Jumat, 18 Februari 2022

Deutsche Welle (DW): Mempertanyakan Komitmen Demokrasi Media Milik Pemerintah Jerman

Ilustrasi: Wikimedia.org

Dua jurnalis asal Palestina, Zahi Alawi dan Yasser Abu Muailek dipecat dari Deutsche Welle (DW), media massa berbagai platform yang didanai Pemerintah Jerman. Keduanya dipecat lantaran postingan mereka di media sosial pada 2014 yang baru-baru ini mengemuka, ditafsirkan sebagai bentuk “Antisemitisme”. Antisemitisme sendiri merupakan sebuah sikap permusuhan terhadap kaum Yahudi.

Kabar pemecatan itu diumumkan DW pada pekan lalu. Di samping keduanya, DW juga memecat tiga jurnalis lain dari dinas bahasa Arabnya setelah penyelidikan dua bulan atas tuduhan Antisemitisme.

Postingan dimaksud merujuk pada unggahan di Facebook oleh Alawi dan Abu Muailek yang mengutuk serangan Israel di Gaza yang diblokade pada tahun 2014 lalu.

"What the terrorist state of Israel is doing to the Palestinians is a repeated Holocaust (Apa yang dilakukan negara teroris Israel terhadap orang-orang Palestina adalah Holocaust yang berulang)," tulis Alawi pada laman Facebook pribadinya di Juli 2014, seperti mengutip pada laman Trtworld.com, Kamis, 17 Februari 2022.

Media ini sudah lama terkenal amat bias dalam memberitakan Konflik Palestina-Israel. Manajemen DW berpendapat bahwa Jerman memikul tanggung jawab khusus atas kejahatan Nazi yang dilakukan terhadap orang Yahudi selama Perang Dunia II.

Tahun lalu, dewan redaksi DW mengirim panduan pelaporan baru kepada staf yang membatasi laporan berita bermuatan kritis terhadap Israel. Lebih jauh, media yang didanai lewat pajak orang Jerman itu tengah berencana untuk mempertajam kode etiknya dengan lebih fokus pada Antisemitisme, hak Israel untuk eksis dan tanggung jawab sejarah Jerman.

 

Penyelidikan Dilakukan Tak Imparsial

 

Maram Salem, salah satu jurnalis Palestina yang dipecat DW mengatakan, penyelidikan DW atas tuduhan Antisemitisme terhadap dirinya tidak dilakukan secara imparsial. Dia mengecam keras manajemen DW atas perlakuan tidak adil dan dianggapnya telah menyensor kebebasan berbicara.

"Saya bukan Antisemitisme. Saya adalah seseorang yang percaya pada kebebasan berbicara," kata Maram Salem.

Menurutnya kritik terhadap kebijakan Israel tidak sama dengan Antisemitisme. Wartawati itu menyebut bahwa tuduhan Antisemitisme sering digunakan untuk membatasi kebebasan berekspresi dan membatasi kritik terhadap kebijakan dan tindakan Israel.

 

Komitmen DW pada Kebebasan Berbicara

Melalui laman resminya, DW menuliskan bahwa:

 

Our aim is to foster a peaceful, stable global community. Therefore, we focus on topics such as freedom and human rights, democracy and good governance, free trade and social justice, health education and environmental protection, technology and innovation.”

 

Our offerings convey Germany as a liberal democracy rooted in European culture, providing a forum for German (and other) points of view on important topics, with the aim of promoting understanding and the exchange of ideas among different cultures and peoples.”

 

Kemudian ada juga:

 

We believe that journalism, education and culture improve people's lives and that reliable, unbiased information and universal access to knowledge are fundamental rights.”

 

Pada intinya segala pemanis bibir itu mengukuhkan komitmen mereka pada nilai-nilai Eropa yang kini berusaha mereka ekspor, yakni demokrasi dan kebebasan. Melihat perlakukan DW terhadap lima jurnalis tersebut, penulis justru mempertanyakan komitmen mereka akan nilai-nilai yang diklaim sebagai darah dalam tradisi mereka.

Sejauh mana media yang didirikan sejak 1953 itu memegang prinsip yang selama ini digembar-gemborkannya. Atau jangan-jangan semua itu tak lebih dari basa-basi belaka, watak Nazi tetap mendarah daging pada lembaga itu.


Sabtu, 05 Februari 2022

Mengelabui Pikiran Massa

Ilustrasi: Pixabay.com


Daria, wanita 28 tahun yang telah lebih dari enam tahun menjalani pekerjaannya sebagai buruh pabrik salah satu pabrik minumam dalam kemasan di kawasan industri, Cikarang, Kebupaten Bekasi, Jawa Barat. Wajah bugarnya kini berganti dengan tatapan lelah seakan mengabarkan kepada dunia ia menyerah.

Empat tahun lalu Daria dipinang Reza, pria yang usianya terpaut tiga tahun lebih tua darinya. Tak ubahnya Daria, Reza juga seorang buruh di pabrik komponen elektronik. Reza terbilang lebih beruntung dari Daria, ia mendapatkan upah setara UMR. Sementara gaji istrinya masih seperempat lebih rendah darinya.

Tak butuh waktu lama, selang setahun menikah mereka langsung dikarunia seorang putri yang kini masih balita. Di tengah kesibukannya sebagai buruh, Daria dituntut untuk mengurusi putrinya yang sedang membutuhkan perhatian besar seorang ibu.

Setiap pagi, Daria menyiapkan berbagai kebutuhan anak dan suaminya. Sampai jarum jam tepat berada di angka tujuh, aktivitasnya di rumah tak akan ia tinggalkan. Setelah itu Mahnaz, nama putri semata wayangnya, akan dititipkan ke Bu Darmin. Dia seorang wanita paruh baya yang sejak cuti melahirkan Daria berakhir, telah diamanahi mengasuh Mahnaz.

Bukan tanpa alasan Daria memilih Bu Darmin untuk mengasuh Mahnaz. Selain lakunya yang selama ini terkenal lembut, Bu Darmin juga belum dikarunia momongan setelah lebih dari dua dasawarsa menikah. Tempat tinggal yang tak jauh darinya menjadi pertimbangan tambahan mengapa Daria mempercayakan Mahnaz kepada wanita itu.

Pekerjaan Daria di pabrik amat menguras energinya. Pikiran untuk berhenti dari rutinitas di sana bukan tidak pernah ia pikirkan. Berkali-kali Daria bersama Reza menimbang untuk berhenti dari pekerjaannya. Terutama ketika Mahnaz sakit beberapa bulan lalu, ia sudah bulat untuk menanggalkan gawainya itu.

Namun keadaan memaksa Daria mengurungkan niatnya. Gaji suaminya yang pas UMR sementara mereka masih harus membiayai hidup orang tua masing-masing membuat Daria amat berat meletakan pekerjaannya selama ini. Daria dan Reza masing-masing masih memiliki orang tua, bahkan Reza masih mempunyai adik dua orang yang baru menginjak bangku SMA dan SMP.

Orang tua Reza yang hanya buruh tani membuat dia mau  tidak mau turut membiayai kebutuhan orang tua ditambah kedua adiknya. Tak ubahnya Reza, Daria pun masih memiliki orang tua yang lengkap. Dahulu ayah Daria juga seorang buruh pabrik, namun sejak insiden kecelakaan yang membuat lengan ayahnya putus, ayah Daria dirumahkan dengan kompensasi yang tak seberapa.

Kini untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari orang tua Daria setiap pagi berjualan nasi kuning di depan gang. Penghasilan dari sana tentu saja tak cukup, untuk itulah Daria juga saban bulan mengirimkan uang untuk membantu kehidupan mereka.


Basa-Basi Hypocrisy


Suatu ketika Daria melihat pimpinan perusahannya tampil di salah satu stasiun TV daerah. Hal itu tak mengherankan baginya mengingat sang Bos bukan kali pertama tampil di sana. Usianya yang belum genap 30 tahun tapi sudah mempunyai lebih dari seribu karyawan membuat dia menjadi sosok idola lokal. Terlebih lagi sampai saat ini dia masih lajang membuat banyak kaum Hawa membidiknya.

Dalam sebuah perbincangan di stasiun TV tersebut, si Bos mengaku di usianya yang terhitung muda dia membanggakan diri lantaran telah berhasil menciptakan lebih dari seribu lapangan kerja. Namun mendengar ucapan sang Bos ditambah gayanya yang menurut Daria kelewat percaya diri, dia justru bergumam bahwa menurutnya menciptakan ribuan lapangan kerja namun mengupah pekerjanya dengan gaji murah bukanlah sebuah prestasi. Itu merupakan "sebuah perbudakan dengan gaya".

Menciptakan lapangan kerja namun menggaji para pekerja dengan upah yang untuk memenuhi "kebutuhan hidup yang layak" saja tidak cukup merupakan eksploitasi. Daria yakin ketika mengutarakan hal itu di depan publik akan menuai banyak kontroversi. Sejumlah pihak akan menganggap semua itu "bergantung pada gaya hidup," pihak lain bilang "cukup tidak cukup itu hanya masalah kepandaian kita dalam bersyukur".

Tapi kendati Daria tak pernah mengenyam bangku kuliah, dia dibekali kemampuan bernalar yang cukup tinggi ketimbang teman-teman di pabriknya. Hal itu terbaca kala masa-masa awal Daria hijrah ke kota dan menjadi buruh. 

Saat itu selang tiga bulan diterima kerja, kawan-kawan di pabriknya menuntut kenaikan upah buruh. Bertepatan dengan May Day, ribuan buruh tumpah ke jalan meminta supaya gaji buruh dinaikkan.

Demo besar-besaran itu berujung rusah, massa buruh banyak yang kena pukul aparat. Sebagian dari mereka bahkan diamankan polisi karena dianggap provokator.

Daria saat itu menjadi satu dari ribuan buruh yang turun ke jalan untuk mendesak pemerintah menaikkan upah minimum para  buruh. Usaha Daria dan ribuan buruh lainnya tampaknya membuahkan hasil, tepat awal tahun upah mereka meningkat 5 persen.

Di saat buruh lain menyambut dengan gempita kenaikan upah tersebut, Daria justru sebaliknya. Ia mengeja cukup lama untuk membandingkan kenaikan harga berbagai rupa barang dengan meningkatnya upah buruh.

Perempuan yang terkenal periang itu menghitung dengan saksama pengeluarannya dalam sebulan pascakenaikan upah minimum. Hasilnya ia bandingkan dengan pengeluaran di bulan-bulan sebelumnya. Dari analisis sederhana itu, Daria menemukan bahwa pengeluarannnya meningkat 10 persen dibanding sebelum ada kenaikan upah minimum.

Dari sana ia menarik kesimpulan bahwa kenaikan upah hanya kamufalse untuk menutupi kenaikan haraga barang-barang. Mayoritas buruh, menurut Daria tak menyadari siasat ini. Mereka justru gembira di saat penghasilan sesungguhnya mereka mengalami penurunan.


Dorong Wanita Bekerja


Ilustrasi: Pxhere.com


Belenggu tradisi beserta agama dianggap menjadi faktor utama bagi kaum Hawa untuk bekerja. Tapi saat ini semua itu dibongkar, wanita bekerja bukan lagi hal tabuh di masyarakat kita.

Citra "wanita karier" bahkan dianggap lebih mulia ketimbang mereka yang kesehariannya mengurusi rumah tangga. Tercipta dogma di tengah masyarakat bahwa wanita yang bekerja memiliki kasta lebih tinggi dari sesama kaumnya yang memilih tinggal di rumah. Hal ini cukup ironis, di mana di saat aktivis perempuan mendorong wanita untuk bisa setara dengan pria tapi di saat yang sama wanita yang memilih tinggal di rumah justru dipandang menjadi kelas "nomor dua".

Munculnya pandangan semacam ini di tengah benak publik amat disayangkan. Mengingat peran wanita yang memilih "tetap di rumah" tak kalah penting bahkan jauh lebih penting ketimbang peran mereka di sektor publik. Dikotomi seperti ini justru kontraproduktif dengan semangat "pemberdayaan wanita". 

Daria membaca bahwa maraknya perempuan bekerja lebih banyak didorongan bukan atas kehendak pribadi, namun lebih kepada tuntutan hidup yang kian mengimpit.  Daria tak habis pikir jika mengingat wanita yang sering kali dari para istri pejabat mendorong kaumnya sesama perempuan untuk bekerja. 

Dorongan serupa juga diembuskan oleh mereka yang melabeli diri sebagai aktivis perempuan. Padahal menurut Daria jika dirinya dilahirkan sebagai anak orang kaya, ia lebih memilih menghabiskan waktu bersama anaknya ketimbang setiap hari bergelut dengan deru mesin pabrik.

Daria menyakini bahwa perempuan layak mendapatkan hak dan penghormatan. Tapi mendorong kaumnya untuk bekerja menurut dia sesuatu yang tak masuk akal. Bagaimana tidak, pengalamannya di pabrik selama sekian tahun membawanya untuk memahami betul bagaimana tak layaknya tempat itu bagi kaum Hawa.

Pekerja perempuan yang setiap saat bercucuran keringat adalah pemandangan biasa yang sering dilihatnya. Menahan letih bahkan kerinduan dengan si buah hati adalah makanan biasa bagi mereka. 

Menurut pikiran Daria, daripada mendorong wanita untuk bekerja mengapa mereka tak meminta agar gaji di negeri ini bisa menghidupi paling tidak satu keluarga. Daria mencontohkan gaji suaminya yang hanya setara dengan upah minimum yang ditetapkan pemerintah. Dengan istri dan anak yang masih balita saja menurut hitung-hitungan Daria gaji suaminya tak cukup. Apalagi ditambah mereka berdua dipaksa turut menghidupi keluarganya di rumah.

Daria acap kali mengeluhkan hitungan yang dipakai pemerintah untuk menentukan upah minimum kepada teman-temannya. Tapi mereka hanya menjawab "syukuri saja apa yang ada".

Daria merasa ada yang ganjil dengan penggunaan kalimat tersebut. Daria mengakui bahwa "syukur" adalah sikap wajib yang mesti dimiliki setiap manusia. Namun dalam konteks itu menurutnya serasa ada penyalahgunaan penggunaan kalimat syukur.

Menurut Daria syukur tidak boleh menolelir adanya prilaku yang dianggapnya sudah menjurus ke arah penindasan. Daria terkadang penasaran andai Nabi Muhammad, tokoh idolanya hidup di era ini, maka apa yang akan beliau lakukan melihat sistem upah minimum yang untuk membiayai kebutuhan hidup satu keluarga saja tak cukup.

Padahal menurut Daria dirinya sudah begitu sederhana. Sejak kali pertama menikah hingga saat ini Daria merasa tak pernah beli makanan di luar. Untuk kebutuhan makan sehari-hari bagi keluarga kecilnya, Daria memilih untuk memasaknya sendiri. 

Dia paling anti dengan membeli makan di luar karena bisa menguras uang belanjanya. Sebagian perbandingan belanja lauk pauk untuk dua hari Daria hanya merogoh Rp 70 ribu. Sementara jika harus beli di luar angkanya bisa membengkang 180 ribu untuk dua hari. Dengan asumsi satu kali makan untuk satu orang Rp 15 ribu. Ini belum menghitung kebutuhan untuk anaknya.


Menaikkan Upah Minimum Suami


Daria dalam pikirannya tetap bersih kukuh bahwa mestinya mereka yang mendukung pemberdayaan perempuan juga harus menyuarakan agenda utama untuk menaikkan upah para pekerja dengan standar yang layak. UMR yang selama ini menjadi patokan banyak perusahaan dalam memberikan upah kepada pekerja, menurut Daria ditafsirkan secara keliru. 

Huruf M dalam UMR mewakili kata "minimum", secara bahasa jelas minimum bermakan paling sedikit atau paling rendah.

Namun fakta ini seakan digerus oleh opini umum bahwa UMR samadengan upah standar. Padahal standar dengan minimum jelas jauh berbeda. Minimum dalam UMR adalah biaya minimal yang dikeluarkan oleh seseorang untuk bisa menjalani hidup di suatu tempat selama sebulan.

Maka ketika seseorang bicara mengenai UMR Cikarang atau UMR DKI Jakarta, maka dia bukan sedang membahas standar biaya hidup di Cikarang atau Ibu Kota. Melainkan Biaya paling minimal yang bisa dikeluarkan untuk menopang hidup di tempat tersebut.

Maka, pikir Daria amat aneh jika Indonesia memberlakukan UMR secara merata tanpa memandang apakah pekerja ini sudah mempunyai anak dan istri. Karena pada dasarnya UMR hanya menghitung kepala bukan keluarga.

UMR, kata Daria telah memaksa dengan sistematis suami-istri di Indonesia untuk bekerja. Supaya bisa menghidupi keluarga mereka. Amat malang bagi perempuan tinggal di negeri ini, pikir Daria dalam hatinya.

Sabtu, 27 November 2021

Semua Ingin Menyontek Jokowi: Pejabat Kita Ingin "Dicap" Membumi


Ilustrasi: Pxabay.com


Turun di tengah masyarakat, melakukan kegiatan yang biasa dilakukan orang-orang kecil mulai dari memungut sampah, membersihkan tempat umum, turun ke got, kali dan aktivitas sejenisnya. Pemandangan ini dalam beberapa tahun terakhir tampaknya populer disontek pejabat-pejabat kita.

Entah serius atau hanya untuk menarik simpati massa, mereka kadang terlihat konyol melakukan hal yang bukan semestinya dikerjakan mengingat statusnya. Saya percaya bahwa tak ada yang salah dengan pejabat terjun di pekerjaan-pekerjaan "bawah," tapi ayolah apakah itu memenuhi unsur efisiensi dalam mengentaskan atau paling tidak mengurangi masalah di tengah masyarakat? 

Seperti organisasi bukankah negara ini disusun juga mengikuti kaidah pembagian kerja? Di mana peran pejabat mestinya berkutat pada kebijakan, bukan pencitraan dengan terjun mengurusi hal-hal remeh temeh.

Laku ini memang populis di mata publik. Ituah sebabnya pola ini ramai digandrungi para pejabat yang mengemis perhatian pada masyarakat.

Padahal dengan kebijakan berbagai persoalan yang kerap mereka ributkan bisa teratasi. Kalau memang mereka malas untuk menyusun kebijakan, ya sudah silakan turun dan kerjakan pekerjaan yang selama ini dianggap lebih baik, seperti memunguti sampah, menyapu jalananan, turun ke got, bersih-bersih solokan. Daripada makan gaji buta mengerjakan pekerjaan yang bukan tupoksi mereka, bukankah lebih baik posisi mereka digantikan dengan orang-orang yang kompeten.

Saya mengeja, gejala para pejabat yang lata untuk bertindak populis itu tak terlepas dari kondisi kebatinan masyarakat Indonesia selama ini. Penguasa-penguasa di Indonesia dari dahulu memang menjaga jarak dengan rakyat bawah.

Penguasa seakan bintang nan jauh di sana, alhasil ketika muncul sosok yang dekat dengan mereka. Apalagi ikut mengerjakan hal-hal yang biasa dilakukan masyarakat bawah, akhirnya secara emosional perilaku ini menggiring pada perasaan kekaguman.

Terobosan Jokowi

Jokowi tercatat sebagai pejabat publik yang berhasil mempopulerkan strategi ini. Sejak menjabat jadi wali kota Solo, mampir menjadi gubernur Ibu Kota sampai awal-awal menjabat orang nomor satu di Indonesia, sosok pengusaha mebel ini kerap menampilkan sisi kesederhanannya dengan berbagi rupa.

Kendati wajah kesederhanannya banyak dikritik lantaran tak bersambut dengan berbagai kebijakan saat menjadi presiden, namun Jokowi kembali berhasil merebut tahkta presiden Indonesia untuk periode kedua.

Strategi Jokowi ini mungkin yang mengilhami banyak pejabat lain untuk melakukan sesuatu yang dinilai sederhana namun tak substantif. Ketika mereka mempunyai akses yang luas untuk memperbaiki kondisi masyarakat lewat kebijakan, justru banyak yang memilih tampil di lapangan mengerjakan sesuatu yang amat kecil dampaknya bagi publik.

Memilih untuk memungut sampah di jalan, menyapu trotoar, membersihkan got atau kali, dan tindakan semisal lainnya di saat para pejabat itu mampu melakukan sesuatu dengan dampak yang lebih luas, menurut saya adalah tindakan yang bodoh tapi dengan cara terhormat. Kegiatan itu semua memang bagus dilakukan, tapi jika mereka hanya mencitrakan demikian sementara luaran dalam kebijakan seakan jauh api daripada panggang buat apa bukan?


Sabtu, 23 Oktober 2021

Batasan dalam Persahabatan

 

Ilustrasi: Pxfuel.com


Saya ingat betul kata-kata Mas Azis, guru sekaligus karib saya bahwa dalam pertemanan pilihannya hanya ada dua, "diwarnai atau mewarnai". Terdengar seperti mengekang, tapi saya perhatikan di banyak kasus pilihannya memang seperti itu.

Dari kedua pilihan tersebut keduanya baik manakala kita berteman dengan lingkungan baik. Pepatah zaman dahulu menyebutkan bahwa berteman dengan penjual wangi-wangian, maka kita akan kecipratan wanginya. Pun kala kita berteman dengan mereka yang bergumul dengan kotoran, kita pun akan kecipratan baunya. Berteman dengan tukang pewangi akan menyebarkan wewangian ke tubuh kita, paling tidak kendati tubuh penuh dengan bau badan aroma wangi-wangian itu sedikit banyak menutupinya.

Pada kasus itu artinya kita diwarnai karena wewangian menyelimuti warna kita yang dasarnya bau keringat. Si penjual wangi-wangian adalah pihak yang mewarnai kita dengan semburan harum dari produknya. Produk wewangian itu bisa berupa sikap dan teladan.

Kita boleh berteman dengan siapa pun, pepatah di atas bukan berarti membatasi kita untuk berkawan, namun perlu diingat bahwa sahabat adalah mereka yang mau kita warnai atau mewarnai kita dengan kebaikan.

Batasan

Kendati saya bersahabat dengan orang, tetap saja saya mempunyai batasan dalam hal-hal yang menurut saya ranah pribadi. Misalnya dengan istri saja, saya amat jarang mengenalkan istri dengan sahabat-sahabat saya. Bukan tanpa alasan itu semua dilakukan demi melindungi istri.

Jika dilihat dari sudut pandang saat ini sikap saya mungkin dianggap bentuk pengekangan, tapi istri saya tak menafisrkan begitu. Dia paham bahwa hal itu tak lain demi kebaikan.

Banyak yang salah kaprah dengan mencampuradukan pergaulan kawan seorang suami dengan istrinya. Misalnya saja kala seorang suami gemar mendaki gunung atau hobi apa pun, tak jarang mereka mengikutsertakan istri mereka bersama kawan-kawannya. Saya cukup anti mencampuradukan istri saya dengan kawan, bahkan untuk ngobrol, apakah sikap saya over protective? Jika ada yang mendefinisikan seperti itu boleh saja, tapi lebih dari itu saya hanya ingin menjaganya.

Seperti layaknya sesuatu yang berharga, kita ingin menyimpannya di tempat yang paling aman dari jangkauan siapa pun. Seperti itu pulalah dasar filosofi saya menempatkan istri di tempat teraman.

Senin, 11 Oktober 2021

Pelajaran dari Penjajahan Bukan Hilangnya Persatuan, Tapi Kanker yang Menyerupai Daging


Ilustrasi: Wikimedia Commons

Ketidakkompakan bangsa Indonesia menjadi mantra ampuh para guru Sejarah di kelas untuk menjelaskan alasan bangsa Indonesia bisa terjerumus dalam penjajahan. Pernyataan para guru Sejarah tak ada salahnya, namun bagi kacamata saya hal itu kurang lengkap.


Ada faktor dominan yang tetap relevan sampai kapan pun sebagai alasan sebuah kaum dapat terjajah. Adalah kanker di tubuh kaum itu sendiri. Kanker ini menyerupai daging yang kaum itu sendiri lambat menyadarinya, atau bahkan tak teridentifikasi sama sekali.


Adalah para pengkhianat, sebuah sel kanker yang sebetulnya berasal dari daging namun memilih untuk melawan daging itu sendiri. Para pengkhianat ini berasal dari darah yang sama, berpakaian dengan cara yang sama, bahkan bicara dengan bahasa-bahasa yang sama, namun niatnya bagaikan serigala yang mencoba menerkam mangsa.


Mereka kerap ditemui pada bangsa-bangsa terjajah. Faktor ekonomi dan kuasa tentu menjadi pendorong lahirnya tindakan mereka. Melacurkan diri bagi penjajahan adalah kehormatan bagi mereka.


Jepang menjadi satu dari sekian aktor yang memanfaatkan mereka. Kita semua tahu persis bahwa Indonesia pernah mengalami deraan penjajahan dari Negeri Matahari Terbit itu. Usai Belanda menyerah tanpa syarat, Kekaisaran Jepang mengambil alih kekuasaan di wilayah yang kita kenal saat ini sebagai Indonesia.


Di Indramayu, Jawa Barat, Jepang yang pada awalnya datang dengan "iklan" untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan itu menggunakan oknum kiai untuk mematahkan segala gerakan perlawanan rakyat Indramayu. Eddie Soekardi, mantan tentara Republik Indonesia dalam sebuah wawancara di Bandung, 7 September 2005, menggambarkan Jepang sebagai aktor yang licik.


Eddie mengatakan, mula-mula mereka dianggap pahlawan oleh pribumi karena bisa mengusir Belanda. Lambat laun mendekati para kiai dan mengangkat para tokoh republik sebagai juru bicara program-program pemerintah Jepang, dari Romusha (Kerja paksa), wajib militer, Momy Kyoosyuto (serah padi). 


"Rakyat tertipu dengan kebaikan Jepang, namun lambat laun tersadarkan oleh rasa senasib sebagai manusia terjajah, adanya penindasan, kelaparan, pemerkosaan (budak seks), dan kekerasan yang tak kunjung henti. Hal ini berdampak pada perlawanan rakyat. Termasuk di Indramayu yang menentang pengumpulan padi secara paksa oleh pihak Jepang," kata Eddie dalam Protes Sosial Petani Indramayu Masa Pendudukan Jepang (1942-1945) oleh Wahyu Iryana.


Praktik ini dibuktikan pada Maret 1944. Di mana saat itu terjadi protes petani di Desa Kaplongan, Karangampel karena permasalahan wajib serah padi kepada Jepang. Wahyu Iryana mengisahkan, tentara Jepang yang bermarkas di Cirebon ketika mendengar kabar tersebut langsung datang dengan satu kompi truk melalui Desa Kedungbunder, ditambah satu truk polisi bersenjata lengkap menuju Desa Kaplongan.


Diceritakan bahwa Desa Kaplongan sudah memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi. Semalaman tidak ada yang tidur, kaum perempuan dan anak-anak mereka diungsikan ke tempat yang lebih aman. Pemuda-pemuda digerakkan untuk menggali jalan satu-satunya yang menghubungkan Desa Kaplongan dengan Karangampel dan Desa Kedokanbunder. Semua pohon besar mereka tebang dan dibentangkan di tengah jalan sebagai perintang.


Mereka beramai-ramai pergi ke rumah Kiai Sulaiman di Desa Srengseng [terletak di selatan Desa Kaplongan, termasuk Wilayah Kecamatan Kerangkeng]. Kiai Sulaiman dianggap masyarakat sebagai orang sakti, untuk meminta doa serta jimat kekebalan. 


Pendek kata mereka sudah bertekad bulat untuk berjihad fisabilillah melawan orang yang dianggap mereka kafir (Jepang) yang mau merampas harta milik masyarakat Desa Kaplongan. Malahan iman mereka pun hendak dirampas pula, karena mereka disuruh bersujud ke arah kiblat yang berlawanan dengan arah kiblat umat Islam.


Pagi-pagi buta dari jauh terdengar suara deru truk yang kian lama kian mendekati Desa

Kaplongan. Masyarakat Desa Kaplongan segera bersiap dengan segala macam

senjata yang ada seperti bambu runcing, golok, tombak dan keris, yang masing-masing sudah diberi jampi oleh Kiai Sulaiman.


Hingga pada suatu titik suara truk tidak terdengar lagi, tanda truk itu telah berhenti dan pasukan musuh telah turun dari truk, karena tidak bisa melalui jalan yang digali. Mereka bersiap-siap sambil menyerukan takbir tiga kali, menantikan segala kemungkinan yang terjadi.


Saat itu suasana begitu sepi, namun kesunyian itu dipecahkan oleh suara letusan senapan mesin yang tak kunjung berhenti yang memuntahkan pelurunya. Rakyat Desa Kaplongan sendiri menyadari hal itu. Tak lama pertempuran yang tidak seimbang segera terjadi, banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak.



Kemudian di bulan selanjutnya, 3 April 1944 Camat Karangampel, Majanidasastra mendatangi Desa Kaplongan untuk untuk merampas padi milik Haji Aksan yang tidak mau mengindahkan perintah pamong desanya. Berhubung Haji Aksan tetap saja menolak perintah menyerahkan padinya, Camat Karangampel memerintahkan polisi untuk menangkapnya.


Haji Aksan diambil dari rumahnya oleh polisi untuk selanjutnya dibawa ke Balai desa di mana Majanidasastra sudah menunggu. Akan tetapi rakyat Desa Kaplongan yang melihat pemimpinnya ditangkap, dengan spontan berteriak-teriak, ”jangan tangkap dia, dia orang baik, dia tidak bersalah.”


Mendengar teriakan rakyat, polisi yang membawa Haji Aksan segera melepaskan tembakan peringatan. Akan hal itu membuat rakyat menjadi gelap mata, rakyat Desa Kaplongan pun pergi berbondong-bondong ke balai desa. 


Suasana di balai desa menjadi panik seketika. Dalam suasana yang gawat seperti itu, Majanidasastra masih sempat menghamburkan kata-kata menghasut yang makin menambah meluapnya amarah masyarakat Desa Kaplongan. Rakyat langsung berhambur memenuhi balai desa, polisi mengeluarkan pistolnya, susana menjadi ricuh. 


Manakala rakyat tahu bahwa peluru yang ada di polisi sudah habis, semua langsung menyerbu. Polisi menjadi panik karena keadaan begitu benar-benar membahayakan. Aparat polisi segera melarikan diri dari balai desa. Pak Camat sangat ketakutan, setelah tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat dalam menghadapi kemarahan rakyat Desa Kaplongan, Majanidasastra pun hendak lari menuju warung Pak Dasman, yang letaknya tidak jauh dari balai desa. Tiba-tiba sepotong batu bata tepat mengenai kepala Pak Camat. Pak Camat langsung pingsan. Untung saja rakyat masih menghargai H. Aksan agar jangan sampai membunuh dan mengeroyok Camat, sebab kalau tidak nyawa Pak Camat tidak akan tertolong.



Aparat Polisi yang melarikan diri, tetap tidak bisa melepaskan diri dari kepungan rakyat banyak, dihujani lemparan batu sehingga terjatuh dan pingsan. Rakyat sudah merasa aman ketika pak Haji Aksan sudah terlepas dari cengkeraman polisi, sehingga tidak jadi dibawa ke pendopo Indramayu.


Para korban yang kebanyakan polisi dibiarkan berguling di tanah, rakyat Desa Kaplongan segera bubar. Kemudian sore harinya, para korban pelemparan batu oleh masa Desa Kaplongan akhirnya dibawa ke Karangampel. Dari pihak polisi hanya tiga orang luka-luka sedangkan dari pihak rakyat Desa Kaplongan ada empat orang yang meninggal akibat ditembak aparat. Mereka adalah: 1. Abu Hasan, 2. Tobur, 3. Abdul Kadir, 4. Khozin.


Pertempuran berlangsung kurang lebih dua jam, sebuah truk Jepang dihancurkan rakyat. Tentara Jepang mengundurkan diri ke Karangampel, dengan tujuan menghindari bentrok fisik yang kedua kalinya sehingga korban tidak banyak berjatuhan. Untuk membuat keadaan aman kembali Jepang mendatangkan Kiai Abbas dari Pesantren Buntet Cirebon dan Kiai Idris dari Karangampel dengan maksud meminta perundingan dengan rakyat.


Rombongan Kiai dikawal oleh tentara Jepang dan aparat polisi dengan membawa bendera putih, sebagai tanda meminta berdamai dan berunding. Rakyat Desa Kaplongan menerima kedua tokoh kiai itu dengan rasa curiga, namun atas rasa takzim rakyat Desa Kaplongan menaruh hormat kepada para tokoh kiai yang dibawa Jepang tersebut. Kemudian semuanya berkumpul di balai desa.


Awal Jebakan Maut


Kiai Abbas menjelaskan, bala tentara Nippon meminta berunding dan perundingan itu akan dilaksanakan di Karangampel (Kecamatan Kaplongan). Rakyat Desa Kaplongan bersedia mengirim wakilnya untuk berunding di Karangampel, akan tetapi rakyat Desa Kaplongan mengajukan syarat, bahwa selama para pemimpin mereka melakukan perundingan di Karangampel, kedua tokoh ulama yang dibawa Jepang harus ditinggal di Kaplongan sebagai sandera. 


Akan tetapi persoalan tidak selesai sampai itu saja, karena para tentara Jepang mengirim

intelijennya ke Desa Kaplongan untuk menyelidiki siapa saja para pelaku pemberontakan. Sederetan nama-nama tokoh penting di Desa Kaplongan telah masuk daftar hitam tentara Jepang. Setelah keadaan tenang satu demi satu para pemimpin pemberontakan ditangkap tanpa sepengetahuan rakyat Desa Kaplongan. Mula-mula Kiai Sidik ditangkap, kemu-

dian menyusul:


1. H. Ali

2. H. Aksan

3. H. Abdul Gani

4. H. Maksum

5. H. Hanan

6. H. Nurjaman

7. H. Zakaria

8. Sutawijaja

9. Ki Pinah

10. Ki Karsa.


Para pemimpin pemberontakan dibawa ke Karangampel untuk kemudian dilanjutkan ke Pendopo

Indramayu. Kemudian tiba giliran Kiai Sulaiman yang telah lanjut usia ditangkap pula oleh Jepang dan beliau dibawa ke Residen Cirebon. Sebagian di eksekusi mati, sebagian lagi dibebaskan kembali.


Cuplikan sejarah di atas memberikan kita peta yang menunjukkan bahwa dalam bentangan sejarah pihak-pihak “OPRESOR” kerap menggunakan tokoh-tokoh di masyarakat untuk melancarkan agendanya. Para tokoh ini tak mau ambil pusing dengan keberpihakannya, mereka hanya peduli akan kesenangan dan perutnya.


Minggu, 04 Juli 2021

Ketidakpercayaan Publik Bukan Muncul dari Lahan Tandus



Ilustrasi: Pxfuel.com





Bismillah…

Sepanjang jalannya pandemi Covid-19 saya mengamati masih banyak masyarakat yang tak mempercayai adanya virus Corona. Urusan hal yang tidak bisa dilihat memang sukar untuk dipaksakan agar dipercayai. Tak usah jauh-jauh, keberadaan Tuhan saja masih banyak pihak yang menegasikan.



Adalah saya, Yopi Makdori yang hampir setiap hari bergelut dengan kabar soal Covid-19. Sebagai pemuda yang banyak hidup di lingkungan klenik sebenarnya saya agak janggal melihat banyak masyarakat yang sarat akan klenik justru cenderung tidak mempercayai keberadaan virus asal Wuhan, China itu.

Bagaimana tidak, mereka yang percaya klenik justru banyak yang membantah keberadaan Covid-19. Padahal jika menggunakan akal, klenik itu hal yang tak bisa diraba, tingkatannya justru lebih terindra Corona ketimbang hal yang berbau santet menyantet. Tapi mengapa mereka bukan saja ragu, tapi sudah di tahap "tidak percaya".

Rasa ketidakpercayaan ini memiliki konsekuensi yang begitu besar. Karena bakal bermuara pada pengabaian pada usaha-usaha pencegahan penularan Covid-19. Memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dan segala upaya untuk menekan penularan bakal diabaikan.

Jika secara luas dilakukan oleh masyarakat yang tengah dilanda pandemi, imbasnya tentu saja bakal fatal. Dan hari ini kita menyaksikan panen ketidakpercayaan itu.

Lantas apa yang membuat mereka tidak percaya?

Kawan, beberapa hari yang lalu saya mendengar cerita istri soal perdebatan teman semasa SMA-nya menyangkut Covid-19. Satu pihak merupakan warga biasa, satu lagi merupakan tenaga kesehatan yang mau tak mau harus bergelut dengan pasien Corona.

Perdebatan itu dipantik oleh sebuah video yang menampilkan sekelompok anak tengah di-swab (entah PCR atau Antigen). Video itu kata istri saya begitu emosional bagi kami yang mempunyai balita. Dalam video itu anak-anak seakan kesakitan saat alat swab masuk ke lubang hidung mereka. Entah apa yang dirasakan anak-anak, tapi dari raut dan tangisannya mereka seakan-akan merasakan sakit yang cukup serius.

Dalam narasinya, pihak yang membantah keberadaan Corona menuliskan protesnya, ia mengkritik apa yang dilakukan oleh petugas kesehatan terhadap anak-anak. Menurutnya anak-anak itu sehat (negatif), namun pasca di-swab justru positif.

Saya dan istri tak tahu dari mana dia bisa memastikan jika anak-anak itu awalnya sehat, tapi yang saya yakini bahwa ia pun hanya mencomot video itu dari media sosial dan menarasikan ulang apa yang dinarasikan penyebar video tersebut soal Covid-19. Kurang lebih isinya pasti senafas.

Berhubung teman SMA-nya ada yang tenaga kesehatan, ia pun mendapat sanggahan pedas dari temannya. Intinya teman dia atau pihak yang percaya Covid-19 mengatakan bahwa Covid-19 itu nyata dengan berbagai bukti yang ia paparkan. Alhasil dia yang tak percaya Covid-19 itu memblokir mereka yang berusaha mengkritiknya soal anggapannya tentang Corona.

Saya tidak heran akan sikap seperti ini, saya amat memaklumi sikap dia. Pergaulan dengan itu-itu saja, membaca tidak, menelaah enggan, menonton tontonan yang bermanfaat sungkan jadilah seperti itu. Pendapatnya hadir dari prasangka. Dan ia tidak bisa mentolerir siapa pun yang berseberangan dengan asumsi dangkalnya itu.

Kawan-kawan tahu apa yang lebih parahnya? Kata istri saya, ia sama sekali tak mau mengakui kesalahannya. Setelah temannya diblokir, ia justru melemparkan kekesalan di dinding Facebook-nya.

Tak ada kesan ia membaca dan merenung apakah pendapatnya salah. Kendati teman-temannya yang protes itu para tenaga kesehatan, ia tetap kukuh dengan argumennya.

Tapi terlepas dari kasus itu, saya yakin ada sebab lain yang membuat banyak orang begitu enggan untuk mempercayai keberadaan Covid-19. Spekulasi adanya konspirasi akhirnya mencuat. Ada sebagian di antara mereka yang menduga bahwa Corona hanya akal-akalan para petugas medis untuk mendulang pundi-pundi rupiah. Mereka seakan begitu menaruh curiga kepada rumah sakit dan para tenaganya.

Asumsi ini tentu saja berangkat dari telaah parsial mereka. Dalam benaknya, dengan adanya pagebluk ini para tenaga kesehatan diuntungkan karena banyak orang yang diwajibkan untuk melakukan tes Covid-19. Belum lagi aliran dana dari pemerintah.

Ada juga sebagian orang yang mengatakan Corona ini hanya alat bagi pemilik kuasa untuk menghimpun utang dengan pretensi penanganan wabah.

Mengapa mereka bisa berpikir sejauh ini? Kita tak bisa menampikan adanya kekecewaan publik terhadap kerja tenaga kesehatan jauh sebelum pandemi ini berlangsung. Di daerah saya ada sebuah rumah sakit pemerintah yang pelayanannya jauh dari kata manusiawi.

Orang tua saya beserta paman mengalami hal ini. Saat ayah dalam kondisi koma beberapa tahun silam, setibanya di rumah sakit, kami tak langsung diterima. Mereka, para tenaga kesehatan yang mestinya responsif dengan kedatangan pasien justru bersikap sebaliknya. Mereka seakan mengabaikan kami dan justru memilih bercanda dengan sesamanya. 

Untuk menjemput pasien dari mobil saja, mesti dilakukan oleh kami (pihak keluarga). Ketika diprotes oleh paman, salah satu dari mereka bilang, "Ya namanya milik pemerintah Pak, bukan swasta." Artinya bagi mereka pasien meninggal pun tak apa-apa, tak ada rasa bersalah yang keluar dari mulut mereka.

Rumah sakit ini konon [saya sebut begini karena saya belum bisa membuktikan secara nyata] sering membuat ibu melahirkan dengan cara sesar pada meninggal. Meninggalnya memang bukan di rumah sakit, melainkan beberapa hari pasca keluar dari rumah sakit.

Hal semisal juga terjadi di rumah sakit swasta. Lagi-lagi saya mesti mencontohkan apa yang saya alami di daerah. Pada Mei lalu, saya terserang demam disertai batuk pilek. Saya pun nekat ke rumah sakit selain untuk meminta surat sakit buat kantor, saya juga ingin meminta obat lebih andal berhubung parasetamol yang sejak awal dikonsumsi seakan tak memberikan efek.

Saat itu saya baru sakit sekitar dua hari. Dan saat diperiksa tanpa ba bi bu salah satu petugas medis di sana mencoba mengambil sampel darah saya. Padahal urusan administrasi belum juga dirampungkan (saya masuk di IGD pagi hari buta).

Saya bilang ke petugas tersebut, untuk apa suntikan itu? Dia jawab bahwa saya akan dicek laboratorium. Saya tak paham persis bagaimana idealnya menangani pasien, tapi sepengalaman saya untuk dicek laboratorium, petugas kesehatan mesti meminta izin dengan sang pasien atau keluarganya. 

Tapi itu tidak, petugas tanpa berkata apa-apa hanya menanyakan gejala yang saya rasakan langsung menjulurkan jarum suntiknya. Hendak dicek penyakit apa pun saya tidak diberi tahu. Saya pikir idealnya begini, "Pak dari gejala yang bapak alami sepertinya bapak terinfeksi Covid-19, bagaimana kalau kita tes Antigen (atau rapid tes karena lewat darah)? Kemudian kalau reaktif bapak bisa memastikan lewat tes PCR," bukankah lebih bijaksana seperti itu?

Saya akhirnya menolak untuk dites, mengingat sakit saya yang baru dua hari. Hemat saya, mestinya mereka memberikan saya obat dasar terlebih dahulu. Jika masih timbul gejala, okelah baru kita cek laboratorium.

Bayangkan jika kasus saya dialami oleh orang yang mohon maaf "tidak tahu utara tidak tahu selatan". Pasti ketika pihak rumah sakit tanpa basa basi melakukan cek laboratorium, mereka sungkan untuk menolaknya. Karena mereka pikir itu memang yang harus dilakukan.

Memang tak ada yang salah dengan prosedur macam itu, tapi jika pasien hanya sakit ringan dan itu pun baru dua hari sakit, ada urgensi apa sehingga pasien buru-buru mesti cek laboratorium? Kan kita paham etika, paling tidak kalaupun itu urgen mestinya mereka minta izin terlebih dahulu kepada pasien. Kalau saya menurut saja dengan permintaan mereka, saya yakin tagihan rumah sakit saya saat itu bakal membengkak.

Tak lama setelah itu, tepatnya pada malam Idulfitri kemarin ibu mertua saya mesti dilarikan ke rumah sakit yang sama. Herannya pelayanan yang diberikan berbeda. Misalnya untuk mendapatkan satu suntikan saja petugas kesehatan mesti memastikan kami, pihak keluarga telah merampungkan administrasi. Berhubung saat itu pasien menggunakan BPJS.

Mereka pun mesti minta izin untuk memberikan suntikan. Bahkan setelah saya merampungkan segala administrasi, pasien tak kunjung disuntik. Ini jelas pemandangan kontras dengan pengalaman sebelumnya yang saya alami. Apakah yang menyebabkan perbedaan penanganan itu? 

Perilaku-perilaku seperti ini yang dilakukan pihak rumah sakit tentu saja memupuk rasa tidak percaya masyarakat kepada mereka. Di benak publik bisa saja mereka hanya rumah penguras duit.

Persepsi seperti ini akan semakin teguh melekat jika apa yang dilakukan rumah sakit itu diulangi secara terus menerus. Maka ketika pandemi melanda, ditambah banyak masyarakat melihat bahwa tenaga kesehatan diuntungkan dari fenomena ini, jadilah muncul anggapan bahwa Covid-19 merupakan konspirasi. Para pasien "di-Covid-kan" agar rumah sakit untung. Dan narasi-narasi semacamnya.

Saya yakin apa yang saya alami itu hanya dilakukan oleh "oknum". Tapi dengan kerendahan hati saya, saya ingatan kepada siapa pun kalian tak bisa serta merta mencap "publik bodoh" gegara menuding Covid-19 sebuah konspirasi. Kita harus mengakui ada sebagian pihak yang memanfaatkan pandemi ini demi mendulang rupiah. Sebut saja apa yang terjadi di Bandara Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara pada akhir April lalu.

Di mana saat itu petugas tes Covid-19 dari salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang membukakan stan di lokasi justru berbuat curang. Mereka meraup miliaran rupiah dengan mendaur ulang alat tes Covid-19. Peristiwa-peristiwa semacam ini mesti diakui membuat kepercayaan publik terhadap tenaga kesehatan makin terjungkal.


Jadi ketika kita temui siapa pun yang masih belum percaya Covid-19, maka jangan dihujat tapi kata orang-orang bijak bilang, rangkullah dan berikan mereka pemahaman. Karena bisa saja sikap tidak percaya itu muncul bukan karena kurangnya penjelasan ilmiah, tapi pengalaman buruk mereka sebelumnya dengan rumah sakit atau tenaga medis.



Sabtu, 12 Juni 2021

Konsisten untuk Tidak Konsisten

 


Ilustrasi: Pixabay.com


Tak lama dari ini, publik tak kenal ampun menghujamkan kritik bahkan cibiran dengan nama yang kini tertaut dengan TikTok. Dia adalah Bowo, bagi mereka yang beberapa tahun silam cukup aktif memantau media sosial atau berita, dipastikan tak asing dengan nama tersebut.


Nama Bowo belum bisa lepas dengan TikTok, sebuah aplikasi pembuat video pendek yang kini tengah digandrungi sejumlah kalangan. Bahkan tak sedikit instansi pemerintah yang menggunakan aplikasi ini.


Lain dulu lain sekarang, begitulah ungkapan yang pantas untuk aplikasi besutan perusahaan asal China itu. Dulu mereka yang bermain TikTok harus siap menerima label kekanak-kanakkan atau alay, dan sebutan-sebutan semacamnya. Kini sekelas menteri pun ikut menjajal aplikasi ini.


Sekaliber Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim pun pernah mencicipi untuk membuat video di sana. Kendati masih menggunakan akun instansi.


Padahal kita mafhum bahwa Nadiem terbilang cukup ogah bermain-main dengan media sosial. Meskipun karena mungkin desakan sana-sini, akhirnya ia membuat akun media sosial pertamanya yang diumumkan ke publik, yakni Instagram.


Bowo yang bisa dibilang pionir TikTokers di Tanah Air awalnya harus rela menelan cibiran dari warganet di Indonesia yang terkenal "kejam". Acara meet and great yang mematok harga sampai Rp 80-100 ribu menjadi puncak hujatan terhadapnya.


Citra TikTok kala itu masih tak sebagus kini. Label-label seperti disebut di atas masih melekat di diri para pengguna TikTok.


Dari sana saya berpikir memang tak ada yang konsisten di dunia ini [keimanan tetap harus konsisten]. Akhirnya saya jatuh pada anggapan bahwa siapa pun yang melandaskan sikapnya pada hal-hal yang bersifat bendawi atau materil, maka harus siap dengan ketidakkonsistenan dunia.


Ya, lihat contoh TikTok, saya yakin banyak di antara pengguna TikTok saat ini yang dulu mencibir Bowo. Saya yakin pula banyak di antara kita yang melihat TikTok tak memberikan manfaat apa pun.


Tapi tunggu dulu, jika anda seorang pengusaha maupun berkutat dengan industri kreatif, maka TikTok tak bisa dipandang remeh. Itu sebabnya banyak perusahaan media maupun instansi pemerintahan yang berbondong-bondong merambah TikTok.


Musababnya lantaran tren pengguna TikTok yang semakin tahun semakin meningkat. Dan saya rasa sudah banyak masyarakat yang membuang persepsi negatif terhadap aplikasi ini, seperti saat era Bowo merajai aplikasi tersebut.


Lihat bagaimana tidak konsistennya kita. Saya rasa semua bakal diombang-ambing ketidakpastian. Seperti yang disebut di atas, jika kita masih sudi melekatkan kebenaran pada hal-hal yang bersifat material, maka kepastian hanyalah ketidakpastian itu sendiri.


Ada orang yang tak goyang diterpa apa pun karena keyakinanya akan sebuah hal membuat dirinya kukuh bagaikan gunung yang menunjam ke bawah tanah. Lain halnya apabila akar itu tercerabut, seseorang bakal dengan mudah "ikut-ikutan". Bahkan sesuatu yang dulu baginya dianggap menjijikan, namun karena dikemudian hari anggapan publik mengatakan bahwa hal itu bagus dan keren, maka mau tidak mau ia bakal turut larut dengannya.


Lantas dengan rekaman sejarah seperti itu, masihkah anda menyandarkan benar salah pada konsensus publik? 

Minggu, 30 Mei 2021

Cecak di Komputer: Sebuah Renungan untuk Berhati-hati dalam Mengadili

 


Ilustrasi: Dok Pribadi


Tak ada yang istimewa dengan salah satu sekolah swasta di pojok barat Kabupaten Cirebon. Bangunannya yang terbilang sederhana menegaskan bahwa memang tak ada yang spesial dari dalam sana.

Pagi di awal Februari, hujan tak cukup kuat menyurutkan semangat siswa/siswi di SMA itu untuk belajar. Pagi itu, kelas dimulai dengan pelajaran TIK, sebenarnya Matematika. Namun lantaran Pak Jono urung datang, siswa di kelas X B itu berinisiatif memanggil Pak Burhan, guru TIK di sana untuk menggantikan kelas Matematika.

Kebetulan pelajaran TIK saat itu adalah jadwal untuk praktik. Adalah Takim, salah satu murid di kelas itu sebagai satu dari empat anak yang kebetulan kebagian menjadi kloter pertama untuk praktik mengetik surat di komputer.

Takim anak yang tak pernah neko-neko, tapi sayang sikap malasnya bisa disebut keterlaluan. Tapi di atas itu semua, ia merupakan pribadi yang baik.

Karena tak ada seorang pun yang memiliki komputer di kelas itu, mereka yang baru kali pertama memegang komputer tampak canggung. Hal itu dipertegas dengan kebimbangan yang menghiasi muka Takim.

Belum juga jari-jari Takim menari-nari di atas papan ketik, CPU di komputer yang ia pakai langsung mengeluarkan asap. Entah kenapa, tanda tanya seketika menghinggapi benak Takim dan kawan-kawannya. 

Saat itu Pak Burhan tengah mengambil tinta di ruang Tata Usaha, jadi ia tak melihat Takim saat menyalakan komputer. Melihat CPU di komputer Takim berasap, ia segera menanyakan latar belakang hal itu terjadi.

Karena Takim masih diliputi rasa panik, ia tak bisa dengan lancar menerangkan sebab hal tersebut terjadi. Takim hanya bilang ia tak tahu apa-apa.

"Tiba-tiba saja keluar asap," kata Takim ke gurunya.

Pak Burhan tak mau ambil pusing soal alasan komputer yang dipakai Takim mengeluarkan asap. Ia memilih jalur pintas dengan menaruh tuduhan terhadap Takim bahwa hal itu disebabkan ulahnya.

Mendengar itu, Takim pun tak bisa membela diri. Ia tak pernah tahu bagaimana caranya menyelamatkan diri dengan berargumen.

"Besok teknisinya datang, nanti kamu harus mengganti kerusakannya ya," ucap Pak Burhan sambil meninggalkan Takim.

Selepas sekolah, Takim membicarakan hal itu kepada ibunya. Mendengar masalah yang dihadapi anaknya, ibu Takim tak terbebani sedikit pun. Mengingat tabungan yang dimilikinya bisa lebih dari cukup bahkan untuk membeli komputer baru.

Takim memang berasal dari keluarga sederhana, tapi ia juga tak pernah kekurangan untuk membeli apa pun. Bahkan untuk kendaraan sepeda motor.

Esoknya Pak Burhan memanggil Takim. Takim sudah berada di ruangannya, di sana Pak Burhan mengatakan bahwa alasan komputer kemarin yang dipakai Takim berasap lantaran ada cecak yang masuk ke CPU.

"Kamu tak usah membayarnya," ucap Pak Burhan.

Dengan kaku, Takim merespons pernyataan itu dengan ucapan terima kasih dan segera meninggalkan ruangan Pak Burhan.

Sepanjang perjalanan dari ruangan Pak Burhan hingga ke kelasnya yang berjarak sekitar 100 meter, Takim memikirkan satu hal. Ia merasa ada pelajaran yang amat berharga yang bisa dipetik dari Cecak masuk ke CPU itu.

Menurutnya "dituduh" melakukan kesalahan, meskipun hanya hal kecil itu cukup menyakitkan. Karena ia tahu rasa sakitnya dituduh tanpa terlebih dulu dicari tahu kesalahan sebenarnya, ia berjanji untuk tidak melakukan keteledoran seperti gurunya.

"Saya akan mencari tahu sebelum memutuskan," ucap Takim pelan.

Jumat, 28 Mei 2021

Menawarkan Harapan, Lagu Lama Bagi Kesatria dan Begal

Ilustrasi: Gambar Layar Sebuah Video di YouTube.



"Tahukah Anda bahwa selama ini Indonesia membeli minyak lewat Singapura? Bayangkan harga minyak jika kita beli lewat perusahaan di Singapura harganya USD 50 per barel. Sementara jika kita beli langsung ke negara-negara Arab tak lebih dari USD 35 per barel.

Terdapat selisih USD 15 tiap barelnya jika kita membeli minyak ke Singapura. Sementara konsumsi minyak di Indonesia pertahunnya mencapai 1 juta barel. Jika selisih USD 15 dikalikan 1 juta, maka akan ditemui angka yang cukup fantastis, yakni USD 15 juta.

Jika dengan asumsi kurs dolar terhadap rupiah sebesar Rp 14 ribu, maka angkanya mencapai Rp 210 miliar. Selama ini kita melakukan pemborosan sebesar Rp 210 miliar pertahunnya. Jika dana sebesar ini buat membangun sekolah, rumah sakit dan lain-lain, berapa banyak yang bisa kita bangun setiap tahun?"

Pernyataan itu hanya reka adegan semata. Anda yang mungkin sering dikibuli dengan harapan-harapan palsu kerap mendengar narasi semacam itu.

Ya, biasanya kerangka kata-kata semisal itu kerap dipakai oleh mereka yang memberikan angin harapan kosong kepada target yang hendak mereka sasar.

Menyodorkan narasi-narasi yang terdengar logis tapi sebenarnya tak berdasar. Mereka tak akan peduli bagaimana bisa mewujudkan itu. Yang mereka pikirkan bahwa target bisa melahap umpan yang diberikan menggunakan harapan-harapan itu.

Motifnya macam-macam, mulai dari politik sampai harta. Tapi formatnya akan tetap sama, memberikan umpan harapan yang sebenarnya tak berdasar.

Cara ini memang tak semuanya dipakai oleh "begal", sang "kesatria" atau orang yang sungguh-sungguh ingin memberdayakan juga menggunakan format ini. Tapi entah kenapa, saya eja lebih banyak begal yang menggunakannya.

Memang begitu, munculnya peribahasa "serigala berbulu domba" bukan tanpa sebab. Setiap keburukan pasti akan ditolak oleh publik, tapi jika dibalut dengan harapan serta kebaikan, maka responsnya akan berbeda.

Semisal begini, minuman keras (miras) sudah pasti haram bagi umat Islam. Pendirian pabrik miras tentu ditolak bagi mereka yang waras. Tapi lain responsnya jika ceritanya dibalut dengan "kebaikan" yang diada-adakan. Lebih mantap lagi menggunakan emosional. Udah teknik manipulasi paling josss…

Akan ada bumbu-bumbu begini, "Pabrik Miras Dapat Mendongkrak Perekonomian Desa Gedong Gincu", "Miras Warisan Lokal Desa Gedong Gincu yang Mesti Dilestarikan". Atau bumbu emosional begini, "Ibu Dulmin Berhasil Sekolahkan Anaknya hingga S11 Berkat Pabrik Miras Sederhana".

Dari semula 100 persen menolak, maka setelah ditaburi bumbu-bumbu itu mulai ada yang berpikir, "Oh iya ya, ini bagus nih buat ekonomi. Emangnya kalau warga Desa Gedong Gincu itu kelaparan mereka para pemabuk agama itu bakal peduli?" Semakin intens bumbu-bumbu itu disuarakan, maka akan semakin banyak target yang mulai mengevaluasi pemahamannya akan miras.

Lambat laun akan banyak publik yang permisif dengan miras dan pabrik miras itu sendiri. Bahkan saat mabuk mereka akan bilang, "Cuy, kita udah bantu perekonomian Desa Gedong Gincu nih," sambil memegang botol miras.

Singkatnya sebagian masyarakat setuju pendirian pabrik miras di Desa Gedong Gincu. Lantas apakah setelah pabrik didirikan, janji kesejahteraan itu terpenuhi? Sejahtera buat mabuk iya!

Skenarionya pasti begini, awal-awal pabrik dibangun hampir seluruh tenaga kerja berasal dari warga lokal. Pertama pasti kendor, tak akan banyak tingkah perusahaan. Loh kok Yopi paham betul, pengalaman ya? Tidak, saya suka membaca pola, dan di mana pun biasanya template-nya sewarna.

Kemudian mereka mulai berpikir menggemukkan keuntungan dengan berbagai cara. Sehingga terkadang warga lokal menjadi tidak betah, misalnya diupah secara tidak layak.

Dengan standar hidup yang makin tinggi, warga lokal menganggap upah di pabrik miras sudah tak mencukupi lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Alhasil mereka keluar dari sana mencari penghidupan yang lebih layak.

Bagi pabrik miras hal itu bukan masalah besar, mereka bisa mendatangkan anak-anak yang lebih profesional dengan gaji yang lebih tinggi dari warga lokal. Dengan begitu mereka bisa menyingkirkan tenaga warga lokal tanpa perlu mengatakannya secara langsung.

Bagi pabrik miras, tenaga baru lulusan selevel sekolah menengah atas ini lebih bisa diandalkan. Pabrik mereka akan jauh lebih efisien ketimbang tetap mempertahankan warga lokal kendati gajinya kecil.

Sampai di sana warga lokal hanya bisa gigit jari. Mimpi kesejahteraan ekonomi hanya dinikmati secuil orang saja. Sisanya hidup banting tulang demi abok-abokan.

Skenario di atas memang tidak pakem, tapi yang pasti berbagai harapan yang dijanjikan tak akan pernah terwujudkan.

Begitulah begal menjual harapan, mereka menaburkan percikan air kepada rakyat yang kehausan. Mereka bilang, "Ikut saya, bersama saya persediaan air lebih banyak". Nyatanya air tak didapat sengsara membelenggu bahkan ketika mati.

Ingat, Anda jangan mudah dikibuli dengan orang-orang yang berkata "muluk". Setelah tujuan didapat, mereka tak pernah ingat apa yang diucap.

Kamis, 27 Mei 2021

Anda Sering Bilang Dunia Bukan Hanya Hitam dan Putih, Saya Kasih Tahu Contohnya!

Ilustrasi: Dok Pribadi di Tegal Racak, Cariu, Kab. Bogor. Pagi di 30 April 2021.


Sudah lama tak meninggalkan goresan serius di kanvas ini. Sejak kedatangan anak pertama hidup terasa tertuju padanya.


Hidup saya persis seperti sebuah penggalan syair dalam lagu When It's Time-nya Green Day.


"The first day you came into my life. My time ticks around you".


Belum lagi digempur sakit yang membuat derap semangat dalam nadi seakan terhenti. Sampai-sampai ada sejumlah pesan dari sahabat dan saudara yang belum sempat saya balas karena kehilangan semangat.


Tapi Alhamdulillah pasca lebaran, kondisi berangsur pulih. Semoga ini menjadi awal untuk menggenjot semangat baru.


Baik, kali ini saya terangsang untuk membahas Hitam dan Putih. Tepatnya saya ingin "ngomongin orang-orang". Karena bukan hanya "satu orang" maka saya menyebutnya orang-orang.


Tapi mereka akan saya tulis dengan nama inisial. Sebagai klu, supaya kita paham dan generasi selanjutnya pun paham tulisan ini hendak membahas siapa, kata kuncinya adalah "Nissa Sabyan I Love You So Much, Nissa Sabyan Tetap Semangat".


Ya kita akan membahas perseteruan AT dengan Master C, DC serta U. Semoga kawan-kawan ada gambaran siapa dibalik sejumlah inisial tersebut.


Memang cukup panjang jika dirunut sedari awal kronologi perseteruan di antara mereka. Singkatnya begini, Mas AT ini setelah vakum cukup lama dari dunia hiburan kembali dengan "branding" artis saleh. Atau bisa disebut artis yang agamis.


Setidaknya kesan seperti itu yang saya baca dari kebangkitan Mas AT di panggung hiburan nasional. Mas AT ini kerap pula mengajak warganet untuk membaca ayat suci Al Quran. Tak berhenti sampai di situ, Mas AT mengajak masyarakat untuk mengunggah bacaan Qurannya ke media sosial.


Tagline andalannya "Baca Al Quran, Rekam, Posting". Tagline ini sudah mewakili semangat Mas AT untuk mengajak warganet membaca Al Quran untuk kemudian mengunggahnya ke media sosial.


Dengan tingkahnya seperti itu Mas AT bukan tanpa konsekuensi, ia cukup banyak menerima rundungan. Bahkan di beberapa meme foto dia saat tengah mengaji dijadikan lelucon.


Ajak Jangan Maksiat


Mas AT juga kerap mengajak warganet untuk tidak maksiat. Terlebih lagi memposting konten-konten maksiat. Menurut Mas AT daripada posting konten maksiat lebih baik posting konten ngaji.


Di sini awal perseteruannya dengan sejumlah pihak. Mas AT menyinggung Master C dan DC serta U atas beberapa unggahannya yang menurut Mas AT dicap "maksiat". Pernah suatu waktu Mas AT diundang Master C untuk bertemu enam mata bersama DC juga.


Pertemuan itu dibalut dalam sebuah siniar atau podcast.  Di sana Mas AT memang kelimpungan untuk mempertahankan argumennya soal tudingan maksiat kepada Master C dan DC. Siniar itu, menurut saya tak lebih dari sebuah acara untuk menjatuhkan Mas AT di mata publik.


Begitupun dengan Mas U yang dituduh Mas AT mengunggah konten-konten maksiat. Saya tak tahu apakah tuduhan Mas AT ini hanya gimik atau sungguhan. Namun yang pasti Mas U sendiri terkesan sudah begitu dongkol dengan Mas AT. 


Tak Merugikan Orang Lain


Banyak pihak yang memantau pertikaian di antara mereka. Entah tak ada kerjaan atau memang menarik, tapi di luar itu semua pertikaian di antara mereka justru memunculkan kesan di benak masyarakat oh Si A ini "good people" dan Si B "bad people". Saya sering menyebutnya oposisi biner.


Di mana seakan-akan dalam pertikaian tersebut ada pihak right dan wrong. Nyatanya demikian? Belum tentu.


Opini umum menganggap Mas AT-lah sosok bad person di sini. Di mana ia dianggap menggunakan instrumen agama untuk menggaet perhatian publik. Ia juga menyenggol sejumlah pihak, termasuk Mas U, Master C dan DC mengenai konten mereka yang dianggap maksiat.


Dalam sebuah waktu, Mas AT berkesempatan untuk kongkow bareng DC yang dianggapnya menyebar konten maksiat. Pertemuan itu berlangsung berkat undangan tim dari Master C.


Dari kacamata saya, dalam pertemuan itu Mas AT benar-benar dibuat malu. Master C yang dikenal pakar dalam ilmu tentang mental manusia terlihat begitu piawai memainkan pernyataan Mas AT untuk menjerat lehernya sendiri.


Di sana, Mas AT pun tampak gelagapan bahkan cenderung tidak konsisten dengan omongannya. Semisal saat Master C terlihat menjebak dengan membuat DC membayar fee bagi Mas AT karena telah menjadi tamu dalam acara Master C.


Saat dikatakan bahwa fee tersebut dari hasil "seksi-seksian", Mas AT malah berkilah bahwa ia tetap berpikir positif bahwa duit yang di tangannya itu didapat DC berkat jualan pecel lele. Padahal DC mengakui bahwa duit itu hasil seksi-seksian, namun Mas AT tak bisa berkutik.


Padahal jika lebih tenang, Mas AT bisa balik menskakmat mereka berdua. Karena ini akan sangat bersinggungan dengan agama, dan saya bukan pakar agama, mari kita merujuk ke ahlinya.



Dibayar Pakai Duit Haram, Boleh?



Sebelumnya penting saya tekankan supaya tak ada perdebatan dalam pernyataan di paragraf ini. Saya ingatkan bahwa kita belum membahas apakah hasil uang dari DC itu haram atau halal. Namun membaca pernyataan Master C, ia terkesan ingin memojokkan Mas AT dengan menunjukkan kepada publik bahwa apakah Mas AT akan mengambil uang dari DC yang diakui DC sendiri dari hasil "seksi-seksian".


Begini kurang lebih percakapan mereka:


Master C: Kalau dia (DC) emang gitu, hasilnya dari seksi-seksian.


DC: Iya dari seksi-seksian.


Mas AT: (Skakmat) [Dia bergumam tak jelas sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya].


Merujuk pada pernyataan Ustaz Firman Arifandi, Lc., MA., ia menyatakan bahwa seseorang yang menerima gaji dari pelaku riba, asalkan pekerjaan mereka tak berhubungan dengan riba maka mereka tak kecipratan dosa riba. Memang konteksnya berbeda di mana yang satu duit bersumber dari riba, yang satu lagi dari hasil "seksi-seksian". Namun intinya sama, yakni sama-sama duit panas (saya berusaha menggunakan bahasa selembut mungkin).


"Sekarang pertanyaannya kalau ada pembantu rumah tangga di mana tuannya itu kerja  di dalam praktik riba tersebut, nah bagaimana apakah dia apakah masuk dalam hal ini (terkena dosa riba)? Kalau kita baca keterangan-keterangan hadis, ternyata orang-orang tersebut tidak tergolong orang-orang yang kecipratan riba, Insya Allah tidak," ucap Ustaz Firman.


Ustaz Firman melanjutkan, sama halnya dengan pedagang Siomay yang mendapatkan pelanggan pelaku riba. Si pelanggan itu membayar Siomay dengan duit hasil riba, hal itu menurut Ustaz Firman tidak membuat duit yang diterima tukang Siomay menjadi haram.


Beda halnya jika itu bukan "gaji" melainkan "pemberian". Ustaz Khalid Basalamah memiliki pandangan bahwa jika kita tahu sumber pemberian itu bukan dari asal yang halal, maka harus dihindari.


"Pemberian tidak boleh diterima jika kita tahu sumbernya memang dari uang haram, uang korupsi, uang curian, uang yang didapat dari riba dikasih kepada kita. Itukan gak boleh diterima kalau 'jelas-jelas' dari sumber yang haram," tekan Ustaz Khalid.


Pertanyaannya kemudian apakah duit yang diterima Mas AT itu "gaji" ataukah hadiah atau pemberian? Dalam video yang sama Mas AT mengungkapkan bahwa ia dijanjikan Rp 3,5 juta sebagai bayaran menjadi narasumber dalam kongko dengan Master C di kanal YouTube-nya. Artinya duit itu sebagai bentuk gaji bagi Mas AT, bukan hadiah atau ujug-ujug pemberian cuma-cuma kepadanya.


Arti Maksiat Terlewat


Perseteruan Mas AT dengan DC Mas U dan Master C membuat sedikit perdebatan di antara warganet. Mungkin terlalu berlebihan jika disebut debat, saya lebih suka menyebutnya justru "konsensus" di tengah publik bahwa asalkan kita tak mengambil hak orang lain segala usaha itu layak dicap "halal".


Saya bukan dalam kapasitas menilai apakah pekerjaan yang dilakukan Mas U dan DC yang disebut Mas AT telah memposting konten maksiat itu sebagai pekerjaan yang "baik". Justru saya ingin mengerucutkan pertanyaan, "Apakah pernyataan Mas AT soal postingan maksiat yang ditujukan kepada mereka itu benar?" Atau Mas AT keliru.


Saya akui bahwa cara penyampaian Mas AT dan gayanya selama ini cukup membuat risi. Namun tatkala ia melontarkan pernyataan yang saya tidak tahu niat dibalik itu semua, dengan menyebut bahwa postingan orang-orang yang disebutkan itu adalah konten maksiat, maka hemat saya yang harus dilawan adalah pernyataan Mas AT bukan sikapnya.


Jika pernyataan Mas AT soal konten maksiat yang dituduhkannya itu keliru ya memang mesti diluruskan, bukan menyerang sisi lainnya. Kendati saya akui banyak sikapnya yang selama ini kurang elok.


Menimbang apakah konten yang dituduhkan Mas AT itu sebuah maksiat atau bukan mestinya menjadi pertanyaan mendasar supaya isunya tak meleber ke mana-mana. Hal ini juga penting, jangan sampai sesuatu yang salah tapi gegara dilakukan oleh tokoh idola lantas kita langsung memvonis sesuatu itu benar. Dan malah melempari "orang" yang menyiarkan kebenaran. Kan kacau jika seperti ini.


Akhirnya saya belajar banyak dari kasus tersebut, bahwa pada era ini kita samar mengeja benar-salah. Mengaku benar tanpa landasan, menyalahkan seakan-akan paling suci.


Baiknyakan segala sesuatu dikembalikan lagi ke ahlinya. Dan di sini para ahli (agama) dituntut untuk memberikan pencerahan kepada publik. Dalam perjalanan pasti ada perdebatan tapi kita pasti akan paham mana ahli yang bicara menggunakan ilmu, dan mana yang menggunakan nafsu. Dengan catatan kita mencari kebenaran, bukan pembenaran.