Tampilkan postingan dengan label Inovasi Pragmatis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inovasi Pragmatis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Oktober 2022

#Cakrawala Pandangan: Tetap Bekerja meski Jauh dari Sempurna


Ilustrasi:Stocksnap.io


Sebelum membacanya, mari panjatkan doa untuk para guru kita yang mengajari kita Alif Ba Ta sampai para guru di perguruan tinggi. Semoga kelimpahan berkah tercurahkan kepada mereka atas segala ilmu yang telah diberikannya.


Al fatihah...


Catatan: #Cakrawala Pandangan merupakan ulasan mengenai pandangan dan pendapat seseorang yang kami amini sehingga layak untuk disebarkan tanpa menyebut sosoknya.


Jahe hangat tanpa gula menjadi gerbang pembicaraan kami mengenai konsep bekerja. Terdengar sederhana, tapi ketika saya memahami secara saksama ternyata amat bermakna.


Kami ingat poin terpenting dari pembicaraan malam itu adalah bahwa bekerja menjadi muruah bagi setiap laki-laki. Tidak peduli hasil yang didapat, selama mereka mengolah tenaga atau memutar otak untuk bekerja, maka telah gugurlah kewajibannya.


Penekanan terhadap konsep bekerja juga beririsan dengan masalah akad. Sebagai Muslim, kami diminta untuk memahami serta menjalankan secara ketat setiap butir isi akad yang dibuat dengan pemberi kerja.


Misalnya begini, ketika dalam akad mengatakan bahwa “kami diminta bekerja selama 9 jam,” maka tidak boleh tidak kami harus tunduk dengan ketentuan tersebut. Ketundukan ini harus totalitas, artinya ketika jam kerja telah dimulai, maka kami wajib menjalankan berbagai tugas yang telah diamanatkan. Dan itu tanpa pengecualian, kecuali atas seizin atasan.


Konkretnya begini, jangankan untuk menyambi menggarap pekerjaan lain yang menghasilkan “cuan” tambahan, menonton Youtube saja, jika itu tidak ada kaitannya dengan pekerjaan diharamkan. Sebab prinsipnya tadi, kita mesti taat pada akad yang telah ditentukan.


Jadi seorang pekerja dia akan terikat dengan akad sepanjang jam kerjanya. Terkecuali pekerjaan kita by project bukan by time. Pekerjaan yang berbasis proyek hanya menuntut agar pekerjaan itu dirampungkan sesuai dengan ketentuan, tidak tersekat oleh waktu. Artinya mereka yang bekerja by project halal mencari penghasilan lain selama akad proyek itu ditunaikan.


Lain halnya dengan pegawai negeri sipil (PNS) misalnya, pekerjaan mereka kebanyakan by time. Maka selama ia tengah on duty sebagai PNS, maka dilarang mereka menyambi pekerjaan lain yang tidak terkait dengan tugasnya. Maka seorang PNS atau pegawai apa pun yang terikat dengan jam kerja, tidak boleh mengurusi usaha pribadinya ataupun urusan lain yang itu tidak berhubungan dengan tugasnya. Kami diwanti-wanti bahwa ketika melanggar itu, maka kami telah berlaku zalim karena mengkhianati akad.


Ini baru “pekerja,” lantas bagaimana dengan pejabat? Pejabat jam kerja mereka 24 jam. Artinya selama seorang menjadi pejabat, maka seluruh waktunya selama 24 jam dilarang melakukan pekerjaan lain yang itu bermuara pada bisnis.


Itulah makanya seorang pejabat seluruh kebutuhan hidupnya beserta keluarga ditanggung pakai duit “rakyat.” Mulai kebutuhan pulsa, kendaraan, bensin, hunian, makan, jajan, dan lain sebagainya itu ditanggung, bahkan difasilitasi dengan ajudan.


Sebab rakyat ingin mereka “fokus” bekerja tanpa terbebani pikiran anak istrinya besok makan apa. Kenapa seorang pejabat waktu kerjanya 24 jam? Waktu 24 jam bekerja tidak dipahami secara harfiah mereka bekerja selama 24 jam nonstop, tetapi “label” pejabat mereka itu melekat 24 jam. Karena pejabat tentu saja rawan akan kepentingan. Ibarat gula akan ada banyak semut yang ingin mendekat.


Karena wewenang pejabat ini bisa berakibat besar serta berdampak luas. Bayangkan ketika seorang pejabat berbisnis, mana mungkin mereka menelurkan kebijakan yang tidak menguntungkan bisnisnya. Kami jamin ketika pejabat berbisnis, maka kebijakan yang mereka telurkan pasti ingin menguntungkan dirinya serta keluarganya. Sebab itu demi mencegah hal tersebut, seorang pejabat mestinya dijauhkan dari praktik bisnis.


Biar mereka yang memang sudah mengikhtiarkan diri dalam dunia bisnis menggarap lahan bisnis itu. Tapi apa yang terjadi sekarang? Pejabat dibebaskan dengan leluasa membangun kerajaan bisnis. Kalaupun tidak demikian, mereka begitu lekat dengan orang-orang bisnis bak serabut kelapa dengan tempurungnya. Kita percaya kelekatan itu hanya sebatas pertemanan? 


Ketika pejabat merambah sektor bisnis, maka terciptalah akumulasi kapital di tangan mereka yang dikehendaki sang pejabat. Mengapa demikian? Karena sang pejabatlah yang mempunyai wewenang atas suatu persoalan.


Misalnya begini, pejabat ini menargetkan untuk membangun kereta layang antara tempat A menuju tempat B,C,D,E,F,G dan H. Maka pejabat yang “rakus” bisa saja terjun ke bisnis properti untuk membuka perumahan di sekitar stasiun kereta layang tersebut, di saat kebijakan itu belum dirilis ke publik. Perumahan itu pasti terjual dengan harga tinggi karena dekat fasilitas umum.


Jika pun tidak begitu, mereka bisa saja menggandeng pihak lain yang secara badan hukum tidak terkait dengan namanya. Agar pihak tersebut membangun perumahan di daerah yang nantinya akan dibangun stasiun. Ini baru contoh kecil bagaimana merusaknya pejabat yang terjun dalam dunia bisnis.


Lahan di sekitar stasiun yang mestinya dinikmati rakyat, malah tiba-tiba diborong oleh seseorang sebelum pemilik tanah tahu bahwa lahan itu bakal menjadi tempat sentral. Andai kata dibiarkan tidak ada praktik demikian, maka ekonomi masyarakat tentu berkembang. Karena kapital tidak terkonsentrasi di tangan pejabat dan para kroninya.


Sabtu, 27 November 2021

Semua Ingin Menyontek Jokowi: Pejabat Kita Ingin "Dicap" Membumi


Ilustrasi: Pxabay.com


Turun di tengah masyarakat, melakukan kegiatan yang biasa dilakukan orang-orang kecil mulai dari memungut sampah, membersihkan tempat umum, turun ke got, kali dan aktivitas sejenisnya. Pemandangan ini dalam beberapa tahun terakhir tampaknya populer disontek pejabat-pejabat kita.

Entah serius atau hanya untuk menarik simpati massa, mereka kadang terlihat konyol melakukan hal yang bukan semestinya dikerjakan mengingat statusnya. Saya percaya bahwa tak ada yang salah dengan pejabat terjun di pekerjaan-pekerjaan "bawah," tapi ayolah apakah itu memenuhi unsur efisiensi dalam mengentaskan atau paling tidak mengurangi masalah di tengah masyarakat? 

Seperti organisasi bukankah negara ini disusun juga mengikuti kaidah pembagian kerja? Di mana peran pejabat mestinya berkutat pada kebijakan, bukan pencitraan dengan terjun mengurusi hal-hal remeh temeh.

Laku ini memang populis di mata publik. Ituah sebabnya pola ini ramai digandrungi para pejabat yang mengemis perhatian pada masyarakat.

Padahal dengan kebijakan berbagai persoalan yang kerap mereka ributkan bisa teratasi. Kalau memang mereka malas untuk menyusun kebijakan, ya sudah silakan turun dan kerjakan pekerjaan yang selama ini dianggap lebih baik, seperti memunguti sampah, menyapu jalananan, turun ke got, bersih-bersih solokan. Daripada makan gaji buta mengerjakan pekerjaan yang bukan tupoksi mereka, bukankah lebih baik posisi mereka digantikan dengan orang-orang yang kompeten.

Saya mengeja, gejala para pejabat yang lata untuk bertindak populis itu tak terlepas dari kondisi kebatinan masyarakat Indonesia selama ini. Penguasa-penguasa di Indonesia dari dahulu memang menjaga jarak dengan rakyat bawah.

Penguasa seakan bintang nan jauh di sana, alhasil ketika muncul sosok yang dekat dengan mereka. Apalagi ikut mengerjakan hal-hal yang biasa dilakukan masyarakat bawah, akhirnya secara emosional perilaku ini menggiring pada perasaan kekaguman.

Terobosan Jokowi

Jokowi tercatat sebagai pejabat publik yang berhasil mempopulerkan strategi ini. Sejak menjabat jadi wali kota Solo, mampir menjadi gubernur Ibu Kota sampai awal-awal menjabat orang nomor satu di Indonesia, sosok pengusaha mebel ini kerap menampilkan sisi kesederhanannya dengan berbagi rupa.

Kendati wajah kesederhanannya banyak dikritik lantaran tak bersambut dengan berbagai kebijakan saat menjadi presiden, namun Jokowi kembali berhasil merebut tahkta presiden Indonesia untuk periode kedua.

Strategi Jokowi ini mungkin yang mengilhami banyak pejabat lain untuk melakukan sesuatu yang dinilai sederhana namun tak substantif. Ketika mereka mempunyai akses yang luas untuk memperbaiki kondisi masyarakat lewat kebijakan, justru banyak yang memilih tampil di lapangan mengerjakan sesuatu yang amat kecil dampaknya bagi publik.

Memilih untuk memungut sampah di jalan, menyapu trotoar, membersihkan got atau kali, dan tindakan semisal lainnya di saat para pejabat itu mampu melakukan sesuatu dengan dampak yang lebih luas, menurut saya adalah tindakan yang bodoh tapi dengan cara terhormat. Kegiatan itu semua memang bagus dilakukan, tapi jika mereka hanya mencitrakan demikian sementara luaran dalam kebijakan seakan jauh api daripada panggang buat apa bukan?


Minggu, 04 Juli 2021

Ketidakpercayaan Publik Bukan Muncul dari Lahan Tandus



Ilustrasi: Pxfuel.com





Bismillah…

Sepanjang jalannya pandemi Covid-19 saya mengamati masih banyak masyarakat yang tak mempercayai adanya virus Corona. Urusan hal yang tidak bisa dilihat memang sukar untuk dipaksakan agar dipercayai. Tak usah jauh-jauh, keberadaan Tuhan saja masih banyak pihak yang menegasikan.



Adalah saya, Yopi Makdori yang hampir setiap hari bergelut dengan kabar soal Covid-19. Sebagai pemuda yang banyak hidup di lingkungan klenik sebenarnya saya agak janggal melihat banyak masyarakat yang sarat akan klenik justru cenderung tidak mempercayai keberadaan virus asal Wuhan, China itu.

Bagaimana tidak, mereka yang percaya klenik justru banyak yang membantah keberadaan Covid-19. Padahal jika menggunakan akal, klenik itu hal yang tak bisa diraba, tingkatannya justru lebih terindra Corona ketimbang hal yang berbau santet menyantet. Tapi mengapa mereka bukan saja ragu, tapi sudah di tahap "tidak percaya".

Rasa ketidakpercayaan ini memiliki konsekuensi yang begitu besar. Karena bakal bermuara pada pengabaian pada usaha-usaha pencegahan penularan Covid-19. Memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dan segala upaya untuk menekan penularan bakal diabaikan.

Jika secara luas dilakukan oleh masyarakat yang tengah dilanda pandemi, imbasnya tentu saja bakal fatal. Dan hari ini kita menyaksikan panen ketidakpercayaan itu.

Lantas apa yang membuat mereka tidak percaya?

Kawan, beberapa hari yang lalu saya mendengar cerita istri soal perdebatan teman semasa SMA-nya menyangkut Covid-19. Satu pihak merupakan warga biasa, satu lagi merupakan tenaga kesehatan yang mau tak mau harus bergelut dengan pasien Corona.

Perdebatan itu dipantik oleh sebuah video yang menampilkan sekelompok anak tengah di-swab (entah PCR atau Antigen). Video itu kata istri saya begitu emosional bagi kami yang mempunyai balita. Dalam video itu anak-anak seakan kesakitan saat alat swab masuk ke lubang hidung mereka. Entah apa yang dirasakan anak-anak, tapi dari raut dan tangisannya mereka seakan-akan merasakan sakit yang cukup serius.

Dalam narasinya, pihak yang membantah keberadaan Corona menuliskan protesnya, ia mengkritik apa yang dilakukan oleh petugas kesehatan terhadap anak-anak. Menurutnya anak-anak itu sehat (negatif), namun pasca di-swab justru positif.

Saya dan istri tak tahu dari mana dia bisa memastikan jika anak-anak itu awalnya sehat, tapi yang saya yakini bahwa ia pun hanya mencomot video itu dari media sosial dan menarasikan ulang apa yang dinarasikan penyebar video tersebut soal Covid-19. Kurang lebih isinya pasti senafas.

Berhubung teman SMA-nya ada yang tenaga kesehatan, ia pun mendapat sanggahan pedas dari temannya. Intinya teman dia atau pihak yang percaya Covid-19 mengatakan bahwa Covid-19 itu nyata dengan berbagai bukti yang ia paparkan. Alhasil dia yang tak percaya Covid-19 itu memblokir mereka yang berusaha mengkritiknya soal anggapannya tentang Corona.

Saya tidak heran akan sikap seperti ini, saya amat memaklumi sikap dia. Pergaulan dengan itu-itu saja, membaca tidak, menelaah enggan, menonton tontonan yang bermanfaat sungkan jadilah seperti itu. Pendapatnya hadir dari prasangka. Dan ia tidak bisa mentolerir siapa pun yang berseberangan dengan asumsi dangkalnya itu.

Kawan-kawan tahu apa yang lebih parahnya? Kata istri saya, ia sama sekali tak mau mengakui kesalahannya. Setelah temannya diblokir, ia justru melemparkan kekesalan di dinding Facebook-nya.

Tak ada kesan ia membaca dan merenung apakah pendapatnya salah. Kendati teman-temannya yang protes itu para tenaga kesehatan, ia tetap kukuh dengan argumennya.

Tapi terlepas dari kasus itu, saya yakin ada sebab lain yang membuat banyak orang begitu enggan untuk mempercayai keberadaan Covid-19. Spekulasi adanya konspirasi akhirnya mencuat. Ada sebagian di antara mereka yang menduga bahwa Corona hanya akal-akalan para petugas medis untuk mendulang pundi-pundi rupiah. Mereka seakan begitu menaruh curiga kepada rumah sakit dan para tenaganya.

Asumsi ini tentu saja berangkat dari telaah parsial mereka. Dalam benaknya, dengan adanya pagebluk ini para tenaga kesehatan diuntungkan karena banyak orang yang diwajibkan untuk melakukan tes Covid-19. Belum lagi aliran dana dari pemerintah.

Ada juga sebagian orang yang mengatakan Corona ini hanya alat bagi pemilik kuasa untuk menghimpun utang dengan pretensi penanganan wabah.

Mengapa mereka bisa berpikir sejauh ini? Kita tak bisa menampikan adanya kekecewaan publik terhadap kerja tenaga kesehatan jauh sebelum pandemi ini berlangsung. Di daerah saya ada sebuah rumah sakit pemerintah yang pelayanannya jauh dari kata manusiawi.

Orang tua saya beserta paman mengalami hal ini. Saat ayah dalam kondisi koma beberapa tahun silam, setibanya di rumah sakit, kami tak langsung diterima. Mereka, para tenaga kesehatan yang mestinya responsif dengan kedatangan pasien justru bersikap sebaliknya. Mereka seakan mengabaikan kami dan justru memilih bercanda dengan sesamanya. 

Untuk menjemput pasien dari mobil saja, mesti dilakukan oleh kami (pihak keluarga). Ketika diprotes oleh paman, salah satu dari mereka bilang, "Ya namanya milik pemerintah Pak, bukan swasta." Artinya bagi mereka pasien meninggal pun tak apa-apa, tak ada rasa bersalah yang keluar dari mulut mereka.

Rumah sakit ini konon [saya sebut begini karena saya belum bisa membuktikan secara nyata] sering membuat ibu melahirkan dengan cara sesar pada meninggal. Meninggalnya memang bukan di rumah sakit, melainkan beberapa hari pasca keluar dari rumah sakit.

Hal semisal juga terjadi di rumah sakit swasta. Lagi-lagi saya mesti mencontohkan apa yang saya alami di daerah. Pada Mei lalu, saya terserang demam disertai batuk pilek. Saya pun nekat ke rumah sakit selain untuk meminta surat sakit buat kantor, saya juga ingin meminta obat lebih andal berhubung parasetamol yang sejak awal dikonsumsi seakan tak memberikan efek.

Saat itu saya baru sakit sekitar dua hari. Dan saat diperiksa tanpa ba bi bu salah satu petugas medis di sana mencoba mengambil sampel darah saya. Padahal urusan administrasi belum juga dirampungkan (saya masuk di IGD pagi hari buta).

Saya bilang ke petugas tersebut, untuk apa suntikan itu? Dia jawab bahwa saya akan dicek laboratorium. Saya tak paham persis bagaimana idealnya menangani pasien, tapi sepengalaman saya untuk dicek laboratorium, petugas kesehatan mesti meminta izin dengan sang pasien atau keluarganya. 

Tapi itu tidak, petugas tanpa berkata apa-apa hanya menanyakan gejala yang saya rasakan langsung menjulurkan jarum suntiknya. Hendak dicek penyakit apa pun saya tidak diberi tahu. Saya pikir idealnya begini, "Pak dari gejala yang bapak alami sepertinya bapak terinfeksi Covid-19, bagaimana kalau kita tes Antigen (atau rapid tes karena lewat darah)? Kemudian kalau reaktif bapak bisa memastikan lewat tes PCR," bukankah lebih bijaksana seperti itu?

Saya akhirnya menolak untuk dites, mengingat sakit saya yang baru dua hari. Hemat saya, mestinya mereka memberikan saya obat dasar terlebih dahulu. Jika masih timbul gejala, okelah baru kita cek laboratorium.

Bayangkan jika kasus saya dialami oleh orang yang mohon maaf "tidak tahu utara tidak tahu selatan". Pasti ketika pihak rumah sakit tanpa basa basi melakukan cek laboratorium, mereka sungkan untuk menolaknya. Karena mereka pikir itu memang yang harus dilakukan.

Memang tak ada yang salah dengan prosedur macam itu, tapi jika pasien hanya sakit ringan dan itu pun baru dua hari sakit, ada urgensi apa sehingga pasien buru-buru mesti cek laboratorium? Kan kita paham etika, paling tidak kalaupun itu urgen mestinya mereka minta izin terlebih dahulu kepada pasien. Kalau saya menurut saja dengan permintaan mereka, saya yakin tagihan rumah sakit saya saat itu bakal membengkak.

Tak lama setelah itu, tepatnya pada malam Idulfitri kemarin ibu mertua saya mesti dilarikan ke rumah sakit yang sama. Herannya pelayanan yang diberikan berbeda. Misalnya untuk mendapatkan satu suntikan saja petugas kesehatan mesti memastikan kami, pihak keluarga telah merampungkan administrasi. Berhubung saat itu pasien menggunakan BPJS.

Mereka pun mesti minta izin untuk memberikan suntikan. Bahkan setelah saya merampungkan segala administrasi, pasien tak kunjung disuntik. Ini jelas pemandangan kontras dengan pengalaman sebelumnya yang saya alami. Apakah yang menyebabkan perbedaan penanganan itu? 

Perilaku-perilaku seperti ini yang dilakukan pihak rumah sakit tentu saja memupuk rasa tidak percaya masyarakat kepada mereka. Di benak publik bisa saja mereka hanya rumah penguras duit.

Persepsi seperti ini akan semakin teguh melekat jika apa yang dilakukan rumah sakit itu diulangi secara terus menerus. Maka ketika pandemi melanda, ditambah banyak masyarakat melihat bahwa tenaga kesehatan diuntungkan dari fenomena ini, jadilah muncul anggapan bahwa Covid-19 merupakan konspirasi. Para pasien "di-Covid-kan" agar rumah sakit untung. Dan narasi-narasi semacamnya.

Saya yakin apa yang saya alami itu hanya dilakukan oleh "oknum". Tapi dengan kerendahan hati saya, saya ingatan kepada siapa pun kalian tak bisa serta merta mencap "publik bodoh" gegara menuding Covid-19 sebuah konspirasi. Kita harus mengakui ada sebagian pihak yang memanfaatkan pandemi ini demi mendulang rupiah. Sebut saja apa yang terjadi di Bandara Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara pada akhir April lalu.

Di mana saat itu petugas tes Covid-19 dari salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang membukakan stan di lokasi justru berbuat curang. Mereka meraup miliaran rupiah dengan mendaur ulang alat tes Covid-19. Peristiwa-peristiwa semacam ini mesti diakui membuat kepercayaan publik terhadap tenaga kesehatan makin terjungkal.


Jadi ketika kita temui siapa pun yang masih belum percaya Covid-19, maka jangan dihujat tapi kata orang-orang bijak bilang, rangkullah dan berikan mereka pemahaman. Karena bisa saja sikap tidak percaya itu muncul bukan karena kurangnya penjelasan ilmiah, tapi pengalaman buruk mereka sebelumnya dengan rumah sakit atau tenaga medis.



Jumat, 04 Desember 2020

Aku Tutup Lembar Ini

 


Ilustrasi: Rawpixel.com

Lama sudah aku tapaki jalan terjal ini

Rindu, harapan dan tangis haru bercampur baur menjadi satu

Letihku dan letihmu seakan tak dihiraukan oleh semesta

Mereka serentak tak mengacukan kita.

 

Aku tak paham sampai kapan jalan ini berkesudahan

Rona wajahmu menunjukkan rasa tak sabar

Antara menunggu atau melepaskan.

 

Di ujung jalan yang tak pasti ini, senyap-senyap bunyi harapan memanggilmu

Aku terperanjat, mendengar nada pikiran dibalik senyummu

Aku paham, mungkin waktunya sudah dekat.

 

Aku tak ingin mendengar kabar itu

Tapi bumi terus berputar, dan aliran takdir terus berjalan

Mungkin ini cara terbaik untuk mengentaskan.

 

Tak akan ada lagi banjir air mata

Tak akan ada lagi kelabu yang menyelimuti langitmu

Semoga jiwa dan pikiran senantiasa mengikhlaskan.

Sabtu, 10 Oktober 2020

Kesehatan Anak Nomor Satu

Ilustrasi: Oyong dan Tempe

Dian, ibu dari seorang putri yang masih berusia empat tahun, saban hari menghabiskan waktunya untuk mengurusi sang anak. Dia tinggal di sepetak kosan yang ia bersama sang suami sewa dengan ongkos Rp 500 ribu. Harga yang cukup mahal bagi mereka berdua, terlebih lagi kehidupan mereka hanya mengandalkan penghasilan suami.

Suami Dian bekerja sebagai kuli di salah satu toko dekat kosan mereka. Ia diupah perbulannya tiga kali lipat dari harga sewa kos mereka. Dengan nominal sekitar Rp 1 juta, Dian mesti mengatur kebutuhan sehari-hari keluarganya. 

Dian sama sekali buta akan gizi, ia tak paham makanan mana yang mengandung protein, mana yang mengandung vitamin dan mineral yang dibutuhkan bagi anak. Putrinya tiap hari selalu diberi makan kerupuk plus nasi putih anget. Sang putri mau makan saja Dian sudah amat bersyukur, ia sama sekali tak paham kebutuhan gizi anak tercukupi atau tidak.

Suaminya pun sama, ia kerap mengonsumsi mi instan dengan nasi. Bukan tanpa alasan, mi instan selain murah juga praktis untuk dimasak. Terkadang, anaknya pun mengikuti sang ayah untuk mengonsumsi mi instan tersebut.

Tak butuh waktu lama, mi instan sudah siap dihidangkan. Ini juga taktik agar gas di kosan mereka tak cepat habis. Bayangkan jika Dian mesti masak sayur dan goreng tempe, maka gas yang digunakan pun akan semakin banyak. Imbasnya akan membebani pengeluaran keluarga kecilnya.

Mata Dian selalu terlihat sayu. Tubuhnya memang berisi, jauh dari kata kurus kering. Akan tetapi, tak ada gairah hidup di wajahnya. Roman muka sama juga ditunjukkan oleh putri Dian. Ia berbeda dengan kebanyakan anak seusianya. Tak ada keceriaan di wajah sang anak. Kendati bermain bersama anak-anak lainnya, ia selalu terlihat murung. Padahal, anak seusia tersebut belum memahami kondisi hidup yang diderita kedua orang tuanya.

Gizi anak yang tak seimbang mungkin melatarbelakangi hal itu. Kita memang paham bahwa kondisi ekonomi mungkin amat menjepit. Sikap tak acuh dari para penguasa memperparah kondisi ini. Tapi lagi-lagi, sebagaimana pesan para dokter anak bahwa gizi buah hati selalu nomor satu.

Kadang tak perlu mahal untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Tapi memang pasti akan sedikit repot jika dibandingkan hanya manghidangkan mi instan atau pun kerupuk bagi anak. Repot harus ke pasar, repot juga untuk memasaknya. Tapi bukankah semua usaha kita demi anak? Kekurangan gizi pada anak juga berpotensi tinggi untuk mempengaruhi tingkat kecerdasan buah hati.

Saya memang bukan ahli gizi, tapi amat miris melihat anak-anak diberi makan ala kadarnya. Untuk informasi lebih lanjut soal makanan mana saya yang murah tapi banyak mengandung gizi, kawan-kawan bisa mencari lanjutannya di internet. Bertebaran banyak informasi berkaitan hal itu.

Kasarnya begini, ayam saja itu mesti dipastikan asupan gizinya. Apalagi anak seorang manusia. Memang negara harus mengambil peran di situ, tapi ya sudahlah ya. Kadang yang jadi abdinya pun bukan niat untuk mengabdi, tapi kepingin kaya. Padahal sudah saya wanti-wanti mau kaya tuh wirausaha biar tidak celamitan sama duit rakyat, paham?


*Terinspirasi dari kisah nyata.


Kamis, 08 Oktober 2020

Sekuntum Kerinduan yang Kutinggalkan di Jogonalan [Repack]


Ilustrasi: Mas Imad, Yopi serta Nepi

Kereta dari Stasiun Bekasi mengantarkanku tepat pukul 21.00 malam di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Ransel yang terisi penuh pakaian serta peralatan mandi, kugendong untuk keluar dari stasiun.

Di luar stasiun kondisi lumayan gelap, ada sejumlah tukang ojek dan pengemudi ojek online menawarkan jasanya kepada mereka yang baru keluar dari stasiun. Aku terdiam sejenak, sambil memikirkan langkah apa yang selanjutnya aku ambil.

Kedatanganku ke kota pelajar itu demi menghadiri tes wawancara pada sebuah perusahaan di Klaten. Nekat memang, kalau tak mau dibilang pikiranku udah buntu. Bagaimana tidak, seseorang yang sedang berada di wilayah Jabodetabek justru mencari kerja di Klaten yang jelas jauh dari mana pun. Baik saudara maupun kampung halaman.

Tapi tekadku bulat, aku pikir dengan bekerja di sana asaku untuk hidup sederhana di wilayah sekitaran Jawa Tengah bisa terpenuhi. Di samping juga sebuah luapan kekecewaanku lantaran tak kunjung mendapatkan pekerjaan di Jakarta sejak beberapa minggu padat menghadiri beragam wawancara.

Sejujurnya sampai aku sampai di Jogja, aku belum tahu akan menginap ke mana. Benakku hanya menyarankan satu tujuan, dengan sisa uang hasil mengikuti kerja paruh waktu survei semasa di Purwokerto, aku pastikan tak akan menginap di hotel, kendati di hotel sekelas OYO ataupun RedDoorz.

Untuk menyangkilkan waktu dan dana, aku dekati tukang ojek di sana. Aku tanya-tanya harga berapa ongkos untuk sampai ke Sendowo, sebuah kelurahan yang berdekatan dengan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM). Dia bilang Rp 20 ribu, aku coba tawar tapi nihil. Tampaknya bakat negosiasiku kandas oleh tukang ojek di sana.

Melihat jam di ponsel seakan makin bergerak cepat, aku putuskan untuk mengiyakan harga tersebut, dan kita deal. Tukang ojek pun langsung mengantarku ke tempat tujuan. Di tengah perjalanan aku mengingat betul jalan-jalan yang kami lalui. Jogja tak banyak berubah, ucapku dalam hati.

Sampailah kami di Sendowo, aku berhenti tepat di salah satu SD di kelurahan tersebut. Seketika kenangan mengajakku untuk kembali ke beberapa tahun lalu. Mengingat setiap detail jalan yang tak asing aku lalu di sana.

Tujuan ku satu, kosan lama yang saat itu telah aku tinggalkan lebih dari empat tahun lalu. Ya, empat tahun silam aku pernah lebih dari satu semester bercengkerama dengan kota Jogja. Kota selain Purwokerto serta Jakarta yang mengajariku banyak hal.

Di jalan benakku tak berhenti bicara. Ia seakan mengajakku untuk berunding apakah aku yakin menginap di kosan tersebut. Apakah nanti ada kamar yang kosong? Apakah ibu kos telah meninggal? Mengingat saat aku pergi saja usianya sudah pantas dibilang sepuh.

Pikiranku tak henti berdialog, namun langkahku yakin untuk terus bergerak ke depan. Tapi aku bukan tipe orang yang menyandarkan tubuh pada satu harapan, sembari berjalan benakku juga berpikir untuk mencari alternatif bagaimana jika kos di sana penuh. Jalanku tak lebih memakan waktu 15 menit, tapi di sana aku memikirkan begitu banyak hal di saat yang hampir bersamaan. Akhirnya aku teringat pada sebuah masjid yang pernah mempertemukanku pada seorang kawan.

Sebuah masjid yang letaknya tak jauh dari Mirota Kampus dan Sekolah Vokasi UGM. Aku ingat betul di sana aku bertemu Anwar, seorang mahasiswa Sekolah Vokasi UGM jurusan D3 Bahasa Inggris. Saat kali pertama bersua mahasiswa asal Surabaya ini, kami begitu cepat akrab. Mungkin karena kami sama-sama satu nasib, sama-sama dari jauh dan mahasiswa Bidikmisi.

Oke alternatif kedua bila kosan lama penuh, aku putuskan untuk menginap di masjid. Awalnya aku tak tahu nama masjid itu, belakangan aku ingat bahwa masjid itu bernama Masjid Al Hasanah, Terban.

Sampailah aku di sebuah rumah yang tepat menghadap ke bantaran kali Code. Rumah itu memang berdiri di bawah lembah kali Code. Di atasnya tepat bertengger bukit kecil yang jika longsor, maka tak butuh waktu lama menelan rumah berlantai dua itu.

Aku gedor pintu rumah sembari mengucapkan salam. Tak lama seorang perempuan paruh baya membukakan pintu tersebut. Aku langsung bilang mau cari "Si Mbok" tak lama seorang nenek yang jalannya sudah terbungkuk menemuiku aku pun spontan menyalaminya. Aku langsung mengutarakan niatku untuk mencari kos barang satu malam untuk menghadiri intreview di Klaten. Apakah masih ada kamar kosong? Tanyaku sama Si Mbok.

Tampaknya Si Mbok tak mengingatku sama sekali, padahal selama di kos aku ingat betul Si Mbok sering memberiku makanan kala ia masak. Dia menjawab dengan logat Jawa yang kental bahwa kos saat ini penuh. 

Baiklah, untung masih ada alternatif kedua. Aku bergegas pamit dari sana dan langsung mengayunkan langkah kakiku ke alternatif kedua.

Sampai di sana aku bertemu dengan beberapa orang, langsung aku cari pengurus masjid dan kuutarakan maksud untuk menginap satu malam demi menghadiri wawancara kerja esok hari. Tampaknya mereka begitu ramah, aku disambut dengan baik. Aku bergegas untuk cuci muka dan menjalankan salat Isya. Setelah itu seorang pria dengan perkiraan umur yang cukup matang menghampiriku. Ia mencoba mengajak berbincang mengenai asal dan tujuanku ke Jogja.


Ilustrasi: Masjid Al Hasanah, Jogjakarta


Setelah sekian lama berbincang sambil menunggu kantuk, aku akhirnya tahu bahwa si bapak bernama Sutaryo. Tukang becak sekaligus pengurus masjid di sana. Kerap kali Pak Taryo, sapaan akrabnya memimpin salat di masjid tersebut.

Kami tidur berdampingan, sampai azan Subuh berkumandang kami pun terjaga. Di tubuhku terhampar sebuah sarung milik Pak Taryo, mungkin tadi malam tubuhku menggigil. Lantas Pak Taryo berinisatif menyelimuti tubuhku.

Pagi menjelang, aku tadi sudah membicarakan ihwal cara menuju tempat wawancara kerjaku dengan Pak Taryo. Pertama naik bis, kedua diantarkan oleh Pak Taryo yang kebetulan akan pulang ke Gunungkidul. Syukurnya, kampung Pak Taryo searah dengan tempat wawancaraku di Jogonalan, Klaten.

Usai salat Subuh, kami langsung bergegas berangkat ke lokasi. Dengan motor Honda Astrea Grand milik Pak Taryo, kami melaju menembus jalanan Jogja yang pagi itu terasa menggigil. Perjalanan lumayan jauh, sekitar satu atau satu setengah jam kami pacuh kendaraan ke arah Jogonalan. Tujuan kami adalah PT JKJ Indonesia yang beralamat di Tegalsari, RT.26/RW.14, Disoluwis, Dompyongan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten. Sebuah perusahaan Korea Selatan yang bergerak dalam bidang pembuatan sarung tangan Golf.

Setelah bertanya ke warga sekitar, kami pun sampai ke lokasi yang dituju. Aku pikir perusahaan ini akan berada di pinggir jalan raya. Tapi asumsiku terpatahkan, PT JKJ justru berada di tengah-tengah perkampungan warga. Aku tak tahu pasti mengapa pabrik sarung tangan ini justru berada di tengah perkampungan yang masih begitu asri. Aku terkesima dengan pemandangan di sana, begitu asri dan hamparan bukit membentang sejauh mata kita memandang. Betul-betul menenangkan, ucap benakku.

Setelah mengetahui lokasi perusahaan, aku ajak Pak Taryo mencari pasar untuk menyantap sarapan. Maklum, tadi pagi kami tergesa-gesa untuk segera beranjak ke lokasi dan melupakan sarapan pagi.

Ternyata pasar tak begitu jauh dari sana, kami pun memutuskan untuk menyantap soto di salah satu warung di sana. Rasa sotonya begitu nikmat, dengan kombinasi pedas dan asam dari perasan jeruk nipis, lidahku seakan gandrung untuk menyantap soto itu kembali. Apalagi sodoran tempe goreng berbalut terigu dan irisan daun bawang menambah kenikmatan tersendiri soto yang kami nikmati itu.

Kelar menyantap, aku pun panggil pemilik kedai menanyakan berapa harga yang mesti kami berdua bayar. Aku sedikit kaget mendengar harganya, ternyata semangkok soto dan beberapa tempe goreng yang kami makan hanya dibandrol Rp 8 ribu. Jadi total yang mesti aku bayar hanya Rp 16 ribu untuk dua mangkok soto dan beberapa tempe goreng yang bak pasangan serasi untuk disantap dengan hidangan soto itu. Sungguh harga yang murah bukan?

Karena Pak Taryo mesti bergegas pulang ke kampungnya, aku pun diantar kembali ke lokasi PT JKJ. Berhubung wawancara masih lama dan kami tiba terlalu pagi, Pak Taryo menanyaiku untuk sementara istirahat di mana sambil menunggu waktu wawancara tiba. Seperti biasa, aku sarankan untuk mencari musalah atau masjid terdekat dari lokasi. Dan Alhamdulliah, kami menemukan sebuah musalah yang berjarak tak jauh dari perusahaan. Di sana kebetulan ada seorang ibu-ibu yang rumahnya bersebelahan dengan musalah tengah menyirami bunga di halaman rumahnya. Pak Taryo langsung berinisiatif untuk meminta izin agar aku diperkenankan istirahat sejenak di musalah tersebut. Sang ibu dengan ramah mempersilakannya.


Ilustrasi: Musalah Dekat PT JKJ Indonesia


Aku dan Pak Taryo berpisah di sana. Aku sampaikan banyak terima kasih karena telah mengantar hingga ke tujuan, aku titipkan salam untuk anak dan istrinya di rumah. Semoga mereka diberikan kesehatan dan kelancaran rizki.

Aku masuk musalah dan mengganti bajuku dengan sebuah kemeja. Tak lama ibu tadi menghampiriku dan sedikit berbincang sembari memberiku beberapa roti. Namun karena aku sudah kenyang, aku masukkan ke dalam tas roti tersebut, untuk bekal di jalan pulang, pikirku.


Ilustrasi: Para Pekerja PT JKJ Indonesia di Tempat Parkir


Akhirnya waktu yang ditunggu tiba, sekitar pukul 10.00 WIB aku menghadap dua pewawancara. Mereka menelanjangi latar belakangku dan membicarakan beberapa hal, termasuk terkait perusahaan. Sampai akhirnya negosiasi gaji. Aku dengar umumnya gaji karyawan di sana sekitar Rp 2 jutaan. Untuk itu tatkala pewawancara menanyakan berapa gaji yang diminta, aku langsung menyebut angka Rp 2,7 juta.


Ilustrasi: PT JKJ Indonesia Tampak Depan


Aku pikir nominal tersebut merupakan angka yang wajar. Aku sudah membulatkan tekadku, dengan suasana yang begitu nyaman dan ongkos makan yang amat murah aku bisa bahagia hidup di sana. Aku benar-benar terkesan dengan daerah Jogonalan kala itu.

Akhirnya aku diminta untuk menunggu selama dua minggu, apakah aku diterima sebagai staf untuk mengurusi ekspor-impor di sana atau sebaliknya. Sejak saat itu aku kerap merapalkan doa supaya bisa diterima pada perusahaan tersebut.

Aku pun beranjak dari sana, keluar dari gerbang yang tampak dicat dengan warna biru telor asin itu. Di depan gerbang tampak banyak pedagang yang berjejer di pinggir jalan. Mulai dari pedagang makanan bahkan pedagang perabotan rumah tangga pun ada di sana. Aku rasa para pedagang ini amat mempermudah para buruh pabrik di sana mencari kebutuhan sehari-hari. Jadi pas jam istirahat atau pulang kerja, mereka bisa berbelanja terlebih dulu di sekitar pabrik.


Ilustrasi: Salah Seorang Pedagang di Depan PT JKJ Indonesia


Karena aku berencana langsung pulang, maka aku bergegas beranjak dari sana. Lokasi PT JKJ yang cukup masuk ke dalam perkampungan membuatku mesti berjalan terlebih dahulu ke arah jalan raya. Setelah ku cek di Google Maps, jalan dimaksud ialah Jalan Pasar Deli. Sampai di sana aku beristirahat di sebuah warung yang tak jauh dari jalan masuk ke PT JKJ. Sambil aku aku tanyakan jalan pulang menuju Jogja.


Ilustrasi: Gang Menuju PT JKJ Indonesia


Aku masih jauh dari jalan utama menuju Jogja, seorang bapak penjaga warung bilang kalau di sana tak ada kendaraan umum. Tukang ojek pun jarang. Alternatif transportasi satu-satunya yang bisa mengantarku ke jalan utama adalah truk pasir.


Ilustrasi: Gang Utama ke PT JKJ Indonesia


Jalan Pasar Deli ini memang salah satu penghubung antara penambangan pasir di lereng Merapi ke daerah sekitarnya. Pantas saja jika di jalan sana sering ditemui lalu-lalang truk pengangkut pasir.

Usai menyantap makanan yang lagi-lagi dengan harga yang murah, sang bapak itu memintaku untuk menunggu sebentar di sana. Tak lama ia menyeberang ke arah jalan untuk menghentikan sebuah truk pasir yang tengah melaju. Di sana ia tampak tengah berdialog dengan sang sopir. Sampai akhirnya dari seberang jalan sang bapak melambaikan tangannya sebagai isyarat agar aku mendekat. Aku pun beranjak dari warung itu dan sesegera mungkin menghampiri sang bapak.

Sang bapak bilang bahwa nanti aku bisa menumpang truk pasir itu. Di sana sopir pun mengizinkanku untuk naik. Aku langsung menuruti hal itu. Sang bapak bilang bahwa truk itu akan mengantarku sampai ke jalan utama.

Aku pun berterima kasih kepada sang bapak, sebelum truk itu berangkat ada pesan yang disampaikan sang bapak kepada sopir. Pesan itu yang hingga kini membuatku sulit untuk melepaskan hatiku dari sana. Bapak berpesan kepada sopir agar menjaga saudaranya dari Indramayu. Saudaranya maksudnya adalah aku. 


Ilustrasi: Penampakan Warung Si Bapak


Aku duduk di samping sopir, ia tampak ramah dan di perjalanan kita banyak berbincang. Sampai tak terasa aku telah sampai di jalan utama tepat aku menunggu bis yang akan membawaku ke arah Jogja.


Ilustrasi: Jalan Utama ke Jogja


Dari sana, tujuanku selanjutnya adalah Purwokerto. Badanku amat letih tapi entah mengapa, saat itu perasaanku begitu riang. Hingga kini, aku masih merindukan tempat itu. Semoga suatu hari nanti aku bisa menyapamu lagi Jogonalan.

Jumat, 18 Januari 2019

Uyghur: Tanggung Jawab Moril Bangsa Indonesia



Ilustrasi: Pixabay.com


Setiap negara dibangun di atas landasan kedaulatannya masing-masing. Kedaulatan secara sederhana dipahami sebagai kebebasan suatu negara untuk menjalankan roda pemerintahannya masing-masing.

Kedaulatan sudah ada bahkan sebelum munculnya konsep negara-bangsa. Kedaulatan melekat dalam setiap bentuk pemerintahan, seperti juga dalam sistem kerajaan pra-nation-state.

Kedaulatan merupakan otoritas dari suatu negara untuk mengurusi urusan internalnya masing-masing. Intervensi dari pihak luar, terlebih lagi pihak yang tidak mempunyai kepentingan dengan suatu pemerintahan tersebut jelas tidak dibenarkan. Hal itu merupakan asumsi dasar dari kedaulatan secara superfisial.

Penegakan kedaulatan suatu negara bukan tanpa tantangan. Terlebih lagi di era yang menghendaki penyebaran informasi begitu cepat merambah ke penjuru dunia. Jika ada sesuatu yang dilakukan oleh suatu negara--meskipun di dalam wilayah negaranya--, dan menurut 'pakem' atau norma internasional bertentangan, maka tekanan terhadap negara itu akan banyak disuarakan. Tidak terkecuali dengan apa yang dilakukan oleh otoritas China terhadap komunitas Muslim Uyghur.

Seperti telah banyak diketahui bahwa pemerintah China memembuat kemp detinasi bagi kurang lebih satu juta komunitas Muslim Uyghur di wilayah timur negara itu. Bagi kita yang memang belum memahami secara jernih akar filosofis dari mengapa banyak yang menekan China terkait isu tersebut, maka tulisan ini adalah jawabannya. Dan, bagi kalian yang "menentang" kecaman publik secara luas terhadap prilaku pemerintah China karena berdalih bahwa "itu urusan internal China", maka baca coretan ini hingga selesai.

Penegakan Akan Nilai

Aktivitas hubungan suatu negara pada dasarnya mirip seperti aktivitas seorang manusia. Hal ini dapat dipahami mengingat negara dijalankan oleh sekumpulan manusia bukan robot. Layaknya manusia, negara dalam berhubungan terikat dalam suatu norma dan tata aturan yang berlaku secara internasional. Hanya saja yang memebedakan adalah bahwa negara tidak memiliki institusi yang dapat menghukum jika ia melanggar aturan tersebut, sedangkan manusia ada, yakni institusi yang dibuat oleh negara. Hal tersebut lazim disebut sebagai 'anarki'. Karena tidak ada institusi di atas negara yang berhak dan punya otoritas untuk menghukum negara.

Namun meskipun negara hidup dalam lingkungan yang anarki, bukan berarti negara tidak bisa dihukum. Ada beberapa mekanisme penghukuman oleh aktor yang pada dasarnya tidak mempunyai otoritas, misalnya saja sanksi ekonomi atau tekanan publik internasional. Serupa dengan manusia, jika seorang individu melanggar norma yang tingkatannya cukup berat, maka ia akan mendapatkan sanksi sosial oleh orang-orang di sekitarnya (masyarakat). Namun yang menjadi pertanyaan norma apa yang berlaku bagi suatu negara?

International Order


Pasca kemenangan blok Sekutu atas blok Poros dalam Perang Dunia II yang telah terjadi lebih dari 70 dasawarsa yang lalu, menjadikan mereka sebagai pemain dominan dalam perpolitikan internasional. Blok Poros yang terdiri dari pemain utama seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, Prancis, dan juga Uni Soviet kala itu mengusung norma yang terlahir dari rahim peradaban Barat, yakni demokrasi-kapitalis dan komunisme ala Soviet.

Demokrasi-kapitalis dan komunisme sebenarnya berbeda, namun keduanya bersatu dalam Perang Dunia II demi melawan Nazisme--terlebih lagi fasisme--yang dikembangkan oleh Adolf Hitler dari Jerman selaku negara yang tergabung kedalam blok Poros. Dan setelah Blok Poros yang mempunyai dua ideologi tersebut menang melawan fasisme-Nazisme, kemudian keduanya (demokrasi-kapitalis dan komunisme) saling berkompetisi untuk menyebarkan nilai-nilainya.

Demokrasi-kapitalis diwakili oleh Amerika, sedangkan komunisme diwakili oleh Uni Soviet, selama empat dasawarsa saling berkompetisi menjadi dominator dalam konstalasi perpolitikan internasional. Singkatnya, kopetisi dimenangkan oleh demokrasi-kapitalis saat di akhir dekade 1980-an, Uni Soviet sekarat dan akhirnya runtuh di tahun 1989. Keruntuhan Uni Soviet selaku pengusung komunisme banyak dilihat sebagai keruntuhan ideologi komunisme itu sendiri. Komunisme berakhir--meskipun belum mati sepenuhnya karena idenya masih melekat di pikiran beberapa orang--dan meninggalkan demokrasi-kapitalis yang menurut Francis Fukuyama sebagai ideologi akhir dalam perkembangan sejarah umat manusia atau ideologi final.

Demokrasi-kapitalis memiliki sekumpulan perangkat nilai yang saat ini menjadi nilai universal bagi negara-negara di dunia. Nilai tersebut salah satunya ialah Hak Asasi Manusia (HAM) atau human rights. Sebagai negara yang mengaku demokratis, Indonesia juga mengakui nilai HAM. Bahkan nilai ini diatur dalam undang-undang di negara kita.

HAM mempunyai begitu banyak turunan nilai lainnya. Namun secara umum, nilai HAM dipahami secara sederhana sebagai nilai apa saja yang menghargai harkat dan martabat seorang manusia--nilai kemanusiaan.

Mencederai Kemanusiaan


Tidak perlu investigasi mendalam untuk bisa mengetahui bahwa China melakukan pelanggaran HAM atas aksinya terhadap Muslim Uyghur. Klaim deradikalisasi oleh negara tersebut tidak lebih dari alasan baginya untuk meredam kecaman publik internasional. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah suatu bentuk penghhianatan akan nilai kemanusiaan.

Sama seperti seorang individu yang melanggar suatu norma sosial di tengah-tengah masyarakat, China juga demikian. Ia melanggar nilai kemanusiaan, dan sudah suatu konsekuensi bagi setiap aktor internasional yang melanggar nilai tersebut pasti akan mendapat kecaman, baik dari publik maupun dari aktor politik lain yang setara (negara).

Bagi China, sanksi yang diterimanya cukuplah ringan. Mengingat banyak negara yang tidak berkutik menghadapi raksasa ekonomi ini. Andaikata tindakan yang sama dilakukan oleh negara 'powerless' seperti halnya Iraq, Iran atau juga Libya, maka sanksi yang didapatkan pasti akan lebih berat, bisa sampai penyerbuan (invasi) oleh negara lain (Amerika dan sekutunya).

Dalih Kedaulatan


Tekanan publik dan aktor internasional terhadap negaranya dianggap oleh China sebagai bentuk intervensi pihak luar terhadap urusan domestiknya. Bahkan pemerintah Indonesia juga bersikap demikian, hal ini disempaikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla.

Dalam sebuah acara di Hotel Fairmont, Jakarta (CNN Indonesia, 17/12/2018), Kalla menegaskan bahwa dirinya menentang penindasan komunitas Muslim Uyghur di China. Kendati demikian, Kalla juga mengatakan bahwa 'pemerintah Indonesia tidak bisa ikut campur terkait permasalahan yang terjadi, dan hal itu menjadi urusan dalam negeri pemerintah China'.

Dalih kedaulatan menjadi senjata utama rezim komunis China untuk menghindari tekanan publik dan aktor-aktor internasional. Pemerintah Indonesia pun seakan tergiring kedalam opini yang dikembangkan oleh China dengan mengatakan hal yang senada dengan yang disampaikan oleh pemerintah China. Pernyataan yang dikatakan oleh Jusuf Kalla bagi saya cukup disayangkan. Pernyataan ini akhirnya memantik opini di tengah-tengah umat Muslim di Indonesia bahwa pemerintah telah berlepas tangan atas penindasan yang dialami oleh saudara Muslimnya di Xinjiang.

Dalih Tertolak

Klaim menjaga kedaulatan dalam konteks isu Uyghur pada dasarnya telah tertolak. Hal ini disebabkan karena tindakan China yang telah secara sengaja melanggar norma kemanusiaan terhadap warga negaranya sendiri. Jika hal ini dibenturkan dengan konsep "tanggung jawab untuk melindungi/responsibility to protect", maka konsep kedaulatan akan runtuh.

Secara singkat responsibility to protect (R2P) dipahami sebagai sebuah konsep norma yang menyatakan bahwa kedaulatan bukan hak mutlak dan negara kehilangan sebagiannya apabila negara gagal melindungi penduduknya dari kejahatan dan pelanggaran HAM massal. R2P akan digunakan tatkala suatu pemerintahan melakukan kejahatan HAM massal, seperti kejahatan perang, genosida, pembersihan etnis, dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Setiap aktor dalam politik internasional memiliki tanggung jawab untuk melindungi warga sipil dari berbagai kejahatan HAM tersebut, namun dalam konteks ini aktor tersebut adalah negara.

Emberio R2P muncul berawal dari keresahan para aktor politik internasional melihat berbagai pelanggaran HAM massal yang dilakukan oleh suatu pemerintah terhadap rakyatnya. Konsep ini berakar dari asumsi "hak untuk mengintervensi" dan tanggung jawab "kemanusiaan". Hak untuk mengintervensi urusan domestik (kedaulatan) negara lain muncul tatkala pemerintah dalam suatu negara gagal dalam melindungi rakyatnya dari kekerasan komunal. Jika situasi ini terjadi, maka berbagai aktor politik internasional (negara) memiliki tanggung jawab kemanusiaan untuk melindung warga negara di suatu negara yang pemerintahannya melakukan kekerasan komunal tersebut. Atau dengan kata lain, setiap negara yang beradab mempunyai tanggung jawab kemanusiaan untuk melindungi manusia di seluruh dunia tanpa terbatas oleh sekat-sekat kedaulatan (universalitas kemanusiaan).

R2P dalam Panggung Sejarah Islam

Jika kita meninjau kembali dalam perkembangan sejarah peradaban Islam, maka kita tahu bahwa R2P secara prinsipiil sebenarnya tidak begitu asing. Pada masa kekuasaan Khalifah al-Mu'tashim Billah yang merupakan khalifah kedelapan Dinasti Abbasiyah, terjadi peristiwa heroik yang menggambarkan R2P dalam sejarah Islam.

Kota Amurriyah merupakan sebuah kota di pesisir. Kala itu kota tersebut dikuasai oleh Romawi. Terdengar kabar oleh Khalifah al-Mu'tashim bahwa seorang Muslimah (wanita Muslim) ditawan oleh bala tentara Romawi di kota itu. Wanita itu mengatakan, "Wahai Muhammad, Wahai Mu'tashim!". Setelah Khalifah al-Mu'tashim mendengar kabar tersebut, ia dan pasukannya langsung menunggangi kuda untuk menuju ke kota tersebut. Muslimah tersebut akhirnya berhasil dibebaskan dan kota Amurriyah juga akhirnya dikuasai oleh Khalifah al-Mu'tashim.

Kisah heroik R2P dalam sejarah Islam lainnya juga terjadi di Andalusia. Kisah ini terjadi pada era kepemimpinan Sultan al-Hajib al-Manshur dari Daulah Amiriyah di Andalusia. Kala itu Daulah Amiriyah menyiapkan pasukan di gerbang masuk Kerajaan Navarre demi menyelamatkan tiga Muslimah yang ditawan di sana.

Kisah dimulai tatkala utusan dari Daulah Amiriyah pergi ke Kerajaan Navarre. Sang utusan berjalan berkeliling bersama raja Navarre, ia kemudian menemukan tiga Muslimah ditawan di dalam sebuah Gereja di sana. Mengetahui hal tersebut, utusan Sultan al-Hajib tersebut marah besar dan ia melaporkan kejadian tersebut kepada sang sultan.

Mendengar hal tersebut, Sultan Hajib langsung mengirimkan pasukan besar demi menyelamatkan tiga wanita Muslim tersebut. Raja Navarre begitu kaget ketika melihat begitu banyak jumlah pasukan Muslim mengepung kerajaannya. Ia pun berkata, "Kami tidak tahu untuk apa kalian datang, padahal antara kami dengan kalian terikat perjanjian untuk tidak saling menyerang." Dari pihak pasukan Muslim menjawab bahwasanya Kerajaan Navarre telah menawan tiga orang wanita Muslim. Pihak Kerajaan Navarre membalas bahwa pihaknya sama sekali tidak mengetahui akan hal tersebut. Setelah tiga wanita itu dibebaskan, pihak Kerajaan Navarre pun menulis surat permohonan maaf atas tragedi tersebut dan perang urung meletus.

Tanggung jawab kemanusiaan lebih jauh dicontohkan oleh Sultan Abdul Majid I, yang merupakan seorang khalifah dari Kekhilafahan Ottoman yang berkuasa pada periode 1823-1861. Pada masa di antara tahun 1845 hingga 1852, terjadi tragedi yang dikenal dengan sebutan 'Great Famine/Great Hunger' atau Kelaparan Besar yang merupakan suatu periode di mana terjadi kelaparan, wabah penyakit, dan migrasi secara massal di Irlandia.

Tragedi yang dalam bahasa Irlandia dikenal dengan sebutan 'an Gorta Mor' ini dipicu oleh kegagalan pertanian kentang yang merupakan bahan makanan pokok di sana kala itu. Diperkirakan satu juta orang terbunuh dan satu juta orang lagi terapaksa meninggalkan tanah airnya demi menghindari wabah kelaparan mematikan tersebut. Di tengah-tengah horor yang mematikan tersebut, Kekhilafahan Ottoman datang untuk memberi bantuan kepada rakyat Irlandia.



 Sultan Abdul Majid I
Ilustrasi: Wikimedia.org


Sultan Abdul Majid I menyatakan niatnya untuk memberi bantuan kepada rakyat Irlandia sejumlah £10.000, namun Ratu Victoria kala itu mengintervensi dan meminta kepada sang sultan untuk hanya memberikan bantuan sejumlah £1.000. Hal ini dikarenakan sang ratu telah memberikan bantuan sejumlah £2.000 kepada Irlandia. Namun meskipun begitu, sang sultan juga secara rahasia mengirimkan empat hingga lima kapal yang penuh dengan bahan makanan kepada Irlandia. Inggris berusaha memblokade kapal penuh makanan tersebut, namun kapal-kapal tersebut berlayar ke arah Sungai Boyne (An Bhoinn/Abhainn na Boinne) dan membongkar muatan penuh bahan makanan tersebut di Dermaga Drogheda (Droichead Atha).

Sultan Abdul Majid I telah mengejawantahkan semangat yang terkandung dalam prinsip R2P meskipun R2P sendiri belum dicetuskan kala itu. Sultan dan rakyat Ottoman tanpa memandang suku, ras, apalagi agama dengan besar hati memberikan bantuan kepada rakyat Irlandia yang sama sekali berbeda secara identitas dengannya. Meskipun upayanya untuk membantu Irlandia dihalangi oleh Inggris, namun sultan tidak patah arang den lepas tangan untuk membantu. Hal ini tentu saja membuktikan bahwa semangat R2P sudah hadir dalam panggung sejarah Islam jauh sebelum ia dicetuskan pada era modern.

Beberapa penggalan kisah di atas memamang tidak menggambarkan R2P seperti yang kita pahami saat ini. Namun begitu, di antara kisah-kisah tersebut terdapat prinsip yang sejalan dengan R2P, yakni melindungi "manusia" dan tanggung jawab institusi politik (kerajaan/negara) untuk menjamin perlindungan terhadap manusia.

Amanat Kemanusiaan dalam Dasar Negara

Konstitusi Indonesia dibuat tanpa meninggalkan nilai kemanusiaan di dalamnya. Dalam alenea ke-empat Pembukaan UUD'45 RI termaktub secara jelas bahwa negara ini ikut bertanggung jawab dalam menjaga ketertiban dunia yang berdasarkan 'kemerdekaan, perdamaian abadi (perpetual peace), dan keadilan sosial'.

Amanat konstitusi tersebut jelas memaksa bangsa Indonesia untuk terlibat ke dalam kancah internasional untuk menegakkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan juga keadilan sosial bagi seluruh umat manusia. Namun semua itu bisa terjadi tatkala pemerintah memiliki kemauan politik untuk menjalankannya. Jika tidak, maka komitmennya terhadap konstitusi sudah selayaknya dipertanyakan.

Suara Penolakan

Tidak semua pihak atau aktor politik internasional mendukung prinsip R2P. Beberapa dari mereka menganggap bahwa kedaulatan suatu negara harus tetap dihargai tanpa memandang kondisi dan situasi. Negara-negara di Asia Tenggara yang tergabung kedalam regionalisme ASEAN (Association South East Asia Nations) termasuk kubu yang berada di barisan para penolak R2P tersebut.

ASEAN memiliki prinsip yang menolak segala bentuk intervensi atas kedaulatan suatu negara. Prinsip ini dikenal dengan nama 'Non-Interference Principle' atau prinsip non-intervensi. Prinsip ini merupakan fondasi bagi kerja sama di antara negara-negara ASEAN. Prinsip non-intervensi dinyatakan dalam Treaty of Amity and Cooperation ASEAN February 27, 1976.

Pada tahun 1997 suara untuk memodifikasi prinsip non-intervensi di ASEAN mulai terdengar. Tepatnya pada Juli 1997, Deputi Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim kala itu meminta ASEAN untuk mengadopsi prinsip "constructive intervention" di Kamboja. Satu tahun kemudian, Menteri Luar Negeri Thailand kala itu, Surin Pitsuwan menganggap bahwa prinsip non-intervensi ASEAN harus diganti dengan "constructive intervention" tatkala masalah domestik dalam suatu negara anggota ASEAN mengancam stabilitas regional. Surin kemudian mengembangkanya menjadi "flexible engagement".



  ASEAN Region
Ilustrasi:Wikimedia.org

Flexible engagement merupakan terobosan terbaru kala itu untuk perubahan cara diplomasi di ASEAN. Secara sederhana flexible engagement merupakan perbincangan yang dilakukan antar negara-negara ASEAN demi mendiskusikan masalah-masalah domestik negara-negara tersebut tanpa maksud mengintervensi urusan domestik mereka. Proposal "flexible engagement" Thailand didukung oleh Filipina, namun proposal ini mendapat kritikan pedas dari Myanmar dan ditolak oleh Indonesia, Malaysia, dan Vietnam. Dan akibatnya, prinsip non-intervensi sampai saat ini masih menjadi pedoman bagi negara-negara ASEAN. Hal inilah yang menyebabkan tidak berkutiknya negara-negara ASEAN terhadap beberapa isu kemanusiaan yang terjadi di wilayah kedaulatan sesama anggotanya. Bagi negara-negara ASEAN, intervensi jelas tidak dibenarkan karena bertentangan dengan prinsip yang selama ini mereka emban, yakni prinsip saling menghormati dan menghargai kedaulatan sesama anggotanya. Konsep itu dikenal dengan nama 'ASEAN Way'.

Selain itu, R2P juga mendapat kritikan pedas secara praktikal. Hal ini dikarenakan nafsu AS dan para sekutunya untuk menacapkan pengaruhnya di Libya. Intervensi ke Libya pada 2011 merupakan contoh paling baru dari pengejawantahan R2P. Kala itu, Kolenel Qaddafi yang merupakan penguasa Libya dituduh melakukan pelanggaran HAM berat terhadap rakyatnya sendiri. Oleh karenanya, AS dan sekutunya merasa mempunyai tanggung jawab kemanusiaan untuk menghentikan mimpi buruk di sana. Mereka pun melancarkan serangan udara terhadap basis pertahanan loyalis Qaddafi sampai akhirnya sang kolonel terbunuh di tangan rakyatnya sendiri.

Aksi pongah yang dipertontonkan AS dan sekutunya tersebut membuat publik internasional geram. Dan dari sinilah akhirnya konsep R2P secara praktikal diperdebatkan dan mendapatkan kritikan yang tajam.

Intervensi Kemanusiaan yang Berkemanusiaan

Sejak AS dan sekutunya mencontohkan secara brutal intervensi kemanusiaan di Libya. Prinsip ini akhirnya dipandang jelek oleh sebagian publik internasional. Apa yang dilakukan AS di Libya pada 2011 lalu ternyata justru mendistorsi prinsip mulia dari R2P itu sendiri.

Kita tentu saja tidak sejalan dengan R2P atau intervensi kemanusiaan yang dicontohkan oleh Amerika dan sekutunya, namun bukan berarti kita menolak intervensi kemanusiaan secara keseluruhan. Sebagai bangsa yang masih mengaku beradab dan sebagai bangsa yang mengaku berpakem kepada undang-undang dasarnya, maka sudah menjadi kewajiban bagi kita (pemerintah Indonesia) untuk berperan menghentikan berbagai mimpi buruk kemanusiaan. Tidak terkecuali ikut berperan secara aktif untuk menghentikan apa yang menimpa komunitas Uyghur di Xinjiang, China. Dan saya tekankan bahwa itu terjadi jika kita masih mengaku sebagai bangsa yang "beradab".

Yopi Makdori, Grendeng Thinker (Grenthink)

REFERENSI

Anwar Ibrahim (21 Juli 1997). "Crisis Prevention", dalam Newsweek International.

CNN Indonesia (17/12/18). "JK Tolak Penindasan Terhadap Muslim Uighur di China". Diakses melalui: https://m.cnnindonesia.com/nasional/20181217140715-20-354266/jk-tolak-penindasan-terhadap-muslim-uighur-di-china, pada 16/01/2019

Eibhlin O'Neill (29 Desember 2016). "The Story of Turkish Aid to the Irish during the Great Hunger". Diakses melalui: https://www.transceltic.com/blog/story-of-turkish-aid-irish-during-the-great-hunger, pada 18/01/2019

Gareth Evans (2008). "The Responsibility to Protect : Ending Mass Atrocity Crimes Once and for All". Washington, D.C.: Brookings Institution Press

Hidayatullah (27/02/2015). "Beginilah Islam Membela Para Muslimah". Diakses melalui: https://m.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2015/02/27/39594/beginilah-islam-membela-para-muslimah.html, pada 17/01/2019

Linjun WU. "East Asia and The Principle of Non-Intervention: Policies and Practices." Maryland Series in Contemporary Asia Studies. Number 5-2000 (160).

Ruben Reike. "Libya and Responsibility to Protect: Lessons for the Prevention of Mass Atrocities." St. Antony's International Review. Vol 8, No. 1.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Minggu, 19 Agustus 2018

Saatnya Menerjemahkan Wacana


Ilustrasi: Dokumentasi Sekar Sosiologi Unsoed 2015

Desa Sukawera merupakan salah satu desa di pinggur Kabupaten Majalengka yang dekat dengan perbatasan wilayah Indramayu Selatan. Sebagian besar masyarakat di desa ini bermata pencaharian sebagai petani dan buruh kasar ke kota-kota besar. Banyak dari penduduk di desa ini juga memilih untuk mencari penghasilan ke luar negeri sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja dalam sektor informal.

Banyak anak-anak di desa ini dan desa-desa di wilayah Kecamatan Ligung dan sekitarnya mengalami kesulitan untuk mengakses pendidikan formal yang bermutu. Karena impitan ekonomi, banyak anak-anak yang terpaksa untuk putus sekolah dan lebih memilih untuk bekerja membantu orang tua.

Misalnya seperti yang dialami oleh Saroji (16), anak seorang buruh pembuat batako di Manado. Ia terpaksa harus menghentikan jenjang pendidikan formalnya karena keterbatasan biaya orang tuanya. Keadaan memaksanya untuk berhenti bersekolah sejak kelas satu SLTA. Jika ia bisa melanjutkan sekolah, saat ini ia menginjak kelas dua SLTA.


Saroji (16)

Sehari-hari ia mengangkut jeriken yang berisi air ke para tetangga yang memesan jasa angkut airnya. Wilayah Desa Sukawera memang dikenal memiliki sumber air yang dalam. Dan sebagian besar keluarga di sini masih sedikit memiliki pompa air, oleh karenanya bagi rumah-rumah yang tidak memiliki sumur yang dalam, maka saat musim kemarau seperti saat ini mereka mengandalkan jasa angkut air seperti Saroji.

Sekali angkut dengan sepeda pribadinya yang dapat memuat dua jeriken air dalam waktu sekitar 7 menitan ia diupah sebanyak Rp. 2500. Sehari rata-rata ia hanya mengantongi uang sebanyak Rp. 10.000. Baginya uang tersebut sudah sedikit membantu kuangan keluarganya.

Kisah lain juga dialami oleh Dedi (17), Dedi merupakan satu angkatan dengan Saroji. Mereka juga berasal dari satu sekolah, yakni MTS Negeri 3 Majalengka. Pasca lulus dari MTS tersebut, Dedi juga tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Sama seperti Saroji, Dedi juga mengalami kesulitan dalam hal pembiayaan. Orang tuanya yang hanya berprofesi sebagai kuli bangunan memaksanya untuk rela harus putus sekolah.


Dedi (17)

Aktivitas kesehariannya diisi dengan membantu pekerjaan orang tuanya untuk mengurusi ternak kambing. Lima kambing milik orang tuanya tersebut setiap hari ia yang bertanggung jawab untuk memberinya rumput segar dari kebon. Mulai sekitar jam 9 hingga menjelang zuhur ia mencari rumput untuk makan para ternak tersebut. Setelah itu, sekitar habis asar hingga menjelang magrib ia juga kembali mencari rumput untuk dihidangkan kepada kelima kambing milik orang tuanya tersebut esok hari.

Risna (17) juga mengalami hal yang sama. Ia harus putus sekolah yang lagi-lagi terganjal masalah biaya. Gadis berkulit sawo matang ini dengan malu-malu mengungkapkan kepada penulis bahwa dirinya terpaksa putus sekolah karena kemampuan ekonomi keluarganya yang tidak mendukung. Ayahnya sudah tidak bekerja, kehidupan sehari-hari keluarganya ditopang oleh sang kakak yang bekerja di luar pulau.

Aktivitasnya hanya ia habiskan dengan membantu mengurusi berbagai tanggungjawab di rumah. Di usianya yang mestinya menginjak kelas tiga SLTA, ia terpaksa melepas status pelajarnya hanya gara-gara impitan ekonomi.

Dukuh Asih Institut sebagai Oasis di Tengah Padang

Hadirnya Dukuh Asih Institut (DAI) yang dulu bernama Dukuh Asih Learning Center (DALC) di desa ini seakan dapat memberikan hawa kesejukan di tengah-tengah padang gersang kebodohan karena faktor ekonomi. Dukuh Asih Institut yang dimotori oleh Pak Asep (penulis biasa memanggilnya dengan "Kang Asep") telah berjalan selama lebih dari 6 tahun. Sejak 2012, Pak Asep berusaha merangkul anak-anak di sini, baik yang masih sekolah maupun yang sudah putus sekolah untuk belajar berbagai ilmu dan keterampilan.

Baginya, hal ini adalah caranya untuk berjuang memerangi kebodohan. Anak-anak di DAI diberi berbagai keterampilan seperti public speaking, seni baca Al Quran, khotbah Jum'at, komputer, menulis, mengajar, broadcasting, bertani, beternak, dan berbagai keterampilan lainnya. Di DAI juga anak-anak diberi bekal ilmu agama dan juga ilmu-ilmu keduaniawian. Hal tersebut bertujuan membuat bekal ilmu yang dimiliki oleh anak-anak dapat seimbang.

DAI memiliki alamat lengkap di Dusun Dukuh Asih RT/RW 002/005, Desa Sukawera, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka. DAI merupakan langkah nyata dari Pak Asep dan kawan-kawannya untuk memerangi kebodohan, khususnya di wilayah Desa Sukawera, dan wilayah Kecamatan Ligung pada umumnya.

Sabtu, 11 Agustus 2018

Bangsa Penipu


Ilustrasi: Pqsels.com

Yopi Makdori

Sore itu aku kumpul di suatu tempat dengan beberapa rekan untuk membicarakan beberapa "isu strategis". Smartphone yang ku letakkan di lantai beralaskan karpet plastik yang terlihat masih baru bergetar begitu keras. Aku mencoba acuh dengan tidak meliriknya sama sekali. Namun getaran itu tak kunjung berhenti seakan meminta mata ku untuk menatapnya.

Minggu, 07 Januari 2018

Oposisi Biner ala Anak PAUD


Ilustrasi: Pxfuel.com

Muhammad Iskandar Syah

Radikalisasi di kalangan anak muda di negeri ini kerap kali dipersepsikan sebagai benih-benih dari tindakan terorisme. Narasi seperti ini terus menerus digaungkan, baik oleh para [katanya] intelektual, politikus, publik figur, maupun para anak muda unyu-unyu yang sok nasionalis. Banyak sesat-sesat pikir dalam narasi tersebut, misalnya saja tidak berangkat dari realitas atau fakta, identifikasi apa yang disebut Islam radikal atau pembangunan konsepsi, hanya melihat kasus sebagian kecilnya saja tanpa secara global dengan menggunakan mata elang, level analisis motif pelaku (jika Islam) langsung tertuju pada “belief system”, dan mengesampingkan faktor lain seperti faktor struktural, kondisi psikologis, kebijakan, kondisi lingkungan, keadaan ekonomi, dan lainnya.

Bagi mereka yang mencoba bersikap kritis atas kesesatan-kesesatan berpikir dalam narasi tersebut langsung dihantam dengan stempel “pendukung terorisme”. Memang benar karakteristik pengemban paham “sesat pikir” jika dikritik atau diluruskan akan menggunakan logika sesat juga. Mereka menggunakan oposisi biner rendahan ala anak PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), penalaran mereka seperti ini: “Mereka merupakan agen anti-terorisme, maka hanya teroris dan pendukungnyalah yang kontra terhadap mereka”. Hal ini jelas menggunakan oposisi biner bak anak PAUD yang belum bisa bernalar secara kompleks.

Oposisi biner ala anak PAUD ini jelas logika sesat yang terus-menerus mereka pupuk di tengah-tengah masyarakat supaya tertanam opini di tengah-tengah mereka bahwa hanya pendukung terorismelah yang berani mengkritik agen anti-terorisme itu. Sungguh sangat disesalkan, di tengah-tengah peradaban yang menjungjung tinggi nalar dan ilmu pengetahuan kesesatan-kesesatan ini masih saja ada bahkan justru sengaja dipelihara supaya diamini oleh seluruh masyarakat di negeri ini.

Seharusnya jika mereka benar-benar hendak memberantas segala bentuk tindakan terorisme bukanlah berangkat dari kesesatan-kesesatan berfikir seperti itu. Karena, jika fondasinya saja sudah sesat apalagi bangunannya sudah pasti akan lebih ngawur dan hal ini akan berimplikasi pada ketidakefektifan kebijakan anti-terorisme itu sendiri. Maka tidak heran jika program-program anti-terorisme bukan malah menghilangkan terorisme justru membuat jutaan umat Islam di negeri ini merasa geram karena seakan-akan menyasar kepada ajaran-ajaran Islam. Hal tersebut bukanlah tanpa sebab, hal itu terjadi tentu saja karena kesesatan logika yang telah dibangun sejak awal,yakini tidak mengidentifikasi secara jelas apa itu akar terorisme. Mereka langsung berangkat pada satu kesimpulan (yang menjadi doktrin) bahwa akar segala bentuk tindakan terorisme ialah radikalisme Islam. Lebih parah lagi, mereka tidak membangun secara jelas konsepsi radikalisme Islam. Kalaupun konsepsi itu berusaha dibangun, implementasi dalam setiap program-programnya tidak seirama dengan konsepsi radikalisme yang telah dikonstruksikan.

Bagi kita yang sudah terbiasa dijejali narasi sesat ini mungkin akan merasa biasa saja melihat berbagai kesesatan-kesesatan berpikir yang terus-menerus digaungkan ke masyarakat di negeri ini. Namun bagi saya, hal ini begitu membuat risi nalar waras yang telah dibangun oleh para guru dan dosen saya yang begitu saya hormati. Melihat kondisi seperti ini, seakan logika dan nalar waras saya dicabik-cabik dan diinjak-injak. Maka jika hal ini terus-menerus dibiarkan bukan tidak mungkin jika saat ini kita masih dalam abad kegelapan, di mana logika dan ilmu pengetahuan berusaha di matikan dan disingkirkan di pojok tergelap negeri ini.

*Pertama kali diterbitkan dalam Opinimahasiswa.com

Rabu, 03 Januari 2018

Membuka [Kembali] Perdebatan Intelektual tentang Terorisme



Ilustrasi: Picpedia.org

Muhammad Iskandar Syah

Setiap menghadiri diskusi tentang terorisme maupun radikalisme kerap kali disuguhi alur yang tidak masuk akal bagi saya. Sang pembicara kerap kali tidak berangkat dari sebuah konsepsi yang jelas tantang term-term inti yang digunakan dalam diskusi tersebut. Misalnya saja diskusi itu tentang bahaya radikalisme, sang pembicara sering kali langsung memaparkan bahaya-bahaya dari radikalisme itu, tanpa berangkat dari konsepsi radikalisme dan perdebatan-perdebatannya. Contoh lainnya ketika diskusi itu membahas mengenai hubungan radikalisme-terorisme, kerap kali sang pembicara yang katanya "intelek" langsung loncat kepada kesimpulan bahwa radikalisme merupakan akar dari setiap tindakan terorisme dewasa ini. Lebih memalukan bagi saya ialah mengingat bahwa diskusi tersebut bukanlah diskusi di warung kopi, alias diskusi itu diskusi ilmiah yang seharusnya sang pembicara menjabarkannya secara obejektif.

Sejak peristiwa 9/11, yakini sebuah peristiwa besar yang menodai kedigdayaan Amerika Serikat (AS), isu terorisme begitu menjadi perhatian para peneliti dari berbagai bidang. Mereka bertahun-tahun berkutat dalam peneliti mengenai isu tersebut. Di ranah intelektual begitu banyak perdebatan mengenai isu ini, mulai dari motif, akar, tujuan, faktor perangsang, dan lain sebagainya. Kekayaan khazanah keilmuan mengenai isu ini tidak berbanding lurus dengan hilangnya kabut gelap yang menghalangi penglihatan akan kebenaran dalam isu terorisme oleh publik. Publik seakan dibuat buta oleh isu terorisme, maka di titik buta inilah segerombolan pihak yang sarat akan kepentingan memberikan gambaran akan isu terorisme menurut klaim kebenaran pihaknya.

Pihak inilah yang membawa isu terorisme yang di ranah intelektual penuh dengan perdebatan, kini menjadi klaim kebenaran sepihak oleh mereka. Merekalah pihak yang menutup perdebatan dalam isu ini. Perdebatan yang paling kentara ialah mengenai apa akar dari terorisme? Di ranah publik perdebatan mengenai hal ini seakan ditutup rapat. Beberapa pihak langsung loncat pada satu kesimpulan bahwa terorisme yang terjadi saat ini memiliki akar dari radikalisme, yakini radikalisme agama. Tentu saja agama yang kerap kali dipersepsikan sebagai akar dari terorisme ialah Islam. Padahal hal itu merupakan perdebatan para cendekiawan dan realitasnya pun tidak menunjukan hal tersebut.

Menurut data yang dirilis oleh FBI [1], pada periode 1980-2005, 94% serangan terorisme yang terjadi di AS dilakukan oleh non-muslim, hal ini berarti serangan terorisme yang dilakukan di negara itu hanya 6% saja yang dilakukan oleh muslim, kecil bukan? Bahkan masih menurut laporan yang sama pula menyebutkan bahwa serangan terorisme yang dilakukan oleh Yahudi lebih banyak dibandingkan oleh muslim. Lalu mengapa radikalisme dalam Islam kerap kali dijadikan kambing hitam?

Apakah masih kurang bukti? Di benua Eropa terdapat lebih dari seribu serangan terorisme dalam kurun waktu 2009-2013, apakah muslim yang melakukan hal tersebut? Menurut data yang dirilis oleh Europol [2], hanya 2% saja serangan yang terjadi di Eropa dalam kurun waktu tersebut bermotif keagamaan. Di tahun 2011 saja terdapat sebanyak 174 serangan terorisme yang terjadi di Eropa, namun tidak satupun dari serangan teroris tersebut yang terafiliasi atau terinspirasi dari organisasi terorisme [3]. Lalu di tahun 2012, terdapat 219 serangan terorisme di benua Biru tersebut, namun hanya 6 saja dari total serangan tersebut yang dilandasi motif keagamaan [4]. Di Eropa, pada tahun 2013 terdapat 152 serangan terorisme, dan hanya 2 saja yang merupakan serangan bermotif keagamaan [5]. Kemudian di tahun 2010, masih di Eropa, terdapat 249 serangan terorisme dan hanya 3 saja yang menurut Europol merupakan serangan yang dilandasi motif Islam [6]. Selanjut, di tahun 2009, ada sebanyak 294 serangan terorisme yang terjadi di Eropa, dan hanya satu saja yang berhubungan dengan Islam [7].

Tore Bjørgo (2005) dalam bukunya yang bertajuk "Root Causes of Terrorism: Myths, reality and ways forward" [8], mengklasifikasikan penyebab tindakan terorisme menjadi beberapa tingkatan, sebagai berikut:

• Structural Causes
Tingkatan ini mendeskripsikan bahwa tindakan terorisme disebabkan oleh hal-hal yang bersifat struktural, seperti ketidakseimbangan demografi, globalisasi, modernisasi yang terlalu cepat, struktur, dan lain sebagainya.

• Facilitator (or accelerator)
Tingkatan ini melihat bahwa penyebab teroris ialah hal-hal yang ada di lingkungan sang pelaku (keadaan lingkungan), misalnya saja keberadaan senjata, lemahnya kontrol negara di suatu wilayah terotorinya, dan lain sebagainya.

• Motivational Causes
Pada tingkatan ini penyebab tindakan terorisme di lihat dari motif personal sang pelaku (psikologis).

• Triggering Causes
Level ini melihat bahwa tindakan terorisme terjadi karena dipicu oleh sebuah peristiwa yang membuat marah para calon pelaku terorisme, misalnya saja saat tentara AS melakukan kekejaman terhadap orang-orang Iraq, atau perlakuan Israel terhadap bangsa Palestina.

Cara lain untuk membuktikan bahwa di ranah intelektual banyak metode dalam melihat penyebab terorisme ialah dikemukakan oleh Lia dan Skjølberg (2000), mereka mengklasifikasikan penyebab tindakan terorisme menjadi beberapa level, yakini individual dan grup atau kelompok, level masyarakat dan bangsa, dan level sistem internasional [9].

Selain itu, perdebatan lainnya ialah mengenai perbedaan terorisme model baru dan lama. Crenshaw (2006) menjelaskan bahwa terdapat tiga sudut pandang yang membedakan terorisme baru dan lama yang ia rangkum dari berbagai pendapat para pakar. Pertama, terorisme model baru dianggap berbeda dalam hal motivasi dan tujuannya dengan model lama. Kedua, efek destruksi dan mematikannya serangan terorisme juga merupakan pembeda antara model baru dan lama. Ketiga, terdapat backing-an organisasi di dalam terorisme model baru [10]. 

Munculnya konsepsi terorisme model baru berangkat dari asumsi bahwa berbagai tindakan terorisme yang terjadi saat ini dianggap berbeda dengan terorisme model lama. Mereka menganggap bahwa berbagai penelitian terdahulu terkait isu ini tidak bisa menjelaskan fenomena terorisme model baru tersebut. Maka seakan-akan terorisme yang terjadi sekarang adalah sebuah hal yang baru yang teralienasi dari terorisme pendahulunya. Mereka yang menganggap bahwa fenomena terorisme yang terjadi saat ini berbeda dengan terorisme model lama seakan bernafsu ingin membuang khazanah keilmuan tentang terorisme yang telah banyak dikumpulkan oleh para peneliti terdahulu ke tong sampah, karena dianggap sudah tidak bisa menjelaskan fenomena terorisme saat ini.

Namun dalam tulisan yang sama, Crenshaw mengkritik konsepsi "terorisme model baru" tersebut. Ia mengungkapkan bahwa dalam kajian psikologi hipotesis terorisme model baru ini begitu diragukan. Ia telah melakukan riset untuk membandingkan konsepsi terorisme model baru dan lama dan dia (Crenshaw) berakhir pada kesimpulan bahwa keduanya tidak ditemukan perbedaan. 

Terorisme yang dilakukan dulu dengan sekarang pada dasarnya sama dan tidak memiliki perbedaan yang mencolok. Misalnya saja para pencetus dan pengemban hipotesis terorisme model baru menganggap bahwa yang membedakan antara terorisme saat ini dengan masa lalu ialah terletak pada motivasinya. Namun Crenshaw menganggap bahwa asumsi tersebut tidak bisa diterima dalam studi psikologi, karena menurutnya tidak ada perbedaan yang mendasar antara motivasi terorisme model baru dan lama.

Dalam penelitian yang sama, Crenshaw juga menjelaskan bahwa motif setiap serangan terorisme sangatlah kompleks, tidak seragam dan sesederhana seperti yang banyak digaungkan saat ini. Dibutuhkan penelitian yang serius untuk menjelaskan isu ini, yang mencakup hubungan antara individu dan kelompok, sistem kepercayaan, kondisi yang mendukung dalam mengarahkan suatu masyarakat kepada kekerasan, benang merah antara agama dan politik, penjajahan, ketidakadailan, kemiskinan, dan peran identitas dalam sebuah konflik. Tanpa adanya perbandingan berbagai jenis terorisme yang terjadi dewasa ini, maka sudah dipastikan bahwa nafsu kita untuk memahami terorisme hanya akan berujung pada mimpi belaka.

Oleh karena itu mari kita kembali membuka perdebatan tentang fenomena terorisme ini. Karena menutup perdebatan intelektual dalam isu ini sama dengan mencederai prinsip-prinsip ilmu pengetahuan yang menjadi pondasi dasar perdabatan kita saat ini. Atau lebih para seperti yang telah saya sebutkan di atas, kita membuang khazanah keilmuan tentang isu ini ke tempat sampah. Lalu apa bedanya hal tersebut dengan doktrin?

Referensi

[1] https://www.fbi.gov/stats-services/publications/terrorism-2002-2005
[2] http://thinkprogress.org/world/2015/01/08/3609796/islamist-terrorism-europe/
[3] https://www.europol.europa.eu/content/press/eu-terrorism-situation-and-trend-report-te-sat-2012-1567
[4] https://www.europol.europa.eu/content/te-sat-2013-eu-terrorism-situation-and-trend-report
[5] https://www.europol.europa.eu/content/te-sat-2014-european-union-terrorism-situation-and-trend-report-2014
[6] https://www.europol.europa.eu/content/publication/te-sat-2011-eu-terrorism-situation-and-trend-report-1475
[7] https://www.europol.europa.eu/content/publication/te-sat-2010-eu-terrorism-situation-trend-report-1473
[8] Tore Bjørgo. [2005]. "Root Causes of Terrorism: Myths, reality and ways forward". New York: Routledge
[9] B. Lia dan K.H.W. Skjølberg. [2000] "Why Terrorism Occurs: A Survey of Theories and Hypotheses on the Causes of Terrorism". Norway: Kjeller (FFI/Rapport–2000/02769). Didownload melalui  http://www.nupi.no/IPS/filestore/02769.pdf, pada 3/1/2018
[10] Martha Crenshaw. [2006]. "In Tangled Roots: Social and Psychological Factors in the Genesis of Terrorism", ed. Jeff Victoroff. NATO Security through Science Series, Human and Societal Dynamics, Vol. 11. Amsterdam: IOS Press