataan informasi dengan cara yang menarik untuk mengalihkan perhatian target dari kebenaran asertif.

 

Makanya mereka yang proganja kerap membalut legalisasi ganja medis dengan kisah-kisah menyentuh hati. Tanpa membahasa lebih jauh dampak penggunaan jangka panjang zat itu; atau alternatif obat lain yang sudah teruji secara klinis.

 

Lebih jauh lagi, kalau memang mereka serius prokesehatan publik, maka mereka bisa mengarahkan opini publik untuk menuntut bahwa kesehatan merupakan hak seluruh individu dan negara mesti memfasilitasi itu dengan menggratiskan biaya pengobatan. Bukan malah ujug-ujug meminta legalisasi ganja.

 

 

 

 

Referensi

 

Andrew Huberman.The Effects of Cannabis (Marijuana) on the Brain & Body. YouTube, 2022. Diakses melalui https://www.youtube.com/watch?v=gXvuJu1kt48.

 

 

Anthony Pratkanis dan Elliot Aronson. The Age of Propaganda: The Everyday Use and Abuse of Persuasion. Henry Holt and Company, 2001

 

Daniel J. Kruger, PhD, dkk. Cannabis Enthusiasts’ Knowledge of Medical Treatment Effectiveness and Increased Risks From Cannabis Use. American Journal of Health Promotion, 2020.

 

Ido Efrati. Medical Marijuana Helps Kids With Cerebral Palsy, Israeli Study Finds. Haaretz, 2017. Diakses melalui https://www.haaretz.com/israel-news/2017-09-07/ty-article/.premium/medical-marijuana-helps-kids-with-cerebral-palsy-study-finds/0000017f-db4b-db22-a17f-fffb28600000.

 


Minggu, 11 Desember 2022

  Sekongkol Wahabi dengan Leluhur Kerajaan Arab

Ilustrasi: Pixabay.com

 

Frasa “Wahabi” belakangan santer terdengar. Kata yang merujuk pada salah satu paham dalam keagamaan ini melekat dengan wajah Kerajaan Arab Saudi. Lantas bagaimana sebetulnya relasi antara Saudi dengan Wahabi?

 

Wahabi atau Wahabisme merujuk pada suatu aliran dalam Islam yang dibangun Muhammad bin Abdul Wahab (1703-87). Abdul Wahab dibesarkan di Uyaynah, sebuah daerah oasis di selatan Najd.

 

Di sana Abdul Wahab sempat mengenyam pendidikan bersama kakeknya untuk mempelajari mazhab Hambali, salah satu dari empat mazhab dalam Islam Suni.

 

Ketika menginjak remaja, Abdul Wahab meninggalkan kampung halamannya guna menimba ilmu ke guru lain. Ia merantau ke Madinah, sampai dengan ke Iraq dan Iran.

 

Pengelanaan Abdul Wahab ke sejumlah negeri membentuk idenya soal ketauhidan atau keesaan Allah Swt. Zaman itu praktik-praktik yang menurut Abdul Wahab sebagai bentuk penyekutuan terhadap Tuhan, marak dilakukan.

 

Semisal yang dilakukan sejumlah kaum Syiah dengan menziarahi kuburan imam mereka demi meminta berkat. Hal yang sama juga ditemui pada sejumlah suku di Jazirah Arab. Mereka mendatangi kuburan, pohon, batu ataupun gua demi meminta rahmat.

 

Praktik seperti ini begitu mengganggu Abdul Wahab. Jelang akhir dekade 1730-an, Abdul Wahab pulang ke kota Huraymila di Najd dan mulai menulis dan berkhotbah melawan praktik populer Syiah dan kepercayaan lokal.

 

Penekanan dakwah Abdul Wahab adalah mengenai tauhid, di mana Allah Swt tidak memberi kuasanya di dunia lewat perantara. Sehingga tak seorang pun layak dipuja selain Tuhan Sang Maha Esa.

 

Dari sana para pengikut Abdul Wahab menjuluki dirinya sebagai “Al Muwahidun” atau bermakan “sang pengikut tauhid.” Akan tetapi penentang mereka menyebut mereka sebagai "Wahabi” atau "pengikut Muhammad bin Abdul Wahab," yang memiliki konotasi peyoratif.

 

Ketika dakwah Abdul Wahab mulai berkembang, dia mencari pemimpin lokal dan berusaha meyakinkan mereka bahwa ada masalah dalam praktik ajaran Islam di tengah umat.

 

Dia menyebut dirinya sebagai "pembaru" dan mencari tokoh politik yang mungkin dapat menyebarkan gagasannya kepada khalayak yang lebih luas.

 

Namun di Huraymila, Abdul Wahab miskin dukungan politik. Ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke Uyaynah, tempat dia dibesarkan.

 

Di sana Abdul Wahab memenangkan hati sejumlah pemimpin lokal. Uyaynah, bagaimanapun, dekat dengan Al Hufuf, yakni salah satu dari pusat-pusat Syiah di Arab timur.

 

Pemimpin di sana jelas terkejut dengan nada anti-Syiah dari isi ceramah Abdul Wahab. Alhasil dia tidak menuai popularitas di tempat itu.

 

Dia kemudian meninggalkan Uyaynah menuju Ad Diriyah, tak jauh dari kota yang kini dikenal sebagai Riyadh. Sebelumnya Abdul Wahab telah melakukan kontak dengan Muhammad bin Saud [Muhammad bin Saud Al Muqrin], pemimpin di Ad Diriyah saat itu.

 

Dia juga sempat melakukan kontak dengan dua saudara laki-laki Muhammad bin Saud yang pernah menemaninya ketika dia menghancurkan makam suci di sekitar Uyaynah.

 

Ketika Abdul Wahab tiba di Ad Diriyah, pihak Al Saud telah siap mendukungnya. Tahun 1744, keduanya bersumpah secara Islam di mana mereka berjanji untuk bekerja sama mendirikan negara yang diperintah menurut prinsip-prinsip Islam.

 

Keduanya membentuk aliansi yang diresmikan melalui pernikahan putri Muhammad bin Abdul Wahhab dengan Abdul Aziz, putra dan penerus dari Muhammad bin Saud.

 

Sampai saat itu, Al Saud telah diterima sebagai pemimpin suku yang otoritasnya didasarkan pada aturan yang sudah berlangsung lama namun belum baku.

 

Muhammad bin Saud mulai memimpin pasukan ke kota-kota Najd dan desa-desa untuk membasmi berbagai praktik yang dianggap sebagai bentuk kemusyrikan.

 

 

Sampai pada 1765, pasukan Muhammad bin Saud telah mendirikan Wahabisme, dan dengan itu Al Saud memegang otoritas politik atas sebagian besar Najd.

 

Sepeninggal Muhammad bin Saud pada 1765, putranya yang bernama Abdul Aziz, melanjutkan gerakan ini. Pada 1802, mereka menyerang dan menjarah Karbala yang kini masuk dalam wilayah Irak. Karbala menjadi salah satu pusat keagamaan Syiah.

 

 

Tak berhenti sampai di sana, mereka melanjutkan untuk  menguasai kota-kota Suni di Hijaz.  Di kota-kota tersebut, mereka menghancurkan lambang kemusyrikan berupa kuburan dan sejenisnya yang menjadi tambatan bagi orang meminta berkah.

 

Dalam menghancurkan benda-benda yang menjadi fokus ritual tersebut, para Wahabi berusaha meniru penghancuran terhadap kaum pagan oleh Nabi Muhammad Saw ketika kembali memasuki Mekkah pada tahun 630 M.

 

Laku ini memicu kekhawatiran dunia Islam di sekitarnya. Utamanya ketika mereka menyerang Hijaz. Bagaimana pun tempat itu merupakan simbol penting bagi Kekhalifahan Utsmaniyah dan entitas itu menolak menyerahkan otoritas Hijaz terhadap penguasa lokal.

 

Namun begitu Utsmaniyah dalam kondisi mandul karena pasukan mereka yang dalam keadaan lemah. Karenanya, Utsmaniyahi mendelegasikan tugas untuk merebut kembali Hijaz kepada Muhammad Ali, seorang komandan semi-independen garnisun mereka di Mesir.

 

Muhammad Ali, pada gilirannya, menyerahkan pekerjaan itu kepada putranya Tursun, yang memimpin pasukan ke Hijaz pada tahun 1816. Muhammad Ali nanti bergabung dengan putranya untuk memimpin pasukan secara langsung.

 

Abdul Wahab sendiri telah wafat sejak 1792. Sementara Abdul Aziz (Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud], putra Muhmmad bin Saud wafat tak lama sebelum Mekah direbut pasukan Muhammad Ali dan Tursun.

 

Trah kepemimpinannya diteruskan oleh sang anak, Al Saud [Saud bin Abdul Aziz]. Al Saud juga akhirnya wafat pada 1814, sehingga membuat tampuk kekuasaan dipegang anaknya yang bernama Abdullah [Abdullah bin Saud].

 

Abdullah akhirnya turut menghadang pasukan Mesir yang dipimpin Tursun bersama Muhammad Ali. Pasukan Tursun pun segera merebut Mekah dan Madinah.

 

Sementara itu, Abdullah memilih untuk mundur ke benteng keluarga di Najd. Muhammad Ali memutuskan untuk mengejarnya ke sana. Ia mengirim pasukan tambahan di bawah komando putranya yang lain, bernama Ibrahim.

 

Di sana Wahabi dan Abdullah berhasil bertahan selama dua tahun melawan pasukan dan persenjataan Mesir yang unggul. Namun pada akhirnya, Wahabi terbukti bukan tandingan pasukan Mesir, dan Ad Diriyah bersama Abdullah di dalamnya jatuh ke tangan Utsmaniyah pada 1818.

 

 

Para ahli kerap membagi tiga periode sejarah modern Arab. Yang pertama dimulai dengan aliansi antara Muhammad bin Saud dengan Muhammad bin Abdul Wahab dan diakhiri dengan penangkapan Abdullah oleh pasukan Utsmaniyahi.

 

 

Kedua periode meluas dari titik ini hingga munculnya Abdul Aziz bin Saud, pendiri negara modern Arab Saudi. Dan yang ketiga terdiri dari pendirian dan sejarah Kerajaan Saudi saat ini.

 

Referensi

 

Federal Research Division. Saudi Arabia: A Country Study. Amerika Serikat (AS): Library of Congress, 1992.

 

James Wynbrandt. A Brief History of Saudi Arabia. Infobase Publishing, 2010.

Senin, 31 Oktober 2022

#Cakrawala Pandangan: Mereka yang Terlihat dan Tersembunyi di Hati


Ilustrasi: Peakpx.com


Sebelum membacanya, mari panjatkan doa untuk para guru kita yang mengajari kita Alif Ba Ta sampai para guru di perguruan tinggi. Semoga kelimpahan berkah tercurahkan kepada mereka atas segala ilmu yang telah diberikannya.


Al fatihah...


Catatan: #Cakrawala Pandangan merupakan ulasan mengenai pandangan dan pendapat seseorang yang kami amini sehingga layak untuk disebarkan tanpa menyebut sosoknya.


“Rasisme, seperti yang kita tahu, bukan tentang apa yang ada di lubuk hati manusia. Ini tentang kata dan perbuatan,” Wesley Lowery, jurnalis dan koresponden pemenang Hadiah Pulitzer.


Melalui kutipan tersebut Wesley Lowery mungkin ingin mengatakan bahwa rasisme bukan apa yang ada pikiran, tapi laku dan tindakan. Artinya dia tidak peduli jika seseorang di lubuk hatinya yang paling dalam memuat pandangan yang rasisme, yang terpenting laku dan perkataannya tidak mencerminkan demikian.


Wesley Lowery mungkin menganggap tidak perlu memerangi rasisme yang bersarang dalam hati, sebab itu hak setiap individu. Asalkan sikap itu tidak diterjemahkan dalam bentuk tindakan.


Sama halnya ketika kami diingatkan mengenai masalah hati. Kita dilarang untuk mengadili hati seseorang, asalkan mereka menampilkan sikap-sikap terpuji, maka cukup bagi kita untuk melabeli mereka dengan sebutan baik. 


Makanya penekanan pandangan khas Islam adalah “apa yang terlihat” bukan apa yang tersembunyi dalam hati. Ketika ada orang tiba-tiba berbuat baik, maka ajaran melarang untuk berprasangka buruk atas laku mereka.


Terlepas dari maksud dan tujuan seseorang berbuat baik, yang terpenting bagi kita adalah orang tersebut menunjukkan sikap-sikap yang terpuji. Sebab itu tidak ada pengadilan hati, karena hati hanya Sangi Ilahi yang paling memahami.


Sama halnya ketika ada orang yang memamerkan “ibadahnya” di media sosial, kita benar-benar dilarang untuk mencap hal itu sebagai bentuk ria. Sebab maksud dan tujuan seseorang mengumbar ibadahnya di media sosial, hanya Allah SWT dan dirinyalah yang tahu. Lagi-lagi kami tekankan bahwa bukan wewenang kita untuk mengadili hati. Selama perbuatannya masih baik, ya silakan melakukan demikian.


Lain halnya jika keburukan yang diumbar, ya itu sudah jelas harus diberantas. Kendati orang yang berbuat buruk itu mengaku “ini demi kebaikan” tetapi lakunya buruk, maka tetap saja wajib ditumpas. Apalagi mereka yang justru mempromosikan keburukan, bahkan dengan bangganya.


Orang-orang seperti ini ketika diingatkan biasanya akan berkilah seperti ini, “Alah... munafik. Lu juga gak sucikan.” Mereka meneguhkan kelakuan buruknya dengan menganggap orang lain juga berbuat demikian. Perlu diingat bahwa Islam menumpas kemaksiatan yang dipampang di depan publik, bukan kemaksiatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.


Sebab kemaksiatan yang dipamerkan dapat mendorong orang lain berbuat demikian. Sementara mereka yang sembunyi-sembunyi, itu urusan dirinya dengan Tuhan. Akan tetapi perlu ditekankan bahwa Islam sama-sama melarang kedua bentuk kemaksiatan tersebut. 


Sabtu, 29 Oktober 2022

#Cakrawala Pandangan: Tetap Bekerja meski Jauh dari Sempurna


Ilustrasi:Stocksnap.io


Sebelum membacanya, mari panjatkan doa untuk para guru kita yang mengajari kita Alif Ba Ta sampai para guru di perguruan tinggi. Semoga kelimpahan berkah tercurahkan kepada mereka atas segala ilmu yang telah diberikannya.


Al fatihah...


Catatan: #Cakrawala Pandangan merupakan ulasan mengenai pandangan dan pendapat seseorang yang kami amini sehingga layak untuk disebarkan tanpa menyebut sosoknya.


Jahe hangat tanpa gula menjadi gerbang pembicaraan kami mengenai konsep bekerja. Terdengar sederhana, tapi ketika saya memahami secara saksama ternyata amat bermakna.


Kami ingat poin terpenting dari pembicaraan malam itu adalah bahwa bekerja menjadi muruah bagi setiap laki-laki. Tidak peduli hasil yang didapat, selama mereka mengolah tenaga atau memutar otak untuk bekerja, maka telah gugurlah kewajibannya.


Penekanan terhadap konsep bekerja juga beririsan dengan masalah akad. Sebagai Muslim, kami diminta untuk memahami serta menjalankan secara ketat setiap butir isi akad yang dibuat dengan pemberi kerja.


Misalnya begini, ketika dalam akad mengatakan bahwa “kami diminta bekerja selama 9 jam,” maka tidak boleh tidak kami harus tunduk dengan ketentuan tersebut. Ketundukan ini harus totalitas, artinya ketika jam kerja telah dimulai, maka kami wajib menjalankan berbagai tugas yang telah diamanatkan. Dan itu tanpa pengecualian, kecuali atas seizin atasan.


Konkretnya begini, jangankan untuk menyambi menggarap pekerjaan lain yang menghasilkan “cuan” tambahan, menonton Youtube saja, jika itu tidak ada kaitannya dengan pekerjaan diharamkan. Sebab prinsipnya tadi, kita mesti taat pada akad yang telah ditentukan.


Jadi seorang pekerja dia akan terikat dengan akad sepanjang jam kerjanya. Terkecuali pekerjaan kita by project bukan by time. Pekerjaan yang berbasis proyek hanya menuntut agar pekerjaan itu dirampungkan sesuai dengan ketentuan, tidak tersekat oleh waktu. Artinya mereka yang bekerja by project halal mencari penghasilan lain selama akad proyek itu ditunaikan.


Lain halnya dengan pegawai negeri sipil (PNS) misalnya, pekerjaan mereka kebanyakan by time. Maka selama ia tengah on duty sebagai PNS, maka dilarang mereka menyambi pekerjaan lain yang tidak terkait dengan tugasnya. Maka seorang PNS atau pegawai apa pun yang terikat dengan jam kerja, tidak boleh mengurusi usaha pribadinya ataupun urusan lain yang itu tidak berhubungan dengan tugasnya. Kami diwanti-wanti bahwa ketika melanggar itu, maka kami telah berlaku zalim karena mengkhianati akad.


Ini baru “pekerja,” lantas bagaimana dengan pejabat? Pejabat jam kerja mereka 24 jam. Artinya selama seorang menjadi pejabat, maka seluruh waktunya selama 24 jam dilarang melakukan pekerjaan lain yang itu bermuara pada bisnis.


Itulah makanya seorang pejabat seluruh kebutuhan hidupnya beserta keluarga ditanggung pakai duit “rakyat.” Mulai kebutuhan pulsa, kendaraan, bensin, hunian, makan, jajan, dan lain sebagainya itu ditanggung, bahkan difasilitasi dengan ajudan.


Sebab rakyat ingin mereka “fokus” bekerja tanpa terbebani pikiran anak istrinya besok makan apa. Kenapa seorang pejabat waktu kerjanya 24 jam? Waktu 24 jam bekerja tidak dipahami secara harfiah mereka bekerja selama 24 jam nonstop, tetapi “label” pejabat mereka itu melekat 24 jam. Karena pejabat tentu saja rawan akan kepentingan. Ibarat gula akan ada banyak semut yang ingin mendekat.


Karena wewenang pejabat ini bisa berakibat besar serta berdampak luas. Bayangkan ketika seorang pejabat berbisnis, mana mungkin mereka menelurkan kebijakan yang tidak menguntungkan bisnisnya. Kami jamin ketika pejabat berbisnis, maka kebijakan yang mereka telurkan pasti ingin menguntungkan dirinya serta keluarganya. Sebab itu demi mencegah hal tersebut, seorang pejabat mestinya dijauhkan dari praktik bisnis.


Biar mereka yang memang sudah mengikhtiarkan diri dalam dunia bisnis menggarap lahan bisnis itu. Tapi apa yang terjadi sekarang? Pejabat dibebaskan dengan leluasa membangun kerajaan bisnis. Kalaupun tidak demikian, mereka begitu lekat dengan orang-orang bisnis bak serabut kelapa dengan tempurungnya. Kita percaya kelekatan itu hanya sebatas pertemanan? 


Ketika pejabat merambah sektor bisnis, maka terciptalah akumulasi kapital di tangan mereka yang dikehendaki sang pejabat. Mengapa demikian? Karena sang pejabatlah yang mempunyai wewenang atas suatu persoalan.


Misalnya begini, pejabat ini menargetkan untuk membangun kereta layang antara tempat A menuju tempat B,C,D,E,F,G dan H. Maka pejabat yang “rakus” bisa saja terjun ke bisnis properti untuk membuka perumahan di sekitar stasiun kereta layang tersebut, di saat kebijakan itu belum dirilis ke publik. Perumahan itu pasti terjual dengan harga tinggi karena dekat fasilitas umum.


Jika pun tidak begitu, mereka bisa saja menggandeng pihak lain yang secara badan hukum tidak terkait dengan namanya. Agar pihak tersebut membangun perumahan di daerah yang nantinya akan dibangun stasiun. Ini baru contoh kecil bagaimana merusaknya pejabat yang terjun dalam dunia bisnis.


Lahan di sekitar stasiun yang mestinya dinikmati rakyat, malah tiba-tiba diborong oleh seseorang sebelum pemilik tanah tahu bahwa lahan itu bakal menjadi tempat sentral. Andai kata dibiarkan tidak ada praktik demikian, maka ekonomi masyarakat tentu berkembang. Karena kapital tidak terkonsentrasi di tangan pejabat dan para kroninya.


Sabtu, 22 Oktober 2022

#Cakrawala Pandangan: Takzim dan Taat

 


Ilustrasi: Rawpixel.com

Catatan: #Cakrawala Pandangan merupakan ulasan mengenai pandangan dan pendapat seseorang yang kami amini sehingga layak untuk disebarkan tanpa menyebut sosoknya.

 

Sekolah mentereng tidak menjamin seorang anak memiliki akhlak yang beradab. Kalimat itulah yang hingga kini kami yakni sejak pertama kali dihadapkan pada pemandangan murid-murid yang menganggap guru hanya sekrup dalam pendidikan.

 

Saya ingat betul ketika istri bercerita mengenai pengalamannya mengajar anak-anak dari sekolah bergengsi di pinggiran Ibu Kota. Reject respect dari para murid itu menjadi pengalaman pertama sepanjang karier mengajarnya.

 

Kami yakin sedikit banyak doktrin dari orang tua dan lingkungan melatarbelakangi polah mereka. Lingkungan mendidik mereka bahwa “jika kamu punya uang, maka kamu punya hak.” Mereka merasa bahwa orang tuanya sudah membayar mahal untuk pendidikan, maka mereka menganggap patut untuk melakukan apa pun terhadap siapa pun yang menikmati duit itu, termasuk para gurunya.

 

Kami dianjurkan takzim kepada para guru, bukan hanya sebab mereka berjasa karena telah mencurahkan ilmu, namun juga karena perintah Sang Pencipta. Takzim setara dengan hormat, meskipun misalnya mungkin kita berbeda pandangan dengan guru, tapi takzim wajib tetap melekat.

 

Takzim tentu tak sama dengan taat yang mensyaratkan kepatuhan. Kalau takzim itu menghormati, maka taat mematuhi segala petuah guru. Semisal Sang Guru mengajak untuk selalu menyinggahi rumahnya setiap minggu, maka jika kita taat, kita ikuti arahannya. Lain dengan takzim, ia tidak mensyaratkan kepatuhan.

 

Oleh karena itu apa pun kondisinya takzim terhadap guru itu wajib pemenuhannya, sementara taat terhadap mereka bisa tergantung perintah. Kenapa? Sebab guru manusia bisa, mereka bisa salah, bisa pula keliru.

 

Maka yang baik ambillah, sementara yang jelak buanglah. Karena Islam mengajarkan ketaatan hanya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sabtu, 26 Februari 2022

Tujuan Mengalahkan Proses atau Proses Mengalahkan Tujuan?

 

Ilustrasi: Pix4free.org

 

Tujuan menjadi kata yang singkat namun berbobot berat. Sepenggal kata yang menjadi hulu dari beragam rupa aktivitas yang dilakukan manusia. Tanpa adanya kata itu, semua seakan tak lebih dari bercanda belaka. Bahkan bercanda pun, bagi sebagian orang bagian dari tujuan.

Saya sangat mengapresiasi berbagai proses olah pikir manusia yang dituangkan dalam bentuk apa yang kita kenal saat ini sebagai “konten”. Baik dalam rupa gambar, tulisan, audio visual sampai gabungan di antaranya. Sehingga membentuk “karya” yang masing-masing memiliki pasar.

Dakwah adalah tujuan yang sebetulnya tak perlu ada perdebatan lagi akan kemuliaannya. Kendati kini bagi sebagian orang menuntut bahwa dakwah itu harus “adem” maupun “sejuk,” tapi bagi saya tuntutan ini tak berdasar.

Kita tak pernah bicara jauh soal konsep sejuk ataupun adem dalam dakwah. Pembahasan pada spektrum publik hanya berhenti pada anggapan bahwa dakwah yang sejuk adalah dakwah yang diterima semua orang, tak menyinggung perasaan orang lain.

Konsep tersebut tentu tak masuk akal jika kita mengakui bahwa dakwah adalah upaya untuk menyeru pada kebenaran. Sejak Adam dilempar ke Bumi sampai detik ini tidak ada yang namanya “menyeru pada kebenaran” tapi disenangi semua orang.

Anda bisa bayangkan ketika kebenaran dalam Islam menyebut khamar  itu haram, lantas Anda berdakwah kepada peminum alkohol. Banyak dari mereka pasti menganggap dakwah Anda mengusik. Dengan dalih “yang penting tidak mengganggu orang lain,” saya yakin para alkoholik, sebutan bagi mereka peminum khamar akan menganggap dakwah itu sebagai tindakan “mengusik.”

Pun ketika Anda berdakwah kepada tukang-tukang lainnya, tuang zina, tukang judi, tukang riba, tukang syirik, dan lainnya, dakwah Anda saya yakin akan ditafsirkan sebagai tindakan mengusuk. Ini sudah default dari Alllah SWT bahwa kebenaran dan kebatilan tak bisa diketemukan.

Tuntutan dakwah yang menyejukan tak kurang dan tak lebih hanya kamuflase penolakan kita terhadap kebenaran. Karena jika frontal menolak langsung, maka tentu saja di mata publik sikap ini dipandang tak patut.

Pembahasan seperti ini klise sebetulnya, tapi saya yakin masih banyak yang belum paham menyangkut dengan “dakwah yang menyejukan.”  Kita diajak untuk mengikuti konstruksi yang dialamatkan terhadap satu golongan bahwa dakwah yang mereka sampaikan keras. Mungkin karena penyampaiannya yang keras atau konten yang disampaikannya?

Penulis memandang bukan soal cara orang menyampaikannya, tapi isi dakwahnya. Bahkan jika pun tokoh paling dianggap ramah di negeri ini menyampaikan bahwa ini, itu haram, tentu bakal dibantah oleh kita yang selama ini tidak mau diatur dengan Islam dengan berlindung dibalik tuntutan dakwah yang sejuk.

Tujuan Hal Utama


Ilustasi: Dokumen Pribadi yang Diramu dari Berbagai Sumber


Sejak duduk di bangku kuliah saya tak pernah tertarik dengan media sosial, utamanya Instagram. Saya memang punya Facebook dan Youtube, tapi untuk menjajal Instagram saya pikir beribu-ribu kali. Pandangan saya kala itu, platform media sosial yang kali pertama dirancang oleh Kevin Systrom bersama Mike Krieger itu tak menimbulkan manfaat kecuali mereka yang menyukai fotografi.

Pandangan ini bukan muncul dari pikiran kosong, saya mendengar bahwa platform media sosial ini hanya menyuguhkan gambar tanpa ulasan tulisan yang komprehensif. Saat ini saya lebih memuja karya tulisan ketimbang audio maupun visual. Tentu saja pikiran ini didorong oleh subjektivitas pribadi saya yang lebih menggemari dunia tulis menulis ketimbang berkutat dengan aplikasi Corel Draw ataupun Adobe Photoshop dan Premier.

Sampai dihadapkan pada tuntutan pekerjaan yang mengharuskan saya untuk memantau isu dari segala penjuru mata angin. Dari sanalah saya mulai berkenalan dengan platform yang lahir dari para arsitek perangkat lunak di Burbn, Inc. itu. Itu pun bukan menggunakan nama resmi, alias bukan akun “official,” begitu anak zaman sekarang menyebutnya.

Belum lama menjajal aplikasi ini, saya sadar bahwa banyak akun palsu yang memanfaatkan foto wanita guna kepentingan pribadi operator di balik akun-akun tersebut. Akun-akun ini mengunggah deretan foto wanita baik yang tergolong syari (berpakaian yang sejalan dengan tuntutan syariat) maupun sebaliknya.

Sasaran mereka tentu saja kaum Adam yang secara bodoh memencet tombol “Ikuti” pada beranda lini masa akun tersebut. Cara ini tampaknya berhasil, sebab tak jarang akun-akun semisal ini memiliki puluhan bahkan ratusan ribu pengikut.

Tujuan mereka menernak akun Instagram secara massal tentu demi materi. Jika pengikutnya sudah membeludak, maka mereka akan menjualnya. Semakin besar jumlah pengikut, maka akan semakin tinggi harga yang ditawarkan.

 

Bumikan Busana Syari

 

Bagi wanita dengan pakaian serba syari barangkali benaknya memiliki maksud untuk mempopulerkan busana itu ke khalayak. Tapi kadang kala saya baca semangatnya banyak yang berubah, kendati lidah berucap konsisten.

Pamer adalah kata yang pantas diletakan pada laku sebagian dari mereka. Semangat yang semula mulia, berubah karena lemparan pujian paras dan sifat dari para penggemarnya. Tapi seperti pendapat umum, media sosial memang diciptakan sebagai ajang pamer.

Saya masih yakin tak semua begini, tapi jumlahnya kalah lebih sedikit dari mereka yang melakukan sebaliknya. Saya mesti mengakui, merebaknya beragam jenis busana syari yang kini dianggap normal adalah salah satunya berkat usaha-usaha yang dilakukan mereka. Kita bisa tanya kakak-nenek kita, ataupun orang tua kita soal kondisi pakaian syari pada zamanya. Atau bisa mencari informasi mengenai hal itu pada mesin pencarian.

Zaman kakek-nenek maupun orang tua kita busana muslim merupakan benda yang cukup asing. Bahkan penggunaan busana ini pada sekolah saja cukup sengit menghadapi perdebatan sejumlah kalangan. Tapi apa yang terjadi saat ini? Busana ini kini semakin populer, terlepas dari pro kontra mengenai kepatutan penggunaan busana ini dengan tuntunan syariah.

Demi mempopulerkan busana ini haruskan kita menerabas aturan yang ada dari sisi agama? Bukankah niat kita ingin menegakkan apa yang diperintahkan oleh agama. Tapi kalau dilakukan dengan menerobos rabu-rabu bahkan aturan yang ada dalam agama pantaskan hal itu dilakukan? Atau jangan-jangan semangat membumikan busana syari hanya seperti yang banyak orang bilang “jubah” untuk menutupi nafsu pamer serta ingin dipuji. Tapi apa pun motifnya, sesuatu yang baik mestinya dilakukan dengan cara yang baik pula.

 

Ustaz Jadi Artis

 

Platform media sosial Instagram tampaknya jadi inti dalam tulisan saya kali ini. Sejak lahirnya platform tersebut, kita begitu banyak mengenal ustaz-ustaz dengan ciri khasnya masing-masing. Mereka berlomba untuk menuangkan “ilmu” ataupun “pengaruh” ke sebanyak-banyaknya massa. Makanya mereka berusaha segiat mungkin dan seelegan mungkin memproduksi beragam konten dakwah.

Peran ustaz di tengah masyarakat bagi saya ibarat “pengawas.” Mereka yang bertanggung jawab meluruskan yang bengkok dan menempatkan dengan tepat sesuatu yang kurang tepat. Ketika dalam suatu masyarakat mabuk-mabukan adalah pemandangan yang wajar, maka ustaz turun di sana dan meluruskan hal itu. Patokan mereka tentu saja ajaran agama dan moralitas yang didasari nilai-nilai keagamaan.

Mereka harus berani mengatakan sesuatu hal itu salah, kalau memang itu salah, kepada siapa pun. Ini inti peran mereka. Jadi kendati orang kaya, pejabat atau mayoritas orang-orang melakukan kesalahan, maka seorang ustaz harus dengan lantang bilang bahwa hal itu keliru. Karena amatan ini diemban oleh mereka. Mereka ibarat pancaran lentera di alam yang gelap ini. Tanpa keberanian mereka berkata benar, maka kita tersesat.

Dengan adanya media sosial, termasuk di Instagram tugas mereka sebetulnya lebih ringan. Karena mereka cukup berceramah satu kali, pesannya akan menjangkau siapa pun orang di sudut bumi ini. Terutama bagi ulama yang banyak memiliki pengikut di media sosial. Privilese ini tak dimiliki oleh ustaz-ustaz terdahulu.

Saya pernah bilang ke sahabat saya bahwa pengikut dalam media sosial adalah power. Dan selayaknya kekuatan, ia akan menuntut sebuah pertanggungjawaban. Saya bilang ke dia, power pun akan dihisab.

Pernyataan saya tentu berangkat dari besarnya daya pengaruh mereka yang memiliki ratusan ribu bahkan jutaan pengikut di media sosial. Mereka menjadi trendsetter bagi para pengikutnya. Mereka bisa menyebarkan berbagai ide dan hal-hal yang berbau kebenaran kepada para penggemarnya. Pengikutnya sering kali mengamini segala pernyataan mereka, bahkan mengamalkannya. Tentu saja ini peran yang amat strategis untuk mempengaruhi orang.

Berkaca dari sinilah para ustaz berlomba-lomba menjaring sebanyak-banyaknya pengikut di lautan komunitas maya itu. Ustaz yang masih paham mereka berlomba membuat konten dakwah, tapi bagi ustaz yang sedikit “agak-agak” bukan konten dakwah yang dibuat, kadang kala lebih sering membuat konten yang bikin baper atau bawa perasaan. Konten-konten baper sengaja diproduksi demi menyasar pengguna media sosial usia remaja yang porsinya cukup banyak. Dengan konten-konten itu mereka bisa meraup banyak penggemar.

Kemesraan dengan istri yang mestinya dibatasi sengaja diumbar entah dengan tujuan apa dalam benaknya. Ustaz yang mestinya lantang menyerukan kebenaran justru rajin memamerkan kelekatan dengan istri. Sesuatu yang mestinya hanya diketahui oleh mata-mata yang berada pada lingkaran pribadi, mereka pamerkan jadi konsumsi umum.

Label “ustaz” tak menjadikan mereka tergerak untuk melantangkan kata-kata kebenaran. Padahal di tengah-tengah kesukaran banyak orang memilah kebenaran, ucapan mereka amat dibutuhkan.

Lebih parah lagi bagi ustaz yang bukan lagi menjadi lentera tapi penghibur para pengikutnya. Mereka bukan lagi  berpikir untuk menyuarakan kebenaran tapi bagaimana supaya “pengikut” saya senang. Mereka bukan kepala bagi badan singa tapi ekor. Layaknya ekor, dia hanya mengikut laju kepala yang diumpamakan sebagai para penggemarnya.

Ketika dakwah mereka menyinggung para penggemarnya, kemudian banyak penggemarnya yang melayangkan seruan protes, ustaz ini justru meminta maaf. Bukan malah semakin mengeraskan volume untuk mendengungkan kebenaran kepada para penggemarnya.

Minta maaf akhirnya ditafsirkan bahwa ucapan sang ustaz keliru, dan kelakuan salah mereka selama ini yang sempat disinggung sang ustaz seakan memiliki momentum untuk menjastifikasi kebenarannya. Dengan minta maaf atas ceramah yang sarat akan pesan kebenaran, sang ustaz seakan bilang bahwa “ceramah saya keliru, tingkah laku kalian yang benar.” 

Jumat, 18 Februari 2022

Deutsche Welle (DW): Mempertanyakan Komitmen Demokrasi Media Milik Pemerintah Jerman

Ilustrasi: Wikimedia.org

Dua jurnalis asal Palestina, Zahi Alawi dan Yasser Abu Muailek dipecat dari Deutsche Welle (DW), media massa berbagai platform yang didanai Pemerintah Jerman. Keduanya dipecat lantaran postingan mereka di media sosial pada 2014 yang baru-baru ini mengemuka, ditafsirkan sebagai bentuk “Antisemitisme”. Antisemitisme sendiri merupakan sebuah sikap permusuhan terhadap kaum Yahudi.

Kabar pemecatan itu diumumkan DW pada pekan lalu. Di samping keduanya, DW juga memecat tiga jurnalis lain dari dinas bahasa Arabnya setelah penyelidikan dua bulan atas tuduhan Antisemitisme.

Postingan dimaksud merujuk pada unggahan di Facebook oleh Alawi dan Abu Muailek yang mengutuk serangan Israel di Gaza yang diblokade pada tahun 2014 lalu.

"What the terrorist state of Israel is doing to the Palestinians is a repeated Holocaust (Apa yang dilakukan negara teroris Israel terhadap orang-orang Palestina adalah Holocaust yang berulang)," tulis Alawi pada laman Facebook pribadinya di Juli 2014, seperti mengutip pada laman Trtworld.com, Kamis, 17 Februari 2022.

Media ini sudah lama terkenal amat bias dalam memberitakan Konflik Palestina-Israel. Manajemen DW berpendapat bahwa Jerman memikul tanggung jawab khusus atas kejahatan Nazi yang dilakukan terhadap orang Yahudi selama Perang Dunia II.

Tahun lalu, dewan redaksi DW mengirim panduan pelaporan baru kepada staf yang membatasi laporan berita bermuatan kritis terhadap Israel. Lebih jauh, media yang didanai lewat pajak orang Jerman itu tengah berencana untuk mempertajam kode etiknya dengan lebih fokus pada Antisemitisme, hak Israel untuk eksis dan tanggung jawab sejarah Jerman.

 

Penyelidikan Dilakukan Tak Imparsial

 

Maram Salem, salah satu jurnalis Palestina yang dipecat DW mengatakan, penyelidikan DW atas tuduhan Antisemitisme terhadap dirinya tidak dilakukan secara imparsial. Dia mengecam keras manajemen DW atas perlakuan tidak adil dan dianggapnya telah menyensor kebebasan berbicara.

"Saya bukan Antisemitisme. Saya adalah seseorang yang percaya pada kebebasan berbicara," kata Maram Salem.

Menurutnya kritik terhadap kebijakan Israel tidak sama dengan Antisemitisme. Wartawati itu menyebut bahwa tuduhan Antisemitisme sering digunakan untuk membatasi kebebasan berekspresi dan membatasi kritik terhadap kebijakan dan tindakan Israel.

 

Komitmen DW pada Kebebasan Berbicara

Melalui laman resminya, DW menuliskan bahwa:

 

Our aim is to foster a peaceful, stable global community. Therefore, we focus on topics such as freedom and human rights, democracy and good governance, free trade and social justice, health education and environmental protection, technology and innovation.”

 

Our offerings convey Germany as a liberal democracy rooted in European culture, providing a forum for German (and other) points of view on important topics, with the aim of promoting understanding and the exchange of ideas among different cultures and peoples.”

 

Kemudian ada juga:

 

We believe that journalism, education and culture improve people's lives and that reliable, unbiased information and universal access to knowledge are fundamental rights.”

 

Pada intinya segala pemanis bibir itu mengukuhkan komitmen mereka pada nilai-nilai Eropa yang kini berusaha mereka ekspor, yakni demokrasi dan kebebasan. Melihat perlakukan DW terhadap lima jurnalis tersebut, penulis justru mempertanyakan komitmen mereka akan nilai-nilai yang diklaim sebagai darah dalam tradisi mereka.

Sejauh mana media yang didirikan sejak 1953 itu memegang prinsip yang selama ini digembar-gemborkannya. Atau jangan-jangan semua itu tak lebih dari basa-basi belaka, watak Nazi tetap mendarah daging pada lembaga itu.


Sabtu, 27 November 2021

Semua Ingin Menyontek Jokowi: Pejabat Kita Ingin "Dicap" Membumi


Ilustrasi: Pxabay.com


Turun di tengah masyarakat, melakukan kegiatan yang biasa dilakukan orang-orang kecil mulai dari memungut sampah, membersihkan tempat umum, turun ke got, kali dan aktivitas sejenisnya. Pemandangan ini dalam beberapa tahun terakhir tampaknya populer disontek pejabat-pejabat kita.

Entah serius atau hanya untuk menarik simpati massa, mereka kadang terlihat konyol melakukan hal yang bukan semestinya dikerjakan mengingat statusnya. Saya percaya bahwa tak ada yang salah dengan pejabat terjun di pekerjaan-pekerjaan "bawah," tapi ayolah apakah itu memenuhi unsur efisiensi dalam mengentaskan atau paling tidak mengurangi masalah di tengah masyarakat? 

Seperti organisasi bukankah negara ini disusun juga mengikuti kaidah pembagian kerja? Di mana peran pejabat mestinya berkutat pada kebijakan, bukan pencitraan dengan terjun mengurusi hal-hal remeh temeh.

Laku ini memang populis di mata publik. Ituah sebabnya pola ini ramai digandrungi para pejabat yang mengemis perhatian pada masyarakat.

Padahal dengan kebijakan berbagai persoalan yang kerap mereka ributkan bisa teratasi. Kalau memang mereka malas untuk menyusun kebijakan, ya sudah silakan turun dan kerjakan pekerjaan yang selama ini dianggap lebih baik, seperti memunguti sampah, menyapu jalananan, turun ke got, bersih-bersih solokan. Daripada makan gaji buta mengerjakan pekerjaan yang bukan tupoksi mereka, bukankah lebih baik posisi mereka digantikan dengan orang-orang yang kompeten.

Saya mengeja, gejala para pejabat yang lata untuk bertindak populis itu tak terlepas dari kondisi kebatinan masyarakat Indonesia selama ini. Penguasa-penguasa di Indonesia dari dahulu memang menjaga jarak dengan rakyat bawah.

Penguasa seakan bintang nan jauh di sana, alhasil ketika muncul sosok yang dekat dengan mereka. Apalagi ikut mengerjakan hal-hal yang biasa dilakukan masyarakat bawah, akhirnya secara emosional perilaku ini menggiring pada perasaan kekaguman.

Terobosan Jokowi

Jokowi tercatat sebagai pejabat publik yang berhasil mempopulerkan strategi ini. Sejak menjabat jadi wali kota Solo, mampir menjadi gubernur Ibu Kota sampai awal-awal menjabat orang nomor satu di Indonesia, sosok pengusaha mebel ini kerap menampilkan sisi kesederhanannya dengan berbagi rupa.

Kendati wajah kesederhanannya banyak dikritik lantaran tak bersambut dengan berbagai kebijakan saat menjadi presiden, namun Jokowi kembali berhasil merebut tahkta presiden Indonesia untuk periode kedua.

Strategi Jokowi ini mungkin yang mengilhami banyak pejabat lain untuk melakukan sesuatu yang dinilai sederhana namun tak substantif. Ketika mereka mempunyai akses yang luas untuk memperbaiki kondisi masyarakat lewat kebijakan, justru banyak yang memilih tampil di lapangan mengerjakan sesuatu yang amat kecil dampaknya bagi publik.

Memilih untuk memungut sampah di jalan, menyapu trotoar, membersihkan got atau kali, dan tindakan semisal lainnya di saat para pejabat itu mampu melakukan sesuatu dengan dampak yang lebih luas, menurut saya adalah tindakan yang bodoh tapi dengan cara terhormat. Kegiatan itu semua memang bagus dilakukan, tapi jika mereka hanya mencitrakan demikian sementara luaran dalam kebijakan seakan jauh api daripada panggang buat apa bukan?


Sabtu, 23 Oktober 2021

Batasan dalam Persahabatan

 

Ilustrasi: Pxfuel.com


Saya ingat betul kata-kata Mas Azis, guru sekaligus karib saya bahwa dalam pertemanan pilihannya hanya ada dua, "diwarnai atau mewarnai". Terdengar seperti mengekang, tapi saya perhatikan di banyak kasus pilihannya memang seperti itu.

Dari kedua pilihan tersebut keduanya baik manakala kita berteman dengan lingkungan baik. Pepatah zaman dahulu menyebutkan bahwa berteman dengan penjual wangi-wangian, maka kita akan kecipratan wanginya. Pun kala kita berteman dengan mereka yang bergumul dengan kotoran, kita pun akan kecipratan baunya. Berteman dengan tukang pewangi akan menyebarkan wewangian ke tubuh kita, paling tidak kendati tubuh penuh dengan bau badan aroma wangi-wangian itu sedikit banyak menutupinya.

Pada kasus itu artinya kita diwarnai karena wewangian menyelimuti warna kita yang dasarnya bau keringat. Si penjual wangi-wangian adalah pihak yang mewarnai kita dengan semburan harum dari produknya. Produk wewangian itu bisa berupa sikap dan teladan.

Kita boleh berteman dengan siapa pun, pepatah di atas bukan berarti membatasi kita untuk berkawan, namun perlu diingat bahwa sahabat adalah mereka yang mau kita warnai atau mewarnai kita dengan kebaikan.

Batasan

Kendati saya bersahabat dengan orang, tetap saja saya mempunyai batasan dalam hal-hal yang menurut saya ranah pribadi. Misalnya dengan istri saja, saya amat jarang mengenalkan istri dengan sahabat-sahabat saya. Bukan tanpa alasan itu semua dilakukan demi melindungi istri.

Jika dilihat dari sudut pandang saat ini sikap saya mungkin dianggap bentuk pengekangan, tapi istri saya tak menafisrkan begitu. Dia paham bahwa hal itu tak lain demi kebaikan.

Banyak yang salah kaprah dengan mencampuradukan pergaulan kawan seorang suami dengan istrinya. Misalnya saja kala seorang suami gemar mendaki gunung atau hobi apa pun, tak jarang mereka mengikutsertakan istri mereka bersama kawan-kawannya. Saya cukup anti mencampuradukan istri saya dengan kawan, bahkan untuk ngobrol, apakah sikap saya over protective? Jika ada yang mendefinisikan seperti itu boleh saja, tapi lebih dari itu saya hanya ingin menjaganya.

Seperti layaknya sesuatu yang berharga, kita ingin menyimpannya di tempat yang paling aman dari jangkauan siapa pun. Seperti itu pulalah dasar filosofi saya menempatkan istri di tempat teraman.

Senin, 11 Oktober 2021

Pelajaran dari Penjajahan Bukan Hilangnya Persatuan, Tapi Kanker yang Menyerupai Daging


Ilustrasi: Wikimedia Commons

Ketidakkompakan bangsa Indonesia menjadi mantra ampuh para guru Sejarah di kelas untuk menjelaskan alasan bangsa Indonesia bisa terjerumus dalam penjajahan. Pernyataan para guru Sejarah tak ada salahnya, namun bagi kacamata saya hal itu kurang lengkap.


Ada faktor dominan yang tetap relevan sampai kapan pun sebagai alasan sebuah kaum dapat terjajah. Adalah kanker di tubuh kaum itu sendiri. Kanker ini menyerupai daging yang kaum itu sendiri lambat menyadarinya, atau bahkan tak teridentifikasi sama sekali.


Adalah para pengkhianat, sebuah sel kanker yang sebetulnya berasal dari daging namun memilih untuk melawan daging itu sendiri. Para pengkhianat ini berasal dari darah yang sama, berpakaian dengan cara yang sama, bahkan bicara dengan bahasa-bahasa yang sama, namun niatnya bagaikan serigala yang mencoba menerkam mangsa.


Mereka kerap ditemui pada bangsa-bangsa terjajah. Faktor ekonomi dan kuasa tentu menjadi pendorong lahirnya tindakan mereka. Melacurkan diri bagi penjajahan adalah kehormatan bagi mereka.


Jepang menjadi satu dari sekian aktor yang memanfaatkan mereka. Kita semua tahu persis bahwa Indonesia pernah mengalami deraan penjajahan dari Negeri Matahari Terbit itu. Usai Belanda menyerah tanpa syarat, Kekaisaran Jepang mengambil alih kekuasaan di wilayah yang kita kenal saat ini sebagai Indonesia.


Di Indramayu, Jawa Barat, Jepang yang pada awalnya datang dengan "iklan" untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan itu menggunakan oknum kiai untuk mematahkan segala gerakan perlawanan rakyat Indramayu. Eddie Soekardi, mantan tentara Republik Indonesia dalam sebuah wawancara di Bandung, 7 September 2005, menggambarkan Jepang sebagai aktor yang licik.


Eddie mengatakan, mula-mula mereka dianggap pahlawan oleh pribumi karena bisa mengusir Belanda. Lambat laun mendekati para kiai dan mengangkat para tokoh republik sebagai juru bicara program-program pemerintah Jepang, dari Romusha (Kerja paksa), wajib militer, Momy Kyoosyuto (serah padi). 


"Rakyat tertipu dengan kebaikan Jepang, namun lambat laun tersadarkan oleh rasa senasib sebagai manusia terjajah, adanya penindasan, kelaparan, pemerkosaan (budak seks), dan kekerasan yang tak kunjung henti. Hal ini berdampak pada perlawanan rakyat. Termasuk di Indramayu yang menentang pengumpulan padi secara paksa oleh pihak Jepang," kata Eddie dalam Protes Sosial Petani Indramayu Masa Pendudukan Jepang (1942-1945) oleh Wahyu Iryana.


Praktik ini dibuktikan pada Maret 1944. Di mana saat itu terjadi protes petani di Desa Kaplongan, Karangampel karena permasalahan wajib serah padi kepada Jepang. Wahyu Iryana mengisahkan, tentara Jepang yang bermarkas di Cirebon ketika mendengar kabar tersebut langsung datang dengan satu kompi truk melalui Desa Kedungbunder, ditambah satu truk polisi bersenjata lengkap menuju Desa Kaplongan.


Diceritakan bahwa Desa Kaplongan sudah memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi. Semalaman tidak ada yang tidur, kaum perempuan dan anak-anak mereka diungsikan ke tempat yang lebih aman. Pemuda-pemuda digerakkan untuk menggali jalan satu-satunya yang menghubungkan Desa Kaplongan dengan Karangampel dan Desa Kedokanbunder. Semua pohon besar mereka tebang dan dibentangkan di tengah jalan sebagai perintang.


Mereka beramai-ramai pergi ke rumah Kiai Sulaiman di Desa Srengseng [terletak di selatan Desa Kaplongan, termasuk Wilayah Kecamatan Kerangkeng]. Kiai Sulaiman dianggap masyarakat sebagai orang sakti, untuk meminta doa serta jimat kekebalan. 


Pendek kata mereka sudah bertekad bulat untuk berjihad fisabilillah melawan orang yang dianggap mereka kafir (Jepang) yang mau merampas harta milik masyarakat Desa Kaplongan. Malahan iman mereka pun hendak dirampas pula, karena mereka disuruh bersujud ke arah kiblat yang berlawanan dengan arah kiblat umat Islam.


Pagi-pagi buta dari jauh terdengar suara deru truk yang kian lama kian mendekati Desa

Kaplongan. Masyarakat Desa Kaplongan segera bersiap dengan segala macam

senjata yang ada seperti bambu runcing, golok, tombak dan keris, yang masing-masing sudah diberi jampi oleh Kiai Sulaiman.


Hingga pada suatu titik suara truk tidak terdengar lagi, tanda truk itu telah berhenti dan pasukan musuh telah turun dari truk, karena tidak bisa melalui jalan yang digali. Mereka bersiap-siap sambil menyerukan takbir tiga kali, menantikan segala kemungkinan yang terjadi.


Saat itu suasana begitu sepi, namun kesunyian itu dipecahkan oleh suara letusan senapan mesin yang tak kunjung berhenti yang memuntahkan pelurunya. Rakyat Desa Kaplongan sendiri menyadari hal itu. Tak lama pertempuran yang tidak seimbang segera terjadi, banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak.



Kemudian di bulan selanjutnya, 3 April 1944 Camat Karangampel, Majanidasastra mendatangi Desa Kaplongan untuk untuk merampas padi milik Haji Aksan yang tidak mau mengindahkan perintah pamong desanya. Berhubung Haji Aksan tetap saja menolak perintah menyerahkan padinya, Camat Karangampel memerintahkan polisi untuk menangkapnya.


Haji Aksan diambil dari rumahnya oleh polisi untuk selanjutnya dibawa ke Balai desa di mana Majanidasastra sudah menunggu. Akan tetapi rakyat Desa Kaplongan yang melihat pemimpinnya ditangkap, dengan spontan berteriak-teriak, ”jangan tangkap dia, dia orang baik, dia tidak bersalah.”


Mendengar teriakan rakyat, polisi yang membawa Haji Aksan segera melepaskan tembakan peringatan. Akan hal itu membuat rakyat menjadi gelap mata, rakyat Desa Kaplongan pun pergi berbondong-bondong ke balai desa. 


Suasana di balai desa menjadi panik seketika. Dalam suasana yang gawat seperti itu, Majanidasastra masih sempat menghamburkan kata-kata menghasut yang makin menambah meluapnya amarah masyarakat Desa Kaplongan. Rakyat langsung berhambur memenuhi balai desa, polisi mengeluarkan pistolnya, susana menjadi ricuh. 


Manakala rakyat tahu bahwa peluru yang ada di polisi sudah habis, semua langsung menyerbu. Polisi menjadi panik karena keadaan begitu benar-benar membahayakan. Aparat polisi segera melarikan diri dari balai desa. Pak Camat sangat ketakutan, setelah tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat dalam menghadapi kemarahan rakyat Desa Kaplongan, Majanidasastra pun hendak lari menuju warung Pak Dasman, yang letaknya tidak jauh dari balai desa. Tiba-tiba sepotong batu bata tepat mengenai kepala Pak Camat. Pak Camat langsung pingsan. Untung saja rakyat masih menghargai H. Aksan agar jangan sampai membunuh dan mengeroyok Camat, sebab kalau tidak nyawa Pak Camat tidak akan tertolong.



Aparat Polisi yang melarikan diri, tetap tidak bisa melepaskan diri dari kepungan rakyat banyak, dihujani lemparan batu sehingga terjatuh dan pingsan. Rakyat sudah merasa aman ketika pak Haji Aksan sudah terlepas dari cengkeraman polisi, sehingga tidak jadi dibawa ke pendopo Indramayu.


Para korban yang kebanyakan polisi dibiarkan berguling di tanah, rakyat Desa Kaplongan segera bubar. Kemudian sore harinya, para korban pelemparan batu oleh masa Desa Kaplongan akhirnya dibawa ke Karangampel. Dari pihak polisi hanya tiga orang luka-luka sedangkan dari pihak rakyat Desa Kaplongan ada empat orang yang meninggal akibat ditembak aparat. Mereka adalah: 1. Abu Hasan, 2. Tobur, 3. Abdul Kadir, 4. Khozin.


Pertempuran berlangsung kurang lebih dua jam, sebuah truk Jepang dihancurkan rakyat. Tentara Jepang mengundurkan diri ke Karangampel, dengan tujuan menghindari bentrok fisik yang kedua kalinya sehingga korban tidak banyak berjatuhan. Untuk membuat keadaan aman kembali Jepang mendatangkan Kiai Abbas dari Pesantren Buntet Cirebon dan Kiai Idris dari Karangampel dengan maksud meminta perundingan dengan rakyat.


Rombongan Kiai dikawal oleh tentara Jepang dan aparat polisi dengan membawa bendera putih, sebagai tanda meminta berdamai dan berunding. Rakyat Desa Kaplongan menerima kedua tokoh kiai itu dengan rasa curiga, namun atas rasa takzim rakyat Desa Kaplongan menaruh hormat kepada para tokoh kiai yang dibawa Jepang tersebut. Kemudian semuanya berkumpul di balai desa.


Awal Jebakan Maut


Kiai Abbas menjelaskan, bala tentara Nippon meminta berunding dan perundingan itu akan dilaksanakan di Karangampel (Kecamatan Kaplongan). Rakyat Desa Kaplongan bersedia mengirim wakilnya untuk berunding di Karangampel, akan tetapi rakyat Desa Kaplongan mengajukan syarat, bahwa selama para pemimpin mereka melakukan perundingan di Karangampel, kedua tokoh ulama yang dibawa Jepang harus ditinggal di Kaplongan sebagai sandera. 


Akan tetapi persoalan tidak selesai sampai itu saja, karena para tentara Jepang mengirim

intelijennya ke Desa Kaplongan untuk menyelidiki siapa saja para pelaku pemberontakan. Sederetan nama-nama tokoh penting di Desa Kaplongan telah masuk daftar hitam tentara Jepang. Setelah keadaan tenang satu demi satu para pemimpin pemberontakan ditangkap tanpa sepengetahuan rakyat Desa Kaplongan. Mula-mula Kiai Sidik ditangkap, kemu-

dian menyusul:


1. H. Ali

2. H. Aksan

3. H. Abdul Gani

4. H. Maksum

5. H. Hanan

6. H. Nurjaman

7. H. Zakaria

8. Sutawijaja

9. Ki Pinah

10. Ki Karsa.


Para pemimpin pemberontakan dibawa ke Karangampel untuk kemudian dilanjutkan ke Pendopo

Indramayu. Kemudian tiba giliran Kiai Sulaiman yang telah lanjut usia ditangkap pula oleh Jepang dan beliau dibawa ke Residen Cirebon. Sebagian di eksekusi mati, sebagian lagi dibebaskan kembali.


Cuplikan sejarah di atas memberikan kita peta yang menunjukkan bahwa dalam bentangan sejarah pihak-pihak “OPRESOR” kerap menggunakan tokoh-tokoh di masyarakat untuk melancarkan agendanya. Para tokoh ini tak mau ambil pusing dengan keberpihakannya, mereka hanya peduli akan kesenangan dan perutnya.