Gagasan

Semua Ingin Menyontek Jokowi: Pejabat Kita Ingin "Dicap" Membumi


Ilustrasi: Pxabay.com


Turun di tengah masyarakat, melakukan kegiatan yang biasa dilakukan orang-orang kecil mulai dari memungut sampah, membersihkan tempat umum, turun ke got, kali dan aktivitas sejenisnya. Pemandangan ini dalam beberapa tahun terakhir tampaknya populer disontek pejabat-pejabat kita.

Entah serius atau hanya untuk menarik simpati massa, mereka kadang terlihat konyol melakukan hal yang bukan semestinya dikerjakan mengingat statusnya. Saya percaya bahwa tak ada yang salah dengan pejabat terjun di pekerjaan-pekerjaan "bawah," tapi ayolah apakah itu memenuhi unsur efisiensi dalam mengentaskan atau paling tidak mengurangi masalah di tengah masyarakat? 

Seperti organisasi bukankah negara ini disusun juga mengikuti kaidah pembagian kerja? Di mana peran pejabat mestinya berkutat pada kebijakan, bukan pencitraan dengan terjun mengurusi hal-hal remeh temeh.

Laku ini memang populis di mata publik. Ituah sebabnya pola ini ramai digandrungi para pejabat yang mengemis perhatian pada masyarakat.

Padahal dengan kebijakan berbagai persoalan yang kerap mereka ributkan bisa teratasi. Kalau memang mereka malas untuk menyusun kebijakan, ya sudah silakan turun dan kerjakan pekerjaan yang selama ini dianggap lebih baik, seperti memunguti sampah, menyapu jalananan, turun ke got, bersih-bersih solokan. Daripada makan gaji buta mengerjakan pekerjaan yang bukan tupoksi mereka, bukankah lebih baik posisi mereka digantikan dengan orang-orang yang kompeten.

Saya mengeja, gejala para pejabat yang lata untuk bertindak populis itu tak terlepas dari kondisi kebatinan masyarakat Indonesia selama ini. Penguasa-penguasa di Indonesia dari dahulu memang menjaga jarak dengan rakyat bawah.

Penguasa seakan bintang nan jauh di sana, alhasil ketika muncul sosok yang dekat dengan mereka. Apalagi ikut mengerjakan hal-hal yang biasa dilakukan masyarakat bawah, akhirnya secara emosional perilaku ini menggiring pada perasaan kekaguman.

Terobosan Jokowi

Jokowi tercatat sebagai pejabat publik yang berhasil mempopulerkan strategi ini. Sejak menjabat jadi wali kota Solo, mampir menjadi gubernur Ibu Kota sampai awal-awal menjabat orang nomor satu di Indonesia, sosok pengusaha mebel ini kerap menampilkan sisi kesederhanannya dengan berbagi rupa.

Kendati wajah kesederhanannya banyak dikritik lantaran tak bersambut dengan berbagai kebijakan saat menjadi presiden, namun Jokowi kembali berhasil merebut tahkta presiden Indonesia untuk periode kedua.

Strategi Jokowi ini mungkin yang mengilhami banyak pejabat lain untuk melakukan sesuatu yang dinilai sederhana namun tak substantif. Ketika mereka mempunyai akses yang luas untuk memperbaiki kondisi masyarakat lewat kebijakan, justru banyak yang memilih tampil di lapangan mengerjakan sesuatu yang amat kecil dampaknya bagi publik.

Memilih untuk memungut sampah di jalan, menyapu trotoar, membersihkan got atau kali, dan tindakan semisal lainnya di saat para pejabat itu mampu melakukan sesuatu dengan dampak yang lebih luas, menurut saya adalah tindakan yang bodoh tapi dengan cara terhormat. Kegiatan itu semua memang bagus dilakukan, tapi jika mereka hanya mencitrakan demikian sementara luaran dalam kebijakan seakan jauh api daripada panggang buat apa bukan?


About Yopi Makdori

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.